“Syukur itu mental dan karakter orang kaya. Maka jika ingin kaya, tumbuhkan mental kaya… karakter kaya.”
– Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf

Ziarah Itu Cermin, Bukan Tempat Meminta
Ziarah bukan sekadar mendatangi makam. Ia adalah perjalanan ke dalam diri.
Dan di dalam diri itulah, letak semua kekayaan — atau kemiskinan — kita.
Saat seseorang datang ke makam wali dengan niat meminta, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan mentalitas batin yang masih miskin: menggantungkan harapan dunia kepada makhluk yang sudah fana, melupakan bahwa Allah-lah yang Maha Memberi.
Namun ketika seseorang datang dengan niat bersyukur — mengucapkan terima kasih karena pernah ada seorang hamba Allah yang hidupnya menjadi cahaya bagi umat — maka ia sedang menyatakan kepada alam:
“Aku cukup. Aku bersyukur. Aku hadir bukan untuk mengambil, tapi untuk menghormati.”
Inilah mentalitas orang kaya.
Kaya bukan karena punya banyak. Tapi karena mampu berkata:
“Apa yang aku miliki hari ini… sudah cukup untuk bersyukur.”
Karakter Orang Kaya: Tidak Meminta ke Makam
Abuya menyampaikan bahwa orang yang kaya secara ruhani, tidak akan datang ke makam wali hanya untuk meminta sesuatu.
Justru, mereka datang untuk memberikan sesuatu:
- Memberikan doa,
- Menghadiahkan Al-Fatihah,
- Menebar cinta,
- Menumbuhkan rasa syukur yang dalam.
Dan yang lebih dahsyat:
Para wali justru membantu kita bukan karena kita meminta,
tapi karena ruh mereka mengenali adab dan cinta dalam diri kita.
Ziarah semacam ini, menurut Abuya, justru membuka jalan kemudahan dan keberkahan — karena telah melatih hati untuk tidak menuntut, tapi menerima. Tidak meratap, tapi menghargai.
Syukur Itu Magnet Rezeki
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Abuya tidak sekadar mengajarkan ziarah secara syariat, tapi menghidupkan rahasia magnetik di balik syukur.
Beliau mengajarkan bahwa syukur adalah sifat spiritual yang mengundang limpahan karunia.
Dan ziarah, jika dilakukan dengan penuh syukur, adalah bentuk penyempurnaan dari karakter kekayaan itu sendiri:
- Tidak meminta ke makhluk,
- Tidak mengeluh,
- Tidak merendahkan diri kepada selain Allah,
- Hanya menebar cinta dan pengakuan bahwa segala sesuatu adalah pemberian-Nya.
Ziarah yang Mengubah Takdir
Pernahkah kita berpikir bahwa takdir bisa berubah karena satu kunjungan ziarah?
Bukan karena kita minta banyak hal…
Tapi karena kita datang dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur.
Para wali itu seperti cermin. Jika engkau datang dengan wajah kusut penuh keluh, cermin pun tak bisa memberi apa-apa kecuali pantulan kesedihanmu. Tapi jika engkau datang dengan wajah syukur, maka yang terpancar adalah wajahmu sendiri yang telah berubah: menjadi wajah orang yang kaya secara batin.
Penutup: Jadikan Ziarah Jalan Mendidik Diri
Mari tanamkan dalam hati:
- Aku ziarah bukan untuk minta, tapi untuk mengucap terima kasih.
- Aku datang bukan membawa daftar permintaan, tapi membawa rasa syukur.
- Aku bukan pengemis di hadapan wali, tapi pecinta yang ingin belajar adab.
Dan dari sini, kita mulai membentuk karakter baru…
Karakter orang kaya.
Karakter yang tidak bergantung pada dunia,
karena sudah merasa cukup dengan cinta Allah.




Tinggalkan komentar