Utopia Paradox 10:Sejarah yang Berulang — Apakah Manusia Belajar dari Duka?

Tafakkur Sejarah dalam Cahaya Thoriqot

🕰️ 1. Penderitaan Manusia: Sejarah atau Skenario Ilahi?

Video “Manusia Menjadi Tuhan” menyajikan rangkaian sejarah kelam:

  • Black Death: 100 juta jiwa hilang
  • Spanish Flu: 500 juta terinfeksi
  • Perang Dunia I & II: lebih dari 100 juta nyawa lenyap
  • Depresi Ekonomi Global: kehancuran nilai dan makna hidup

📉 Dunia berulang kali remuk… namun manusia tetap jatuh pada lubang yang sama:
➡️ tamak, congkak, lalai, dan haus kuasa.

Apakah ini berarti sejarah tak berguna?
Ataukah manusia lupa untuk merenung dari dalam?


🧘 2. Tasawuf: Sejarah Adalah Kitab Tafakkur

Dalam thoriqot, sejarah bukan sekadar kronologi,
tapi ayat kauniyah (tanda-tanda Allah dalam kehidupan).

Allah ﷻ berfirman:

﴿ أَوَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ﴾
“Tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”
(QS. Ar-Rum: 9)

📿 Para sufi mengajarkan bahwa melihat sejarah tanpa tafakkur hanya akan menambah pengetahuan, tapi tidak membersihkan hati.


🔄 3. Sejarah Berulang Karena Hati yang Tak Berubah

Kenapa manusia terus mengulang dosa kolektifnya?

Karena hati mereka:

  • Tidak tunduk
  • Tidak jujur
  • Tidak mau belajar dari musibah

Syaikh Ibn Ajibah berkata:

“من لم يتأدب بآثار البلاء، استحق تكرار الابتلاء.”
“Siapa yang tidak mengambil adab dari musibah, maka pantas baginya diuji kembali.”

📉 Perang dunia, pandemi, krisis — semua menjadi hukuman pengingat bagi umat yang meninggalkan adab ruhani.


🧠 4. Tafsir Ruhani Terhadap Tragedi

Dalam tasawuf, tragedi tidak dilihat dengan kaca duniawi, tapi dengan mata batin:

  • Perang? — nafsu yang tak tertundukkan.
  • Pandemi? — tanda alam disakiti karena maksiat manusia.
  • Krisis ekonomi? — cermin kerakusan kolektif.

🧭 Maka sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu,
tapi apa yang tersembunyi dalam jiwa manusia hari ini.


🕊️ 5. Jalan Thoriqot: Tafakkur Membuka Pintu Taubat

Apa sikap salik terhadap sejarah?

  • Ia tidak hanya mempelajari tanggal dan tokoh
  • Ia merenung: Apa rahasia di balik peristiwa ini?
  • Ia menangis: Sudahkah aku belajar dari luka umat?

📿 Rasulullah ﷺ bersabda:

«طُوبَىٰ لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ»
“Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya hingga tidak sempat memikirkan aib orang lain.”
(HR. Al-Bazzar)

🎓 Maka orang arif tak hanya mempelajari sejarah,
tapi menjadikannya mihrab tafakkur dan zikir.


🌿 Kesimpulan: Sejarah Bukan Sekadar Masa Lalu

💭 Sejarah adalah cermin.
Yang bodoh melihatnya untuk menyalahkan,
Yang bijak melihatnya untuk menangisi diri,
Yang arif melihatnya untuk menemui Tuhan.

📖 Dalam tarekat, pelajaran sejarah tidak berhenti di buku,
tapi berakhir di lantai sajadah,
saat hamba bersujud dan berkata:

“Ya Rabb, jangan biarkan aku mengulangi dosa yang dulu membuat kaumku dibinasakan…”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca