Utopia Paradox 11:Gaya Hidup Modern — Memburu Dunia atau Memburu Diri?

Menemukan Makna di Tengah Hiruk Pikuk Zaman

🚶 1. Mobilitas Tinggi, Tapi Jiwa Kosong

Di dunia modern, manusia:

  • Berpindah kota demi karier
  • Mengejar gelar demi gengsi
  • Menambah jam kerja demi “masa depan”

Namun yang sering dilupakan:

Semakin cepat ia bergerak di luar, semakin jauh ia meninggalkan dirinya sendiri di dalam.

📉 Inilah ironi besar gaya hidup hari ini:
Kita punya GPS untuk dunia, tapi kehilangan kompas batin.


2. Tasawuf: Perjalanan Sebenarnya adalah Menuju Dalam

Dalam thoriqot, hidup bukan perlombaan dunia, tapi rahlah ruhiyah (perjalanan jiwa) menuju Allah.

📖 Allah ﷻ berfirman:

﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَـٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًۭا فَمُلَـٰقِيهِ ﴾
“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)

📿 Para salik bukan orang yang diam,
tapi bergerak dengan kesadaran, bukan dengan panik dan ambisi.


🛍️ 3. Dunia Modern: Menjual Citra, Membeli Kegelisahan

Hari ini:

  • Kita beli baju bukan karena butuh, tapi ingin terlihat
  • Kita kerja lembur bukan demi makan, tapi demi validasi sosial
  • Kita unggah momen bahagia, padahal hati merintih

Inilah realitas kapitalisme eksistensial:
Segala sesuatu jadi alat tampil, bukan alat bertumbuh.

🎭 Dunia memaksa kita memburu penampilan,
tapi tasawuf mengajak kita menatap batin.


🧘 4. Thoriqot: Kembali ke Keheningan

Dalam dunia yang bising, diam adalah zikir.
Dalam dunia yang cepat, lambat adalah kekuatan.

Seorang sufi memilih:

  • Rumah kecil, tapi hatinya luas
  • Pakaian sederhana, tapi jiwanya berkilau
  • Rezeki secukupnya, tapi hidupnya penuh syukur

📜 Ibnu Athaillah berkata:

“راحة القلب في قلة الاهتمام بالدنيا.”
“Ketenangan hati ada dalam sedikitnya keterikatan pada dunia.”

🧭 Karena hakikatnya:

Bukan dunia yang kita kejar…
Tapi “aku yang tersesat dalamnya”, yang sedang kita cari kembali.


🕊️ 5. Hidup Sederhana: Bukan Pilihan Gaya, Tapi Jalan Ruhani

📿 Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ كَفَافًا»
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup.”
(HR. Bukhari)

Kesederhanaan bukan karena tak mampu,
tapi karena kesadaran bahwa dunia tak layak menjadi pusat jiwa.

Para wali hidup damai bukan karena mereka anti kemajuan,
tapi karena mereka tak mau ditawan oleh dunia.


🌿 Kesimpulan: Siapa yang Sedang Kita Kejar?

Jika kamu bangun pagi dan langsung memikirkan target dunia,
maka tanyakan:

“Apakah aku sudah menjumpai diriku hari ini?”

🎓 Dalam tasawuf, gaya hidup bukan soal selera — tapi soal kebebasan batin.

Bebas dari tekanan sosial,
Bebas dari kesibukan yang menipu,
Bebas untuk menjadi hamba, bukan mesin dunia.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca