Menemukan Makna di Tengah Hiruk Pikuk Zaman

🚶 1. Mobilitas Tinggi, Tapi Jiwa Kosong
Di dunia modern, manusia:
- Berpindah kota demi karier
- Mengejar gelar demi gengsi
- Menambah jam kerja demi “masa depan”
Namun yang sering dilupakan:
Semakin cepat ia bergerak di luar, semakin jauh ia meninggalkan dirinya sendiri di dalam.
📉 Inilah ironi besar gaya hidup hari ini:
Kita punya GPS untuk dunia, tapi kehilangan kompas batin.
⌛ 2. Tasawuf: Perjalanan Sebenarnya adalah Menuju Dalam
Dalam thoriqot, hidup bukan perlombaan dunia, tapi rahlah ruhiyah (perjalanan jiwa) menuju Allah.
📖 Allah ﷻ berfirman:
﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَـٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًۭا فَمُلَـٰقِيهِ ﴾
“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)
📿 Para salik bukan orang yang diam,
tapi bergerak dengan kesadaran, bukan dengan panik dan ambisi.
🛍️ 3. Dunia Modern: Menjual Citra, Membeli Kegelisahan
Hari ini:
- Kita beli baju bukan karena butuh, tapi ingin terlihat
- Kita kerja lembur bukan demi makan, tapi demi validasi sosial
- Kita unggah momen bahagia, padahal hati merintih
Inilah realitas kapitalisme eksistensial:
Segala sesuatu jadi alat tampil, bukan alat bertumbuh.
🎭 Dunia memaksa kita memburu penampilan,
tapi tasawuf mengajak kita menatap batin.
🧘 4. Thoriqot: Kembali ke Keheningan
Dalam dunia yang bising, diam adalah zikir.
Dalam dunia yang cepat, lambat adalah kekuatan.
Seorang sufi memilih:
- Rumah kecil, tapi hatinya luas
- Pakaian sederhana, tapi jiwanya berkilau
- Rezeki secukupnya, tapi hidupnya penuh syukur
📜 Ibnu Athaillah berkata:
“راحة القلب في قلة الاهتمام بالدنيا.”
“Ketenangan hati ada dalam sedikitnya keterikatan pada dunia.”
🧭 Karena hakikatnya:
Bukan dunia yang kita kejar…
Tapi “aku yang tersesat dalamnya”, yang sedang kita cari kembali.
🕊️ 5. Hidup Sederhana: Bukan Pilihan Gaya, Tapi Jalan Ruhani
📿 Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ كَفَافًا»
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup.”
(HR. Bukhari)
Kesederhanaan bukan karena tak mampu,
tapi karena kesadaran bahwa dunia tak layak menjadi pusat jiwa.
Para wali hidup damai bukan karena mereka anti kemajuan,
tapi karena mereka tak mau ditawan oleh dunia.
🌿 Kesimpulan: Siapa yang Sedang Kita Kejar?
Jika kamu bangun pagi dan langsung memikirkan target dunia,
maka tanyakan:
“Apakah aku sudah menjumpai diriku hari ini?”
🎓 Dalam tasawuf, gaya hidup bukan soal selera — tapi soal kebebasan batin.
Bebas dari tekanan sosial,
Bebas dari kesibukan yang menipu,
Bebas untuk menjadi hamba, bukan mesin dunia.




Tinggalkan komentar