Mengenal Ta’alluq Billah dalam Dunia yang Penuh Ketergantungan

🏗️ 1. Sistem Peradaban: Membangun Dunia, Melupakan Ruh
Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, peradaban ditampilkan sebagai hasil dari:
- Kerja kolektif manusia
- Kemajuan ilmu dan industri
- Sistem hukum, birokrasi, ekonomi, dan teknologi
Namun, sistem ini semakin kompleks dan tak bisa dikendalikan,
hingga manusia akhirnya bekerja untuk sistem, bukan sistem untuk manusia.
📉 Peradaban yang semula dibangun untuk melindungi manusia, justru:
- Menyeragamkan jiwa
- Mengendalikan cara berpikir
- Memaksa hidup dalam pola yang ditentukan
🪤 2. Sistem yang Menghijab Jiwa dari Allah
Apa yang terjadi saat sistem mengambil tempat dalam hati?
- Orang takut pada bos, tapi tidak pada Rabb-nya
- Orang patuh pada jadwal kerja, tapi lalai dari waktu shalat
- Orang sibuk mengejar insentif, tapi lupa mencari rahmat
📿 Dalam thoriqot, ini disebut sebagai ta’alluq (تعلق) — keterikatan hati.
Dan semua keterikatan selain kepada Allah adalah belenggu ruhani.
🔓 3. Thoriqot Mengajarkan: Bebas Itu Saat Hanya Allah yang Mengikat
Para sufi tidak menolak sistem,
tapi mereka melepaskan hati dari sistem dan mengikatkannya hanya pada Allah.
📖 Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ ﴾
“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati.”
(QS. Al-Furqan: 58)
💡 Seorang salik belajar berkata:
“Jika sistem berubah, hatiku tak berubah.
Karena penopang jiwaku bukan aturan dunia, tapi Dzat Yang Abadi.”
📜 4. Dunia Penuh Aturan: Tapi Ruhaniyah Butuh Ruang
Dunia modern menetapkan:
- Standar hidup
- Jadwal karier
- Skor produktivitas
Tapi thoriqot mengingatkan:
“Jiwamu bukan mesin. Ruhmu tidak bisa diukur dengan angka.”
📿 Syaikh Ahmad Zarruq رحمه الله berkata:
“الحر من لا يملكه شيء، ولا يملكه أحد، إلا الله.”
“Orang merdeka adalah yang tidak dimiliki apapun dan tidak dimiliki siapapun — kecuali oleh Allah.”
🧘 5. Sufi dan Kebebasan Hakiki
Para sufi hidup dalam masyarakat. Mereka bekerja, menikah, dan berdagang.
Tapi hatinya tidak terikat pada sistem sosial.
Ciri mereka:
- Tidak takut miskin, karena yakin Allah Al-Razzaq
- Tidak takut opini publik, karena hanya mencari rida Ilahi
- Tidak cemas masa depan, karena percaya takdir-Nya
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَن جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللَّهُ سَائِرَ هُمُومِهِ»
“Barangsiapa menjadikan satu saja kekhawatirannya, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi seluruh urusan dunianya.”
(HR. Ibn Majah)
🌿 Kesimpulan: Sistem yang Membebaskan atau Memenjarakan?
📌 Dunia membanggakan sistemnya,
tapi tasawuf bertanya:
Apakah sistem itu membawamu kepada Allah atau menjauhkanmu dari-Nya?
🔑 Thoriqot mengajarkan:
“Jangan jadikan aturan dunia sebagai tempat bersandar,
jadikan ia hanya jalan.
Sandaranmu tetap hanya Allah, Al-Hayy, Al-Qayyum.”




Tinggalkan komentar