Utopia Paradox 12:Peradaban atau Perbudakan Sistem?

Mengenal Ta’alluq Billah dalam Dunia yang Penuh Ketergantungan

🏗️ 1. Sistem Peradaban: Membangun Dunia, Melupakan Ruh

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, peradaban ditampilkan sebagai hasil dari:

  • Kerja kolektif manusia
  • Kemajuan ilmu dan industri
  • Sistem hukum, birokrasi, ekonomi, dan teknologi

Namun, sistem ini semakin kompleks dan tak bisa dikendalikan,
hingga manusia akhirnya bekerja untuk sistem, bukan sistem untuk manusia.

📉 Peradaban yang semula dibangun untuk melindungi manusia, justru:

  • Menyeragamkan jiwa
  • Mengendalikan cara berpikir
  • Memaksa hidup dalam pola yang ditentukan

🪤 2. Sistem yang Menghijab Jiwa dari Allah

Apa yang terjadi saat sistem mengambil tempat dalam hati?

  • Orang takut pada bos, tapi tidak pada Rabb-nya
  • Orang patuh pada jadwal kerja, tapi lalai dari waktu shalat
  • Orang sibuk mengejar insentif, tapi lupa mencari rahmat

📿 Dalam thoriqot, ini disebut sebagai ta’alluq (تعلق) — keterikatan hati.
Dan semua keterikatan selain kepada Allah adalah belenggu ruhani.


🔓 3. Thoriqot Mengajarkan: Bebas Itu Saat Hanya Allah yang Mengikat

Para sufi tidak menolak sistem,
tapi mereka melepaskan hati dari sistem dan mengikatkannya hanya pada Allah.

📖 Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ ﴾
“Dan bertawakallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati.”
(QS. Al-Furqan: 58)

💡 Seorang salik belajar berkata:

“Jika sistem berubah, hatiku tak berubah.
Karena penopang jiwaku bukan aturan dunia, tapi Dzat Yang Abadi.”


📜 4. Dunia Penuh Aturan: Tapi Ruhaniyah Butuh Ruang

Dunia modern menetapkan:

  • Standar hidup
  • Jadwal karier
  • Skor produktivitas

Tapi thoriqot mengingatkan:

“Jiwamu bukan mesin. Ruhmu tidak bisa diukur dengan angka.”

📿 Syaikh Ahmad Zarruq رحمه الله berkata:

“الحر من لا يملكه شيء، ولا يملكه أحد، إلا الله.”
“Orang merdeka adalah yang tidak dimiliki apapun dan tidak dimiliki siapapun — kecuali oleh Allah.”


🧘 5. Sufi dan Kebebasan Hakiki

Para sufi hidup dalam masyarakat. Mereka bekerja, menikah, dan berdagang.
Tapi hatinya tidak terikat pada sistem sosial.

Ciri mereka:

  • Tidak takut miskin, karena yakin Allah Al-Razzaq
  • Tidak takut opini publik, karena hanya mencari rida Ilahi
  • Tidak cemas masa depan, karena percaya takdir-Nya

📖 Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَن جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ الْمَعَادِ، كَفَاهُ اللَّهُ سَائِرَ هُمُومِهِ»
“Barangsiapa menjadikan satu saja kekhawatirannya, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi seluruh urusan dunianya.”
(HR. Ibn Majah)


🌿 Kesimpulan: Sistem yang Membebaskan atau Memenjarakan?

📌 Dunia membanggakan sistemnya,
tapi tasawuf bertanya:

Apakah sistem itu membawamu kepada Allah atau menjauhkanmu dari-Nya?

🔑 Thoriqot mengajarkan:
“Jangan jadikan aturan dunia sebagai tempat bersandar,
jadikan ia hanya jalan.
Sandaranmu tetap hanya Allah, Al-Hayy, Al-Qayyum.”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca