Menemukan Diri dalam Dunia yang Terlalu Sibuk

🏭 1. Dari Alam ke Pabrik: Transformasi yang Membutakan Jiwa
Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, diceritakan bagaimana penemuan mesin uap menciptakan Revolusi Industri yang mengubah wajah dunia:
- Produktivitas meningkat
- Kota membengkak
- Pabrik menjamur
Namun yang jarang disadari:
manusia berubah fungsi — dari makhluk berjiwa menjadi komponen produksi.
🧱 Buruh diperah tanpa belas kasih.
Hidup bukan lagi soal makna, tapi target dan upah.
🧘 2. Islam: Kerja Bukan untuk Sistem, Tapi untuk Allah
Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Tapi dalam kapitalisme, kerja adalah komoditas.
Inilah dua paradigma yang bertolak belakang.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ ﴾
“Dia-lah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya. Dan kepada-Nya-lah kamu (kembali).”
(QS. Al-Mulk: 15)
Perhatikan ujung ayat: “wa ilayhi an-nusyūr”
→ Bahkan saat bekerja, arah kita tetap harus kembali kepada-Nya.
⚠️ 3. Kapitalisme dan Kehilangan Ruhaniyah
Kapitalisme modern menjadikan manusia hanya sebaik target kerjanya.
Tak peduli ruh, tak peduli keluarga, tak peduli hakikat.
Dalam tasawuf, ini disebut sebagai “penghambaan terselubung kepada dunia” (عبودية الدنيا)
📿 Imam Al-Ghazali menyindirnya dalam Ihya Ulumuddin:
“العبودية الحقيقية هي أن لا يكون لك اختيار مع الله.”
“Penghambaan sejati adalah ketika engkau tak lagi punya kehendak kecuali kehendak Allah.”
Sedangkan dalam sistem modern, manusia dipaksa memilih berdasarkan kebutuhan industri, bukan petunjuk langit.
📉 4. Manusia Dijual, Waktu Dicuri
Dalam dunia industri, waktu manusia dihargai dengan uang.
1 jam kerja = X rupiah.
Padahal waktu dalam Islam adalah modal akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
📌 Waktu bukan milik pabrik. Waktu adalah ladang menuju surga — jika digunakan dengan sadar.
🌾 5. Thoriqot: Menyucikan Kerja dari Sistem Dunia
Dalam tarekat, bekerja tetap penting. Tapi orientasinya berubah:
- Bekerja bukan untuk dunia, tapi untuk Allah
- Rezeki bukan hasil sistem, tapi limpahan dari Rabbul ‘Alamin
- Kesuksesan bukan uang, tapi keberkahan dan ketenangan jiwa
💬 Seorang salik bertanya pada gurunya:
“Bagaimana agar pekerjaanku tetap jadi ibadah?”
Jawab sang mursyid:
“إذا بدأت بالنية، وختمت بالشكر، وأخلصت في الطريق، فكل عملك عبادة.”
“Jika engkau mulai dengan niat, akhiri dengan syukur, dan tulus di tengahnya — maka semua pekerjaanmu adalah ibadah.”
🌱 Kesimpulan: Manusia Bukan Mesin, Tapi Amanah
Revolusi industri membuat manusia efisien,
Tapi tasawuf mengingatkan bahwa efisiensi tanpa makna adalah kehampaan.
🌌 Dalam thoriqot, manusia bukan pekerja sistem, melainkan:
- Hamba Allah
- Penjaga ruh
- Pelayan misi ruhaniyah
Bekerjalah dengan hati, bukan hanya otot dan jam digital.




Tinggalkan komentar