Utopia Paradox 6 :Revolusi Industri — Manusia Jadi Mesin?

Menemukan Diri dalam Dunia yang Terlalu Sibuk

🏭 1. Dari Alam ke Pabrik: Transformasi yang Membutakan Jiwa

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, diceritakan bagaimana penemuan mesin uap menciptakan Revolusi Industri yang mengubah wajah dunia:

  • Produktivitas meningkat
  • Kota membengkak
  • Pabrik menjamur

Namun yang jarang disadari:
manusia berubah fungsi — dari makhluk berjiwa menjadi komponen produksi.

🧱 Buruh diperah tanpa belas kasih.
Hidup bukan lagi soal makna, tapi target dan upah.


🧘 2. Islam: Kerja Bukan untuk Sistem, Tapi untuk Allah

Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Tapi dalam kapitalisme, kerja adalah komoditas.
Inilah dua paradigma yang bertolak belakang.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ ﴾
“Dia-lah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya. Dan kepada-Nya-lah kamu (kembali).”
(QS. Al-Mulk: 15)

Perhatikan ujung ayat: “wa ilayhi an-nusyūr”
→ Bahkan saat bekerja, arah kita tetap harus kembali kepada-Nya.


⚠️ 3. Kapitalisme dan Kehilangan Ruhaniyah

Kapitalisme modern menjadikan manusia hanya sebaik target kerjanya.
Tak peduli ruh, tak peduli keluarga, tak peduli hakikat.

Dalam tasawuf, ini disebut sebagai “penghambaan terselubung kepada dunia” (عبودية الدنيا)

📿 Imam Al-Ghazali menyindirnya dalam Ihya Ulumuddin:

“العبودية الحقيقية هي أن لا يكون لك اختيار مع الله.”
“Penghambaan sejati adalah ketika engkau tak lagi punya kehendak kecuali kehendak Allah.”

Sedangkan dalam sistem modern, manusia dipaksa memilih berdasarkan kebutuhan industri, bukan petunjuk langit.


📉 4. Manusia Dijual, Waktu Dicuri

Dalam dunia industri, waktu manusia dihargai dengan uang.
1 jam kerja = X rupiah.
Padahal waktu dalam Islam adalah modal akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

📌 Waktu bukan milik pabrik. Waktu adalah ladang menuju surga — jika digunakan dengan sadar.


🌾 5. Thoriqot: Menyucikan Kerja dari Sistem Dunia

Dalam tarekat, bekerja tetap penting. Tapi orientasinya berubah:

  • Bekerja bukan untuk dunia, tapi untuk Allah
  • Rezeki bukan hasil sistem, tapi limpahan dari Rabbul ‘Alamin
  • Kesuksesan bukan uang, tapi keberkahan dan ketenangan jiwa

💬 Seorang salik bertanya pada gurunya:

“Bagaimana agar pekerjaanku tetap jadi ibadah?”
Jawab sang mursyid:
“إذا بدأت بالنية، وختمت بالشكر، وأخلصت في الطريق، فكل عملك عبادة.”
“Jika engkau mulai dengan niat, akhiri dengan syukur, dan tulus di tengahnya — maka semua pekerjaanmu adalah ibadah.”


🌱 Kesimpulan: Manusia Bukan Mesin, Tapi Amanah

Revolusi industri membuat manusia efisien,
Tapi tasawuf mengingatkan bahwa efisiensi tanpa makna adalah kehampaan.

🌌 Dalam thoriqot, manusia bukan pekerja sistem, melainkan:

  • Hamba Allah
  • Penjaga ruh
  • Pelayan misi ruhaniyah

Bekerjalah dengan hati, bukan hanya otot dan jam digital.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca