Utopia Paradox 7:Kapitalisme dan Keserakahan

Kritik Sosial Sufi terhadap Dunia Modern

💰 1. Kapitalisme: Sistem yang Dibangun dari Nafsu

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, disebutkan bahwa Revolusi Industri melahirkan kapitalisme modern:

  • Sebagian jadi sangat kaya
  • Sebagian lain dijadikan buruh tanpa harga
  • Hidup menjadi tentang uang, bukan tentang makna

📉 Manusia tak lagi mengejar keberkahan, tapi angka dan keuntungan.
Dalam tasawuf, ini disebut “tamāʿ” (طمع) — keserakahan yang merusak hati dan mematikan jiwa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَىٰ ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ»
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti dia akan menginginkan yang ketiga. Dan tidak akan pernah kenyang perut anak Adam kecuali dengan tanah.”
(HR. Bukhari & Muslim)


🪙 2. Gaya Hidup Modern: Dari Kebutuhan ke Keinginan Tanpa Akhir

Kapitalisme bekerja bukan dengan memenuhi kebutuhan,
tapi dengan menciptakan keinginan baru.
Maka tak heran:

  • Barang diproduksi untuk dibuang
  • Pekerjaan dibuat untuk konsumsi
  • Hidup diukur dari jumlah harta, bukan kebeningan jiwa

📿 Para sufi memandang gaya hidup seperti ini sebagai hijrah dari Allah menuju dunia, bukan sebaliknya.


🌿 3. Qana’ah: Perisai Ruhani dari Badai Dunia

Qana’ah (قناعة) adalah kepuasan hati terhadap pemberian Allah.
Dalam thoriqot, qana’ah bukan pasrah, tapi keyakinan bahwa Allah-lah Yang Cukup.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ ﴾
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)

🧘 Seorang sufi tak sibuk menghitung harta,
tapi sibuk menghitung berapa kali hatinya lalai dari Allah.


💼 4. Dunia Sebagai Pelayan, Bukan Tujuan

Dalam dunia modern, manusia menjadi pelayan bagi dunia.
Dalam tasawuf, dunia hanyalah pelayan bagi orang yang mengenal Allah.

📜 Ibnu Ataillah berkata dalam Al-Hikam:

“اجعل همك هماً واحداً، يكفيك الله هموم الدنيا.”
“Jadikan satu saja kekhawatiranmu: Allah. Maka Allah akan cukupkan kekhawatiran dunia darimu.”

Kapitalisme membuat manusia takut miskin,
padahal rasa cukup adalah kekayaan sejati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَىٰ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَىٰ غِنَى النَّفْسِ»
“Kaya bukan karena banyaknya harta, melainkan karena kayanya jiwa.”
(HR. Bukhari & Muslim)


🛑 5. Kritik Lembut Para Sufi terhadap Sistem Dunia

Para wali Allah tidak turun ke jalan menentang kapitalisme,
mereka turun ke hati sendiri, mematahkan cinta dunia dari dalam.

🌙 Mereka mengajarkan bahwa:

  • Keserakahan adalah hijab antara hamba dan Allah
  • Zuhud bukan anti-harta, tapi tidak diperbudak harta
  • Pekerjaan boleh besar, tapi hati harus ringan

Sebab, dunia yang besar tidak mampu mengangkat hati yang berat oleh nafsu.


🌱 Kesimpulan: Di Mana Letak Kekayaanmu?

Kapitalisme menawarkan ilusi:

“Tambah uang, tambah bahagia.”

Tasawuf menyanggah:

“Tambah cinta Allah, baru hatimu lapang.”

🍃 Qana’ah bukan sekadar menerima, tapi mengalihkan fokus dari dunia menuju Akhirat.
Maka, saat sistem membombardirmu dengan iklan, ingatlah:

Kamu tidak miskin. Kamu hanya belum melihat kekayaan ruhani yang telah Allah berikan.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca