Kritik Sosial Sufi terhadap Dunia Modern

💰 1. Kapitalisme: Sistem yang Dibangun dari Nafsu
Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, disebutkan bahwa Revolusi Industri melahirkan kapitalisme modern:
- Sebagian jadi sangat kaya
- Sebagian lain dijadikan buruh tanpa harga
- Hidup menjadi tentang uang, bukan tentang makna
📉 Manusia tak lagi mengejar keberkahan, tapi angka dan keuntungan.
Dalam tasawuf, ini disebut “tamāʿ” (طمع) — keserakahan yang merusak hati dan mematikan jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَىٰ ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ»
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti dia akan menginginkan yang ketiga. Dan tidak akan pernah kenyang perut anak Adam kecuali dengan tanah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
🪙 2. Gaya Hidup Modern: Dari Kebutuhan ke Keinginan Tanpa Akhir
Kapitalisme bekerja bukan dengan memenuhi kebutuhan,
tapi dengan menciptakan keinginan baru.
Maka tak heran:
- Barang diproduksi untuk dibuang
- Pekerjaan dibuat untuk konsumsi
- Hidup diukur dari jumlah harta, bukan kebeningan jiwa
📿 Para sufi memandang gaya hidup seperti ini sebagai hijrah dari Allah menuju dunia, bukan sebaliknya.
🌿 3. Qana’ah: Perisai Ruhani dari Badai Dunia
Qana’ah (قناعة) adalah kepuasan hati terhadap pemberian Allah.
Dalam thoriqot, qana’ah bukan pasrah, tapi keyakinan bahwa Allah-lah Yang Cukup.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ ﴾
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Adz-Dzariyat: 22)
🧘 Seorang sufi tak sibuk menghitung harta,
tapi sibuk menghitung berapa kali hatinya lalai dari Allah.
💼 4. Dunia Sebagai Pelayan, Bukan Tujuan
Dalam dunia modern, manusia menjadi pelayan bagi dunia.
Dalam tasawuf, dunia hanyalah pelayan bagi orang yang mengenal Allah.
📜 Ibnu Ataillah berkata dalam Al-Hikam:
“اجعل همك هماً واحداً، يكفيك الله هموم الدنيا.”
“Jadikan satu saja kekhawatiranmu: Allah. Maka Allah akan cukupkan kekhawatiran dunia darimu.”
Kapitalisme membuat manusia takut miskin,
padahal rasa cukup adalah kekayaan sejati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ الْغِنَىٰ عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَىٰ غِنَى النَّفْسِ»
“Kaya bukan karena banyaknya harta, melainkan karena kayanya jiwa.”
(HR. Bukhari & Muslim)
🛑 5. Kritik Lembut Para Sufi terhadap Sistem Dunia
Para wali Allah tidak turun ke jalan menentang kapitalisme,
mereka turun ke hati sendiri, mematahkan cinta dunia dari dalam.
🌙 Mereka mengajarkan bahwa:
- Keserakahan adalah hijab antara hamba dan Allah
- Zuhud bukan anti-harta, tapi tidak diperbudak harta
- Pekerjaan boleh besar, tapi hati harus ringan
Sebab, dunia yang besar tidak mampu mengangkat hati yang berat oleh nafsu.
🌱 Kesimpulan: Di Mana Letak Kekayaanmu?
Kapitalisme menawarkan ilusi:
“Tambah uang, tambah bahagia.”
Tasawuf menyanggah:
“Tambah cinta Allah, baru hatimu lapang.”
🍃 Qana’ah bukan sekadar menerima, tapi mengalihkan fokus dari dunia menuju Akhirat.
Maka, saat sistem membombardirmu dengan iklan, ingatlah:
Kamu tidak miskin. Kamu hanya belum melihat kekayaan ruhani yang telah Allah berikan.




Tinggalkan komentar