Utopia Paradox 8:Teknologi vs Ketundukan — Apakah Kita Masih Hamba?

Ketika Kecanggihan Merenggut Kehambaan

🧠 1. Manusia Modern: Penguasa Data, Tapi Hamba Siapa?

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, dijelaskan bahwa:

  • Manusia kini bisa menciptakan kecerdasan buatan
  • Mengatur genetik makhluk hidup
  • Mengubah iklim dan merancang kota pintar

📈 Semua itu membuat manusia merasa lebih dari makhluk,
seolah-olah dia mulai menggenggam takdir sendiri.

Padahal, semakin besar kendali manusia atas dunia,
semakin besar juga kesombongan yang mengintai hatinya.


📿 2. Islam: Semakin Tahu, Semakin Tunduk

Dalam Islam, ilmu dan teknologi bukan jalan untuk menjadi penguasa absolut,
tapi alat untuk menguatkan kesadaran bahwa kita ini tetap makhluk.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًۭا ﴾
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra: 85)

📚 Maka sehebat apapun AI, robot, atau gen editing,
itu semua tak lebih dari setetes ilmu dari lautan milik-Nya.


📡 3. Ketika Teknologi Menjadikan Manusia Tuhan Palsu

Dalam thoriqot, ada satu penyakit hati yang paling berbahaya:

Ujub – merasa diri hebat, cukup, dan tidak membutuhkan Allah.

Dan inilah wabah ruhani modern:

  • Manusia berkata: “Kita bisa menyembuhkan apa saja dengan sains.”
  • Tapi tak bisa menyembuhkan hatinya yang kosong.

📱 Teknologi membantu manusia berbicara ke seluruh dunia,
tapi tidak membantu bicara kepada Allah.
Maka ia kesepian di tengah keramaian digital.


🕊️ 4. Tasawuf: Jalan Menundukkan Diri di Tengah Kemahakuasaan Dunia

Para sufi tidak menolak teknologi,
tapi mereka menolak ketergantungan total padanya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ berkata:

“لو كان العلم وحده كافياً، لكان إبليس أعلم الناس.”
“Jika ilmu saja cukup (untuk menyelamatkan), maka Iblislah yang paling layak selamat.”

Ilmu harus disertai ketundukan dan khusyu’,
karena hanya hati yang merendah yang bisa menerima cahaya Ilahi.


🧎 5. Hamba Sejati: Makin Maju, Makin Sujud

Lihatlah Nabi Sulaiman عليه السلام — punya kekuatan luar biasa:

  • Bisa bicara dengan hewan
  • Mengendalikan jin
  • Mengatur angin

Tapi apa doanya?

﴿ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ ﴾
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk selalu bersyukur atas nikmat-Mu kepadaku…”
(QS. An-Naml: 19)

Inilah akhlak ruhani teknologi:

Makin tinggi potensi, makin rendah hati.


🌌 Kesimpulan: Hamba atau Pemilik Takdir?

Teknologi bukan musuh. Tapi rasa ilahiyah palsu yang lahir darinya — itulah musibah.

🪞 Tasawuf mengingatkan:

  • Kita bukan pencipta, kita ciptaan
  • Kita bukan pengatur, kita yang diatur
  • Kita bukan tujuan, kita yang sedang berjalan

🧎 Maka, sujudlah…
Di saat tanganmu menggenggam dunia, pastikan hatimu tetap tenggelam dalam cinta-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca