Utopia Paradox 9:Eksistensi Diri dan Ego

Jalan Ruhani Menghancurkan “Aku”

🪞 1. Dunia Modern dan Kebutuhan akan Eksistensi

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, digambarkan bahwa setelah manusia berhasil menaklukkan dunia fisik,
mereka mulai mengejar pengakuan, eksistensi, dan validasi sosial.

Media sosial, budaya viral, self-branding — semuanya berpusat pada satu kata: AKU.

“Saya siapa?”
“Saya ingin dikenal.”
“Saya harus diingat.”

Tapi semakin ego ditegaskan, semakin rapuh ia menjadi.


📿 2. Tasawuf: Jalan Menuju Fana (Kelenyapan Ego)

Dalam tarekat, eksistensi diri bukan untuk dibangun — tetapi untuk diluruhkan.
Sebab yang menjadi penghalang antara manusia dan Allah bukan iblis, bukan dunia…

Tapi “diri”-nya sendiri.

📖 Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴾
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya…”
(QS. An-Nazi’at: 40)

💡 Maka para salik berusaha melepaskan klaim diri, membuang kebanggaan,
dan mencapai maqam yang disebut fanā’ — lenyapnya “aku”, tinggal Allah dalam kesadaran.


🌪️ 3. Dunia Bilang: Tegaskan Dirimu — Thoriqot Bilang: Hancurkan Dirimu

Kita hidup dalam budaya:

  • Self-promotion
  • Self-worth
  • Self-love

Tapi para sufi menolak cinta yang berpusat pada ego.
Mereka berkata:

“أَكْبَرُ عَائِقٍ بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ: نَفْسُكَ.”
“Penghalang terbesar antara engkau dan Allah adalah dirimu sendiri.”

Maka mereka belajar:

  • Menyalahkan diri
  • Merendahkan keakuan
  • Mencintai kehinaan di hadapan Rabb-nya

🔥 4. Nafsu Diri: Pangkal Semua Penyakit Ruhani

Imam Al-Ghazali menyebut nafs (النفس) sebagai:

“جِذْوَةُ الشَّرِّ فِي الْقَلْبِ”
“Percikan api kejahatan dalam hati.”

Jika tidak dikendalikan, ia:

  • Membuat kita merasa lebih dari orang lain
  • Menghancurkan ikhlas
  • Menggiring kepada riya’, ujub, dan takabbur

Itulah mengapa maqamat tasawuf dimulai dengan mujahadah an-nafs (perang melawan ego).

📿 Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim)


🧘 5. Hidup Tanpa Aku: Damai dalam Kehilangan Diri

Apa yang terjadi saat ego lenyap?

🌾 Yang tersisa adalah:

  • Keikhlasan
  • Cinta tanpa pamrih
  • Keberanian untuk dilupakan
  • Kesabaran untuk tidak disebut

Dan di saat itulah Allah menjadi pusat hidup kita.
Inilah puncak maqam tasawuf: “فناء في الله” – fana’ fi Allah.

Diri lenyap, hanya cinta yang tinggal.


🌿 Kesimpulan: Hancur untuk Utuh

Di saat dunia menyuruhmu “jadilah dirimu”,
Tasawuf mengajarkan:

“Jadilah tiada, agar Allah menjadi segalanya dalammu.”

📖 Ibnu Athaillah berkata:

“متى استنار القلب بأنوار المعرفة، انمحى أثر الوجود.”
“Saat hati diterangi cahaya ma’rifat, lenyaplah bekas keakuan (eksistensi pribadi).”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca