Jalan Ruhani Menghancurkan “Aku”

🪞 1. Dunia Modern dan Kebutuhan akan Eksistensi
Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, digambarkan bahwa setelah manusia berhasil menaklukkan dunia fisik,
mereka mulai mengejar pengakuan, eksistensi, dan validasi sosial.
Media sosial, budaya viral, self-branding — semuanya berpusat pada satu kata: AKU.
“Saya siapa?”
“Saya ingin dikenal.”
“Saya harus diingat.”
Tapi semakin ego ditegaskan, semakin rapuh ia menjadi.
📿 2. Tasawuf: Jalan Menuju Fana (Kelenyapan Ego)
Dalam tarekat, eksistensi diri bukan untuk dibangun — tetapi untuk diluruhkan.
Sebab yang menjadi penghalang antara manusia dan Allah bukan iblis, bukan dunia…
Tapi “diri”-nya sendiri.
📖 Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴾
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya…”
(QS. An-Nazi’at: 40)
💡 Maka para salik berusaha melepaskan klaim diri, membuang kebanggaan,
dan mencapai maqam yang disebut fanā’ — lenyapnya “aku”, tinggal Allah dalam kesadaran.
🌪️ 3. Dunia Bilang: Tegaskan Dirimu — Thoriqot Bilang: Hancurkan Dirimu
Kita hidup dalam budaya:
- Self-promotion
- Self-worth
- Self-love
Tapi para sufi menolak cinta yang berpusat pada ego.
Mereka berkata:
“أَكْبَرُ عَائِقٍ بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ: نَفْسُكَ.”
“Penghalang terbesar antara engkau dan Allah adalah dirimu sendiri.”
Maka mereka belajar:
- Menyalahkan diri
- Merendahkan keakuan
- Mencintai kehinaan di hadapan Rabb-nya
🔥 4. Nafsu Diri: Pangkal Semua Penyakit Ruhani
Imam Al-Ghazali menyebut nafs (النفس) sebagai:
“جِذْوَةُ الشَّرِّ فِي الْقَلْبِ”
“Percikan api kejahatan dalam hati.”
Jika tidak dikendalikan, ia:
- Membuat kita merasa lebih dari orang lain
- Menghancurkan ikhlas
- Menggiring kepada riya’, ujub, dan takabbur
Itulah mengapa maqamat tasawuf dimulai dengan mujahadah an-nafs (perang melawan ego).
📿 Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.”
(HR. Muslim)
🧘 5. Hidup Tanpa Aku: Damai dalam Kehilangan Diri
Apa yang terjadi saat ego lenyap?
🌾 Yang tersisa adalah:
- Keikhlasan
- Cinta tanpa pamrih
- Keberanian untuk dilupakan
- Kesabaran untuk tidak disebut
Dan di saat itulah Allah menjadi pusat hidup kita.
Inilah puncak maqam tasawuf: “فناء في الله” – fana’ fi Allah.
Diri lenyap, hanya cinta yang tinggal.
🌿 Kesimpulan: Hancur untuk Utuh
Di saat dunia menyuruhmu “jadilah dirimu”,
Tasawuf mengajarkan:
“Jadilah tiada, agar Allah menjadi segalanya dalammu.”
📖 Ibnu Athaillah berkata:
“متى استنار القلب بأنوار المعرفة، انمحى أثر الوجود.”
“Saat hati diterangi cahaya ma’rifat, lenyaplah bekas keakuan (eksistensi pribadi).”




Tinggalkan komentar