Utopia Paradox 3:Dari Bertahan Hidup ke Menyembah Sistem

Melacak Akar Fitrah Manusia dalam Cengkeraman Dunia Modern

🧬 1. Manusia Zaman Purba: Bertahan Hidup dalam Ganasnya Alam

Video “Manusia Menjadi Tuhan” menggambarkan masa lalu manusia sebagai perjuangan penuh ancaman: kelaparan, dingin ekstrem, dan binatang buas.
Manusia berusaha bertahan hidup, berpindah tempat, saling bunuh demi sumber daya.

Itulah fase paling dasar dalam hirarki kebutuhan biologis manusia. Tapi dari sudut pandang Islam—terutama dalam tasawuf—manusia bukan hanya makhluk yang lapar dan takut. Ia diciptakan bukan hanya untuk bertahan hidup.

🧭 Allah berfirman:

﴿ وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jadi, sejak awal, fitrah manusia bukan sekadar hidup, tetapi hidup dalam penghambaan.


💼 2. Ketika Sistem Menggantikan Tuhan: Manusia di Bawah Perintah Dunia

Seiring berkembangnya peradaban, manusia membentuk sistem: hukum, kerajaan, ekonomi.
Di sisi lain, sistem-sistem ini lambat laun mencuri posisi Tuhan dalam kehidupan manusia.

Manusia tak lagi bertanya apa yang Allah perintahkan,
tapi apa yang pasar, negara, atau algoritma perintahkan.

📉 Lihat realita modern:

  • Manusia bekerja 12 jam bukan karena kebutuhan, tapi karena sistem menuntut.
  • Ia pindah kota bukan karena Allah, tapi karena sistem mengejarnya.

🔒 Sufi berkata:

“العبد حرٌ ما قنع والحر عبدٌ ما طمع”
“Hamba itu bebas selama ia merasa cukup, dan orang bebas itu hamba selama ia tamak.”
(Ibnu Ataillah As-Sakandari)


🧠 3. Fitrah yang Hilang: Jalan Ruhani Melawan Sistem Dunia

Dalam thoriqot, manusia diajak kembali kepada asalnya—kepada fitrah ruhani yang terpendam karena sistem dunia.

🔍 Apa itu fitrah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…”
(HR. Bukhari & Muslim)

Tapi lingkunganlah yang mengubahnya.
Dan di zaman modern, lingkungan terbesar adalah sistem yang dibangun oleh manusia itu sendiri.

Tasawuf mengajak untuk “hijrah batin”:

  • dari sistem dunia → ke ketundukan mutlak pada Allah
  • dari ritme kerja dunia → ke irama zikir qalbu

🕯️ 4. Nafsu Sistemik vs Nafsu Individu

Dalam video, tampak bahwa manusia dahulu dikuasai oleh nafsu individual (makanan, wanita, kuasa).
Tapi di zaman ini, nafsu itu dibungkus oleh sistem: nafsu institusional.

Contoh:

  • Dahulu orang membunuh untuk makan. Sekarang, perusahaan “membunuh” demi laba dan kompetisi.
  • Dahulu manusia mengejar pasangan, kini aplikasi kencan memfasilitasi itu tanpa nilai ruhani.

📿 Dalam tasawuf, perang sejati adalah:

«أَعْدَىٰ عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ»
“Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang ada dalam dirimu.”
(HR. Al-Baihaqi)

Dan nafs bukan hanya keinginan pribadi, tapi bisa menjelma jadi sistem yang tampak “normal”.


🧘 5. Jalan Keluar: Kembali Menjadi Hamba

Para salik (penempuh thoriqot) tahu satu hal:
Manusia bukan diciptakan untuk jadi penguasa dunia. Tapi untuk tunduk di hadapan-Nya.

💡 Jalan spiritual bukan pelarian, tapi pemberontakan halus terhadap sistem yang melupakan Tuhan.

﴿ قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ﴿١٤﴾ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ ﴿١٥﴾ ﴾
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya (14) dan mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat (15).”
(QS. Al-A’la: 14–15)


🌿 Kesimpulan: Bebas atau Terikat?

Manusia modern menyangka dirinya lebih bebas dari manusia gua dahulu.
Tapi sesungguhnya, ia lebih terpenjara—oleh nafsu yang dibungkus sistem.

Dalam thoriqot, kebebasan sejati adalah:

  • ketika engkau hanya takut kepada Allah
  • ketika hidupmu bukan ditentukan jadwal kerja, tapi oleh detak hatimu yang menyebut: الله… الله… الله…

Renungan

Mereka berkata: “Ini adalah era kemajuan…”
Padahal ruh kita justru merintih:

“Kapan aku pulang kepada-Mu, ya Rabb?”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca