Utopia Paradox 4:Hukum, Perang, dan Kekuasaan

Mengendalikan Nafsu Kekuasaan dalam Cahaya Thoriqot

🏰 1. Kekuasaan: Warisan Sejarah yang Tak Pernah Padam

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan”, dijelaskan bahwa setelah kebutuhan dasar manusia terpenuhi, muncul perebutan wilayah dan kekuasaan.

Dari desa kecil, lahir kerajaan. Dari hukum adat, lahir hukum negara. Tapi, kekuasaan justru menciptakan babak baru penderitaan:

  • Penaklukan
  • Pembunuhan
  • Perbudakan

📜 Kekuasaan awalnya untuk melindungi, tapi berubah menjadi alat penindasan.
Apa kata tasawuf tentang ini?


👑 2. Pandangan Islam: Kekuasaan adalah Amanah, Bukan Takhta

Dalam Islam, kekuasaan bukan hak. Ia adalah beban dan tanggung jawab yang berat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ، وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ»
“Kalian akan sangat berambisi terhadap kekuasaan, padahal itu akan menjadi penyesalan di Hari Kiamat. Ia nikmat saat menyusu, tapi buruk saat disapih.”
(HR. Bukhari)

💡 Thoriqot mendidik salik untuk menjauhi cinta kekuasaan, karena nafsu ini sangat halus dan mudah menipu.


⚔️ 3. Nafsu Kekuasaan: Pakaian Terhalus dari Nafs al-Ammarah

Para sufi mengajarkan bahwa nafsu kekuasaan lebih berbahaya daripada nafsu syahwat.
Sebab, ia dibungkus atas nama:

  • “membela kebenaran”
  • “amar ma’ruf”
  • “menegakkan syariat”

Padahal, sebenarnya hanya ingin mengendalikan orang lain, bukan menundukkan diri di hadapan Allah.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan:

“أعظم الفتن فتنة السلطان”
“Fitnah terbesar adalah fitnah kekuasaan.”


⚖️ 4. Hukum dan Kekerasan: Apakah Semua Aturan Menyejukkan?

Di masa kekaisaran, banyak hukum dibuat untuk mengatur rakyat, bukan memperbaiki hati.
Itu sebabnya muncul hukuman tanpa keadilan, penyiksaan tanpa belas kasih, bahkan agama dijadikan alat kekuasaan.

🔍 Tapi hukum dalam Islam berfungsi untuk membawa jiwa menuju kesadaran ruhani, bukan sekadar menertibkan publik.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَـٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ﴾
“Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat menegakkan keadilan.”
(QS. Al-Hadid: 25)

📿 Dalam thoriqot, keadilan bukan soal hukum formal, tapi tentang keseimbangan hati, jiwa, dan nafsu.


🌙 5. Thoriqot: Menundukkan Ego, Bukan Menundukkan Dunia

Berbeda dari sejarah peradaban yang penuh dengan keinginan menaklukkan, thoriqot mengajarkan untuk menaklukkan diri sendiri.

Nabi ﷺ bersabda setelah perang Badar:

«رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر»
“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.”
Lalu para sahabat bertanya: “Apa jihad besar itu?”
Beliau menjawab: “جهاد النفس”
“Melawan hawa nafsu.”

✨ Maka dalam tasawuf, pemimpin sejati adalah yang mampu memimpin dirinya sendiri, bukan yang memerintah ribuan manusia.


🧭 Kesimpulan: Ingin Berkuasa atau Ingin Merdeka?

Siapa yang mengejar kekuasaan, akan terus diburu oleh rasa takut kehilangan.
Tapi siapa yang tunduk kepada Allah, hatinya tidak dikuasai oleh siapapun.

🌾 Seperti kata para sufi:

“الحر من تحرر قلبه، لا من جلس على عرش”
“Orang merdeka adalah yang hatinya bebas, bukan yang duduk di atas singgasana.”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca