Utopia Paradox 2:Utopia & Surga — Dua Jalan Menuju Kebahagiaan

🕯️ Antara Impian Dunia dan Janji Akhirat

🏙️ 1. Utopia Duniawi: Sebuah Harapan yang Tak Pernah Selesai

Dalam video “Manusia Menjadi Tuhan” oleh Vian Flash, dibuka dengan satu pertanyaan besar:

Bisakah umat manusia mencapai kehidupan sempurna yang bebas dari penderitaan?

Jawaban dari narator adalah tegas: tidak.
Manusia, betapapun majunya teknologi dan sistem sosial, tetap tak bisa menciptakan utopia yang kekal. Kenapa?

Karena setiap langkah kemajuan, selalu menciptakan penderitaan baru. Ketika perang usai, lahir pandemi. Ketika pandemi hilang, lahir depresi ekonomi.
Manusia seperti berada dalam roda penderitaan yang terus berputar.

Namun di tengah itu semua, manusia terus berharap akan satu hal: kebahagiaan.
Dan di sinilah muncul pertanyaan kedua yang jauh lebih dalam:

🌿 Apakah kebahagiaan sejati bisa ditemukan di dunia ini?


🌌 2. Surga dalam Islam: Bukan Impian, Tapi Janji

Islam tidak membatasi manusia dari mencari kebahagiaan. Bahkan, dalam al-Qur’an, kebahagiaan itu dijanjikan dengan indah — tapi bukan di dunia.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ ﴾
“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah: 82)

Surga bukan ilusi. Ia nyata, tapi bukan di sini.
Tasawuf mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah madrasah ruhaniyah, tempat ujian bagi jiwa. Bukan tempat tinggal, tapi tempat singgah.

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin:

“الدنيا مزرعة الآخرة”
“Dunia adalah ladang bagi akhirat.”

Maka siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, akan kecewa. Tapi siapa yang melihat dunia sebagai jembatan menuju ridha Allah, ia akan bahagia meski tak memiliki segalanya.


3. Thoriqot: Jalan Ruhani Menuju Bahagia yang Hakiki

Dalam thoriqot (tarekat), para salik tidak diajarkan untuk mencari kenikmatan duniawi. Mereka belajar menyucikan hati agar layak menerima cinta Ilahi.

Tujuan mereka bukan rumah mewah, bukan status, bukan kenyamanan—melainkan:

الوصول إلى الله تعالى
“Sampai kepada Allah ﷻ.”

Bagaimana bisa bahagia, jika hati dipenuhi keinginan dunia yang tak ada habisnya?

📿 Nabi ﷺ bersabda:

«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ»
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka pun akan mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)

Kebahagiaan sejati, dalam jalan thoriqot, bukan dari terpenuhinya harapan, tapi dari lenyapnya hawa nafsu dan ridha atas semua yang datang dari-Nya.


💔 4. Mengapa Utopia Dunia Akan Selalu Gagal

Utopia yang ditawarkan oleh dunia modern bersifat horizontal—semua tentang kondisi sosial, ekonomi, dan teknologi.

Tapi dalam Islam, kebahagiaan adalah vertikal:
Antara hamba dengan Tuhannya.

Inilah perbedaan mendasarnya:

Konsep DuniaKonsep Thoriqot
Mencari kesempurnaan duniaMenerima ketidaksempurnaan dunia
Bergantung pada sistemBergantung hanya kepada Allah
Memuaskan nafsuMenundukkan nafsu
Mengejar kenikmatan fisikMembangun ketenangan batin

🕊️ 5. Penutup: Bahagia Itu Bukan Milik Dunia

Dunia ini bukan surga, maka jangan berharap ia menjadi sempurna.
Seperti kata Imam Syafi’i:

“من أراد صفوًا بلا كدر، فهو في طلب الجنة.”
“Siapa yang menginginkan hidup tanpa kesulitan, maka ia sedang merindukan surga.”

Manusia bisa membangun kota megah, sistem sosial canggih, bahkan kecerdasan buatan.
Namun selama jiwanya tidak kembali kepada Allah, semua itu akan hampa.


🌟 Renungan Bagi Jiwa

Jika hari ini engkau merasa lelah mengejar bahagia,
Mungkin bukan dunia yang kurang sempurna,
Tapi ruhmu yang rindu pulang pada-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca