Ziarah dan Syukur: Jalan Menuju Kekayaan yang Tak Tercuri

Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf berkata:

“Syukur itu mental dan karakter orang kaya. Maka jika ingin kaya, tumbuhkan mental kaya… karakter kaya.”

Dan kalimat itu terasa semakin terang saat beliau melanjutkan:

“Siapa yang ziarah ke wali untuk meminta, akan tambah susah. Tapi kalau datang untuk bersyukur, itulah jalan dimudahkannya urusan.”

Maka malam ini, aku belajar satu hal:
Ziarah bukan hanya tentang makam. Tapi tentang karakter.

Mental Peminta dan Mental Bersyukur

Ada dua jenis peziarah:

  • Mereka yang datang dengan mental peminta,
  • dan mereka yang datang dengan mental bersyukur.

Yang pertama datang membawa daftar panjang harapan:
“Ya wali, beri aku rezeki… jodoh… jabatan….”
Padahal yang dituju bukan Allah, tapi makam.
Padahal yang diminta bukan cinta, tapi dunia.

Yang kedua… datang dengan dada lapang.
Ia tak bawa apa-apa kecuali air mata dan rasa terima kasih.
Ia tahu, jika ia bisa sampai ke makam ini, itu pun sudah rezeki.
Ia duduk… hanya untuk menyampaikan:
“Aku tidak layak, tapi Engkau masih mencinta. Terima kasih.”

Dan justru di situlah letak rahasia kekayaan itu.

Karakter Kaya Itu Mampu Mengucap Terima Kasih

Syukur bukan sekadar “alhamdulillah” di bibir.
Syukur adalah perasaan cukup, meskipun belum punya semua.
Syukur adalah bahagia, meskipun belum terkabul semua doa.
Syukur adalah mampu memberi, bahkan saat masih merasa kurang.

Dan Abuya benar…
Orang yang bersyukur tidak pernah miskin.
Karena ia tidak mengukur kekayaan dari jumlah, tapi dari kelapangan hati.
Ia tidak mengukur rezeki dari materi, tapi dari kemampuan mencintai.

Ziarah Jadi Jalan Membentuk Karakter

Saat kau datang ke makam wali,
kau sedang diuji:
Apakah kau datang sebagai pengemis dunia
atau sebagai anak ruhani yang ingin belajar adab?

Para wali bukan tempat mengadu kesulitan.
Mereka adalah cermin yang mengingatkan kita:
“Lihat, aku tak punya apa-apa di dunia. Tapi aku kekasih Allah.”
Karena mereka punya satu harta yang tak bisa dicuri: syukur.

Syukur Menarik Rezeki, Pamrih Menarik Beban

Semakin kau syukuri, semakin Allah tambahkan:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, sungguh Aku akan tambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)

Tapi semakin kau mengeluh, semakin kau menjauh.
Semakin kau pamrih, semakin tertutup rezeki batin dan lahir.
Bukan karena Allah pelit.
Tapi karena kita sendiri menutup pintu keberkahan… dengan tangan yang penuh tuntutan.

Wali Tidak Butuh Permintaan Kita

Para wali tidak butuh kita datang dengan permintaan.
Mereka sudah berada dalam cahaya-Nya.
Yang mereka harapkan… hanyalah satu:
Agar kita pun ikut mencintai Allah seperti mereka mencintai-Nya.

Maka ziarahlah…
Bukan untuk meminta dunia.
Tapi untuk mencuci niat.
Untuk menata jiwa.
Untuk menyentuh rasa cukup.
Dan di sanalah, kekayaan sejati dilahirkan: dari hati yang tahu bersyukur, sebelum mendapatkan.


Jangan tunggu kaya untuk bersyukur. Tapi bersyukurlah, agar Allah buat kau kaya — luar dan dalam.

Ziarahlah untuk mengucapkan terima kasih…
dan saksikan bagaimana dunia datang kepadamu,
tanpa kau perlu meminta apa pun lagi.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca