Bukan Untuk Meminta

Malam itu angin berhembus pelan.
Langit diam.
Langkahku menuju makam seorang wali terasa berat. Bukan karena tubuhku lelah, tapi karena aku membawa begitu banyak harapan… dan ternyata, juga pamrih.
Di tengah sunyi itu, aku teringat pesan guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf.
Dengan suara tenang namun dalam, beliau berkata kepadaku:
“Siapa saja yang ziarah kepada wali — baik yang sudah wafat atau masih hidup — kalau datang untuk meminta, justru akan tambah susah. Seharusnya, kita datang untuk bersyukur… mengucapkan terima kasih. Karena sejatinya para wali itu menolong kita setiap detik.”
Aku terdiam.
Aku merasa ditampar, tapi dengan kelembutan seorang ayah.
Sudah berapa kali aku berziarah dengan hati yang hanya tahu meminta, bukan mencinta?
Sudah berapa banyak aku datang untuk mengadu soal dunia, tapi lupa mengucap terima kasih atas cahaya yang tak pernah padam?
Wali-Wali Itu Tak Pernah Tidur
Kita menyebut mereka “orang mati.”
Tapi kenyataannya… mereka tidak pernah benar-benar mati.
Mereka hidup, di sisi Allah.
Mereka mendengar — bukan dengan telinga dunia, tapi dengan ruh yang menyala.
Mereka menolong — bukan dengan tangan, tapi dengan kasih sayang yang mengalir terus dari Allah kepada mereka, dan dari mereka kepada umat.
Tapi saat kita datang membawa kantong permintaan, dengan niat yang keruh,
seolah mereka pelayan dunia kita,
kita sendiri yang menutup pintu cahaya itu.
Karena cinta tidak hidup dalam pamrih.
Cinta hanya menyala dalam adab.
Aku Duduk Di Samping Makam Itu…
Bukan untuk meminta kaya.
Bukan untuk meminta jodoh.
Bukan untuk mengadukan beban dunia.
Aku duduk di situ… hanya untuk diam.
Untuk merasakan bahwa aku sedang dekat dengan seseorang yang hidupnya sepenuhnya untuk Allah.
Seseorang yang rela tak dikenal dunia, asal dikenal oleh langit.
Seseorang yang setiap hela napasnya adalah dzikir, setiap langkahnya adalah dakwah, dan setiap tidur malamnya adalah doa untuk umat.
Aku duduk… untuk bersyukur.
Aku datang… untuk mengatakan:
“Terima kasih, karena engkau pernah hidup. Terima kasih, karena cintamu kepada Allah menjadi sebab aku masih mengenal Islam hari ini.”
Dan saat air mataku jatuh, aku tidak tahu lagi harus meminta apa.
Karena saat itu, aku merasa… aku sudah diberi semuanya.
Ziarah Itu Bukan Ritual, Tapi Rindu
Ziarah yang sejati bukan yang ramai oleh bacaan keras,
bukan yang penuh dengan daftar harapan duniawi.
Ziarah itu sepi… tapi dalam.
Ziarah itu bukan ke makam.
Ziarah itu pulang ke dalam diri,
lalu menghadap kepada Allah, dengan saksi: para kekasih-Nya.
Ziarah adalah rindu.
Dan rindu tak pernah banyak bicara.
Ia hanya duduk. Menunduk. Menangis.
Lalu pulang membawa sesuatu yang tak bisa dijelaskan…
tapi terasa begitu damai.
Kini Aku Tahu…
Kini aku tahu,
mengapa Abuya berkata:
“Kalau datang untuk meminta, akan tambah susah.”
Karena kita sedang berziarah ke rumah cinta,
bukan ke loket permintaan.
Dan cinta,
tak pernah diberi kepada hati yang datang hanya untuk mengambil.
Cinta hanya disambut oleh hati yang datang untuk mencintai.
Maka jika engkau ingin berziarah, bersihkan hatimu.
Bukan untuk mendapatkan sesuatu dari mereka.
Tapi untuk memberikan sesuatu:
rasa hormat,
rasa syukur,
dan cinta yang tulus.
Karena itulah yang membuat para wali menolong kita…
tanpa diminta.
Tanpa kita tahu.
Setiap detik.




Tinggalkan komentar