Menjawab Kritik dan Larangan Thoriqot Bisa Menyesatkan

Thoriqot sebagai jalan spiritual dalam Islam telah mengalami banyak perkembangan dan diterima oleh banyak umat Islam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, di tengah perjalanan spiritual ini, tidak jarang muncul kritik dan keraguan dari sebagian orang yang mempertanyakan apakah thoriqot benar-benar sesuai dengan ajaran Islam atau justru menyesatkan.

Pada artikel ini, kita akan membahas berbagai kritik yang sering dilontarkan terhadap thoriqot dan menjawabnya dengan mengacu pada Al-Qur’an, Hadits, serta pemahaman Islam yang benar. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memberikan pencerahan dan klarifikasi, agar umat Islam dapat lebih memahami betapa thoriqot, bila dipraktikkan dengan benar, adalah bagian yang sahih dari ajaran Islam.

Kritik Umum terhadap Thoriqot

  1. Tuduhan Bid’ah (Inovasi dalam Agama)
    Salah satu kritik paling umum yang sering diajukan terhadap thoriqot adalah tuduhan bahwa thoriqot adalah sebuah bid’ah, yaitu inovasi atau penambahan dalam ajaran Islam yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Mereka yang mengkritik thoriqot berpendapat bahwa ajaran ini tidak ada pada masa Rasulullah ﷺ dan sahabat, sehingga tidak bisa dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam yang sahih.
  2. Praktik yang Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits
    Beberapa kritik lainnya berfokus pada praktik-praktik tertentu dalam thoriqot, seperti penggunaan dzikir tertentu atau ritual khusus yang tidak dijumpai secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan Hadits. Ada yang berpendapat bahwa ritual-ritual ini bisa menyesatkan atau bahkan mengarah pada syirik, meskipun niatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Penyimpangan Ajaran yang Diajarkan oleh Mursyid
    Ada juga kritik yang mengatakan bahwa sebagian mursyid dalam tarekat-tarekat tertentu bisa menyimpang dari ajaran Islam yang sahih, mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, atau memperkenalkan praktek-praktek yang tidak diizinkan dalam Islam.

Menjawab Kritik tentang Bid’ah

Sebagian orang beranggapan bahwa thoriqot adalah sebuah bid’ah karena dianggap sebagai hal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ secara eksplisit. Namun, perlu dicatat bahwa istilah bid’ah dalam Islam tidak selalu memiliki konotasi negatif. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Dalil Hadits:

“Setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat, kecuali yang sesuai dengan sunnah.”
(HR. Muslim)

Namun, tidak semua bid’ah itu buruk. Bid’ah yang dianggap baik adalah bid’ah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan bertujuan untuk meningkatkan kebaikan umat Islam, bukan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Thoriqot tidak menciptakan praktik baru yang bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan sebuah jalan untuk memperdalam ajaran-ajaran yang sudah ada, seperti dzikir, penyucian hati, dan perbaikan akhlak. Jika thoriqot dipraktikkan dengan benar, berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, maka itu bukanlah bid’ah yang sesat, melainkan cara yang sahih untuk meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Dalil Al-Qur’an:
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَمَرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa yang membuat suatu kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala, dan pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim)

Menjawab Kritik tentang Praktik yang Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits

Kritik lainnya yang sering muncul adalah tentang praktik-praktik tertentu dalam thoriqot, seperti dzikir berjamaah dengan cara tertentu atau penggunaan wirid khusus. Beberapa orang berpendapat bahwa hal tersebut tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan bisa berpotensi menyesatkan.

Namun, perlu dipahami bahwa banyak dari praktik ini berakar pada ajaran yang sangat mendalam dalam Islam, yaitu tentang dzikir kepada Allah. Dzikir adalah amal ibadah yang sangat penting dalam Islam, dan dalam thoriqot, dzikir tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan hati yang penuh kesadaran dan penghayatan.

Dalil Al-Qur’an:
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 152)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling banyak mengingat Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Praktik dzikir dalam thoriqot, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an atau Hadits, tetap berpegang pada prinsip dasar yaitu mengingat Allah. Yang penting adalah bahwa praktik tersebut tidak menyimpang dari ajaran dasar Islam dan tidak mengandung unsur syirik.

Menjawab Kritik tentang Penyimpangan Ajaran oleh Mursyid

Seperti halnya dalam segala disiplin ilmu dan praktik, ada kemungkinan bahwa beberapa mursyid tidak mengikuti ajaran yang benar atau bahkan menyimpang dari ajaran Islam yang sahih. Namun, hal ini bukanlah kesalahan dari thoriqot itu sendiri, melainkan akibat dari penyimpangan individu. Oleh karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memilih mursyid yang benar-benar berilmu dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an dan Hadits.

Untuk itu, seorang salik harus bijak dalam memilih mursyid yang sesuai, yang telah diakui oleh umat Islam sebagai seorang yang benar-benar memahami ajaran Islam dan memiliki akhlak yang mulia.

Dalil Hadits:
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Tirmidzi)

Mursyid yang baik akan selalu merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits dalam bimbingannya, serta menjaga agar setiap praktik spiritual tetap berada di jalur yang benar.

Kesimpulan

Kritik yang menyebut thoriqot sebagai bid’ah atau menyesatkan sering kali muncul karena ketidakpahaman terhadap tujuan dan prinsip dasar thoriqot itu sendiri. Thoriqot, apabila dipraktikkan dengan benar, adalah jalan yang sahih dan sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan banyak dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menekankan pentingnya dzikir, penyucian hati, dan berserah diri kepada Allah.

Thoriqot bukanlah praktik yang menyimpang, melainkan sebuah sarana untuk memperdalam ajaran Islam dan mencapai kedekatan dengan Allah. Untuk itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memilih mursyid yang sahih dan selalu berpegang pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian, thoriqot akan tetap menjadi jalan yang benar dalam mendekatkan diri kepada Allah.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca