“Aku Ingin Dicintai, Bukan Dinilai”

Renungan Tentang Jiwa yang Rindu Diterima Apa Adanya

Di dalam diriku yang terdalam,
ada sebuah kerinduan yang tak pernah benar-benar padam:
aku ingin dicintai.

Bukan karena aku hebat.
Bukan karena aku selalu benar.
Bukan karena aku memenuhi standar yang orang tetapkan.
Tapi karena… aku adalah aku.
Dengan semua luka, proses, dan ketidaksempurnaanku.


Tapi dunia…
tidak selalu memberi cinta seperti itu.

Dunia sibuk menilai.
Siapa yang paling berhasil,
siapa yang paling cerdas,
siapa yang paling taat,
siapa yang paling pantas dikagumi.

Dan aku sering merasa gagal memenuhi semua itu.
Aku tidak selalu konsisten.
Tidak selalu kuat.
Tidak selalu baik.
Bahkan… kadang aku pun tak tahu siapa diriku yang sebenarnya.


Aku mulai merasa asing,
karena setiap tempat yang kutuju
selalu menuntut versi terbaik dari diriku—
versi yang belum tentu aku miliki setiap waktu.

Lalu aku bertanya…
“Adakah tempat yang bisa kucari…
di mana aku tidak dinilai, tapi dipeluk?”


Dan saat aku letih,
aku datang ke sejadah.
Bersimpuh dalam diam,
mencoba bicara tanpa kata,
dan hanya membiarkan air mata menjelaskan semuanya.

Dan di situ aku temukan jawabannya:
Allah.
Tempat di mana aku bisa pulang,
tanpa harus menjelaskan siapa diriku hari ini.

Tempat di mana cinta tak menunggu aku sempurna.
Tempat di mana tangis tak membuatku terlihat lemah,
tapi justru membuatku lebih dekat.


Hari ini aku sadar…
aku tak sedang mencari tempat tertinggi di dunia,
tapi tempat ternyaman untuk menjadi hamba.

Dan ternyata,
tempat itu bukan ruang mewah,
bukan panggung, bukan layar,
tapi sujud yang tulus di keheningan malam.


Jika suatu hari aku kembali tersesat,
dan merasa bahwa aku tak cukup baik untuk dicintai,
aku ingin tulisan ini mengingatkanku:
“Allah tak menilaimu seperti manusia menilai.
Dia mengenal hatimu lebih dari kamu mengenal dirimu sendiri.
Dan Dia mencintaimu… karena kamu datang kepada-Nya meski dalam keadaan tak sempurna.”


“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad),
niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu…”

(QS. Ali Imran: 31)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca