Renungan Tentang Lari Tanpa Tujuan, Lelah Tanpa Jawaban

Setiap hari aku bangun lebih awal.
Berpacu dengan waktu.
Mengejar target, menyelesaikan kewajiban,
berusaha jadi “berguna” di mata orang lain.

Aku mengejar…
prestasi, pengakuan, validasi, stabilitas.
Semua kata yang terdengar baik,
tapi entah mengapa…
semakin aku kejar,
semakin aku merasa jauh dari diriku sendiri.


Hari-hariku penuh dengan to-do-list.
Penuh dengan janji yang harus ditepati.
Penuh dengan hal-hal yang harus dikejar agar tak tertinggal.
Tapi ketika malam tiba,
dan semua selesai—
yang tersisa hanya lelah.

Lelah yang aneh.
Bukan di tubuh, tapi di jiwa.
Seolah ada sesuatu yang terus kutinggalkan…
setiap kali aku berlari terlalu cepat.


Aku mulai bertanya,
“Kalau aku terus mengejar…
tapi tak pernah merasa sampai,
maka apa sebenarnya yang kucari?”

Apakah aku sedang mengejar sesuatu yang benar?
Ataukah aku hanya terjebak dalam perlombaan yang tak pernah kuundang diriku sendiri untuk ikut?


Aku sadar.
Mungkin yang paling membuatku lelah bukan pekerjaan,
tapi ketiadaan arah.
Aku hanya mengikuti arus,
mengulang sistem yang diwariskan zaman:
Belajar, kerja, sukses, pensiun, mati.

Tapi jiwa…
jiwa ini butuh lebih dari sekadar sistem.
Ia butuh makna.
Ia butuh jalan untuk pulang.


Dalam sepi malam, aku mencoba berhenti sejenak.
Bukan untuk istirahat.
Tapi untuk mendengar lagi suara hatiku.
Dan aku mendapati bahwa semua yang benar-benar aku rindukan…
bukan ada di depan sana,
tapi ada di Atas Sana.

Aku ingin sampai—
bukan pada jabatan atau properti,
tapi pada kedamaian yang tak bisa dibeli.


Hari ini aku belajar,
bahwa tak semua yang terlihat penting layak dikejar.
Bahwa kejaran yang paling mulia adalah mendekat pada Allah.
Bahwa sampai yang sesungguhnya adalah saat aku bisa merasa cukup…
karena Dia bersamaku.


Jika suatu hari aku kembali lupa,
dan kembali berlari terlalu cepat,
aku ingin renungan ini membisikkan pelan:
“Berhenti bukan berarti kalah…
kadang itu satu-satunya cara agar aku tak kehilangan diriku sepenuhnya.”


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…”

(QS. Al-Qashash: 77)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca