“Aku Sedang Berubah, Tapi Tak Sanggup Menjelaskan”

Renungan Tentang Perjalanan Sunyi yang Tak Selalu Dimengerti

Akhir-akhir ini…
aku merasa ada yang berbeda dalam diriku.
Bukan perubahan yang bisa kulukiskan dengan kata-kata,
tapi aku tahu:
aku tak lagi sama.

Dunia yang dulu terasa penting, kini mulai redup.
Tawa yang dulu kucari, kini tak lagi memberi arti.
Suara ramai mulai melelahkan,
dan sepi justru mulai terasa seperti rumah.

Aku sedang berubah.
Tapi aku sendiri pun belum selesai memahami apa yang sebenarnya sedang berubah.
Yang aku tahu hanyalah…
aku tak lagi nyaman menjadi seperti dulu.


Aku tak sedang marah.
Aku juga tak sedang menjauh karena kecewa.
Aku hanya…
sedang berjalan.
Meninggalkan yang lama,
menuju sesuatu yang baru—yang bahkan belum sepenuhnya kupahami.

Dan yang membuatku sedih adalah…
aku tak sanggup menjelaskannya pada siapa pun.
Karena bagaimana mungkin aku menjelaskan perubahan,
jika aku sendiri masih belajar menerimanya?


Aku mulai menjauh dari beberapa hal.
Dari beberapa orang.
Bukan karena benci,
tapi karena jiwaku butuh ruang untuk tumbuh.

Aku mulai diam di tempat yang dulu ramai.
Aku mulai menolak ajakan yang dulu selalu kuiyakan.
Aku mulai ingin menyendiri—bukan untuk menghilang,
tapi untuk menemukan kembali diriku yang hilang.


Mungkin sebagian orang akan merasa aku berubah.
Menjadi aneh. Menjadi berbeda.
Dan mungkin mereka tak akan suka.
Tapi tak apa…
karena aku tahu,
perjalanan ini bukan untuk menyenangkan semua mata,
tapi untuk menenangkan satu hati:
hatiku sendiri—yang rindu pulang kepada Allah.


Hari ini aku belajar,
bahwa tidak semua perubahan harus dijelaskan.
Tidak semua langkah harus dimengerti.
Ada perjalanan yang harus dilalui sendiri.
Dalam diam. Dalam dzikir. Dalam tangis.

Dan itu tidak membuatku salah—
itu hanya berarti aku sedang kembali menjadi diriku sendiri.


Jika suatu hari aku tergoda untuk menjelaskan semuanya,
aku ingin renungan ini mengingatkanku:
“Tidak apa-apa jika mereka tak mengerti…
yang penting, Allah tahu bahwa aku sedang berjalan pulang kepada-Nya.”


“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’,
lalu mereka istiqamah,
maka malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata):
‘Jangan takut dan jangan bersedih hati…’”

(QS. Fussilat: 30)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca