Thoriqot bukanlah jalan opsional bagi siapa saja yang ingin “lebih religius”, tapi merupakan jalur pemurnian jiwa yang menjadi kebutuhan setiap Muslim. Ketika seseorang meninggalkan thoriqot, artinya ia menunda—bahkan membahayakan—penyucian hatinya. Padahal, hati adalah pusat penentu keselamatan amal, dan tanpa pembersihannya, amal-amal lahir bisa hampa makna.
Dalam seri ini, kita akan membahas bahaya meninggalkan thoriqot dari sisi ruhani, bagaimana penyakit hati berkembang tanpa pengawasan spiritual, dan dampaknya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
—
1. Islam Memerintahkan Penyucian Hati
Allah mewajibkan kita untuk menjaga hati tetap bersih, karena seluruh amal akan dinilai berdasarkan keadaan hati.
Dalil Al-Qur’an:
> يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ • إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Hadits:
> “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Thoriqot adalah sistem untuk memastikan hati terus disucikan. Jika ia ditinggalkan, penyakit-penyakit hati akan tumbuh tanpa terdeteksi.
—
2. Penyakit-Penyakit Hati yang Menggerogoti Ruhani
a. Riya’ (Pamer dalam Ibadah)
Amal terlihat ikhlas, tapi niat tersembunyi untuk mendapatkan pujian.
b. Ujub (Merasa Hebat karena Ibadah)
Orang merasa dirinya suci karena rajin ibadah, tanpa menyadari bahwa semua kekuatan datang dari Allah.
c. Hasad (Iri Hati)
Tak tahan melihat orang lain bahagia. Hasad membakar pahala seperti api membakar kayu kering.
d. Takabbur (Kesombongan)
Menilai orang lain rendah. Inilah dosa pertama Iblis yang membuatnya terusir.
Tanpa thoriqot dan bimbingan mursyid, penyakit-penyakit ini akan terus bersarang walau seseorang terlihat “sholeh” di permukaan.
—
3. Bahaya Spiritual Meninggalkan Jalan Thoriqot
a. Tertipu oleh Amal
Merasa cukup dengan ibadah lahiriah, tanpa menyadari penyakit hati yang tersembunyi. Inilah orang yang banyak amal tapi kosong dari cahaya.
> أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا
“Maka apakah orang yang dihiasi (oleh setan) perbuatan buruknya lalu ia melihatnya sebagai kebaikan?”
(QS. Fathir: 8)
b. Kering Ruhani, Gagal Ma‘rifat
Amal ibadah dilakukan tanpa rasa, tanpa ruh. Hati tidak khusyuk, tidak menikmati dzikir, dan tidak rindu kepada Allah.
c. Rentan Dikuasai Hawa Nafsu
Tanpa mujahadah (latihan melawan nafsu) yang ada dalam thoriqot, manusia akan menjadi budak syahwat dan cinta dunia.
> أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
—
4. Jalan Syariat Tanpa Thoriqot Bisa Membawa Keras Hati
Terlalu fokus pada hukum luar tanpa menyentuh batin bisa menjadikan seseorang keras, mudah menghakimi, dan merasa paling benar. Padahal Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak dan melembutkan hati.
> فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
“Maka dengan rahmat Allah engkau (Muhammad) bersikap lemah-lembut kepada mereka.”
(QS. Ali Imran: 159)
—
5. Jalan Thoriqot Menjaga dari Kesesatan Halus
Ada banyak penyimpangan batin yang tidak tampak oleh akal atau ilmu fikih. Di sinilah peran mursyid dalam thoriqot—ia menjadi cermin batin, bukan hanya pengajar hukum.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan.”
(Mauquf dari sebagian ulama, maknanya sahih secara ruhani)
—
Kesimpulan
Meninggalkan thoriqot berarti menunda—atau bahkan menutup—pintu pembersihan jiwa. Padahal, keberhasilan hidup dan keselamatan akhirat sangat bergantung pada kesucian hati. Seseorang bisa ahli ibadah, hafal dalil, dan aktif berdakwah, tapi jika hatinya rusak, maka semua itu bisa menjadi sia-sia.
Thoriqot hadir sebagai jalan kasih sayang Allah untuk membersihkan kita secara batin. Ia menjaga dari riya, ujub, hasad, dan menuntun kita kepada cinta dan keikhlasan. Meninggalkannya sama saja dengan membiarkan penyakit batin terus tumbuh tanpa obat.
—



Tinggalkan komentar