“Bukan Dunia yang Berat, Tapi Aku yang Lupa Bersandar”

Renungan Tentang Lelah yang Tidak Seharusnya Ditanggung Sendiri

Ada masa-masa dalam hidupku di mana semuanya terasa terlalu berat.
Bangun tidur seperti terhimpit,
berjalan seperti diseret,
tersenyum seperti kewajiban… bukan kebahagiaan.

Hari-hariku dipenuhi kewajiban.
Tugas yang harus selesai.
Tagihan yang harus dibayar.
Harapan orang lain yang harus kutunaikan.
Semua seperti menumpuk…
dan aku berdiri di bawahnya, sendirian.


Aku pernah berpikir:
“Kenapa hidup seberat ini?
Kenapa rasanya aku yang paling lelah?
Kenapa yang lain terlihat kuat, sedangkan aku nyaris runtuh?”

Tapi pelan-pelan, dalam keheningan yang jujur,
aku menemukan jawabannya.
Bukan dunia yang terlalu berat…
tapi aku yang terlalu sering melupakan Allah saat memikulnya.


Aku terbiasa mengandalkan pikiranku sendiri.
Logika. Strategi. Rencana.
Aku berjuang… dan aku bangga bisa bertahan.
Tapi ada satu hal yang aku lupakan:
jiwaku juga butuh sandaran.

Bukan sekadar tempat mengadu,
tapi tempat untuk berserah.
Tempat di mana aku tak harus berpura-pura kuat.
Tempat di mana air mata tak dianggap lemah—tapi justru bentuk paling jujur dari iman.


Dulu aku kira bersandar itu tanda menyerah.
Tapi kini aku tahu…
bersandar kepada Allah bukanlah kelemahan.
Justru itulah kekuatan sejati.
Karena hanya Dia yang tak pernah lelah,
tak pernah menolak,
tak pernah menuntut lebih dari yang mampu kupikul.


Saat pundakku nyaris patah,
aku bersujud.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku benar-benar berkata dari hati:
“Ya Allah… aku tak kuat. Tapi Engkau Maha Kuat.
Jadi izinkan aku bersandar lagi kepada-Mu.”

Dan anehnya,
meski bebanku tak langsung hilang,
tapi hatiku menjadi ringan.
Karena kini aku tahu,
aku tidak sendirian.


Hari ini aku belajar,
bahwa tidak semua masalah harus segera selesai.
Yang penting adalah aku menghadapinya bersama Allah.

Dan jika suatu hari aku kembali merasa dunia terlalu berat,
aku ingin tulisan ini mengingatkanku:
“Mungkin bukan dunia yang salah.
Mungkin aku hanya terlalu lama berjalan tanpa menggandeng-Nya.”


“Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai tempat bergantung.”
(QS. Al-Ahzab: 3)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca