“Guru Adalah Anugerah Paling Luar Biasa dari Allah”

Renungan Seorang Murid yang Belajar Bersyukur

Aku merenung dalam diam,
mengulang jejak perjalanan batinku selama ini.
Begitu banyak fase—naik turun, terang gelap, semangat dan lalai.
Dan di antara semua itu,
ada satu hal yang tak pernah berubah:
keberadaan seorang guru.


Dulu aku kira,
perubahan dalam diriku datang karena dzikir yang kulafadzkan,
karena amal yang kulakukan,
karena usaha keras yang kutempuh.

Tapi semakin jauh aku melangkah,
semakin aku tahu…
tanpa guru, aku bukan apa-apa.


Guru bukan sekadar pengajar.
Ia adalah penjaga.
Ia adalah lentera.
Ia adalah tanda cinta dari Allah yang sangat diam-diam,
tapi sangat dalam pengaruhnya.

Di saat aku goyah,
ia menguatkan dengan diamnya.
Di saat aku jatuh,
ia tak menyalahkan—ia menunggu.
Di saat aku kehilangan arah,
ia tak menunjuk jalan…
tapi menuntun tangan dengan sabar.


Dan yang lebih dari semua itu:
Guru mengajariku mencintai Rasulullah ﷺ.
Bukan dengan banyak kata,
tapi dengan contoh yang membuatku malu sendiri.

Ia tidak memaksa,
tapi hatiku terus-menerus disentuh oleh getaran cintanya kepada Nabi.
Dari cara ia menyebut nama Rasul,
dari cara ia menyampaikan sholawat,
dari cara ia memperlakukan hidup—
semuanya membuatku ingin…
menjadi bagian dari umat yang benar-benar mencintai kekasih Allah.


Kini aku tahu…
Guru bukan manusia biasa yang lewat dalam hidupku.
Ia adalah anugerah,
pintu yang dibuka Allah untukku,
agar aku mengenal Rasulullah.
Agar aku tahu jalan pulang.
Agar aku belajar mencintai…
bukan dengan ambisi,
tapi dengan rendah hati.


Hari ini aku bersyukur.
Bukan karena aku sudah sampai.
Tapi karena Allah tak meninggalkanku sendirian di jalan ini.
Dia mengirimkan seorang guru…
yang diam-diam selalu mendoakanku,
yang sabar menuntunku,
yang tanpa pamrih menjaga ruhani ini agar tetap hidup.


Dan jika suatu hari aku mulai lalai,
mulai sombong,
mulai merasa mampu berjalan sendiri,
aku ingin tulisan ini mengingatkanku:
“Tak ada langkahmu yang berarti tanpa cahaya dari guru.
Bersyukurlah… karena Allah masih mencintaimu lewat kehadiran beliau.”


“Barang siapa memuliakan orang yang mengajarkannya walau satu huruf,
maka dia telah memuliakan ilmunya, dan siapa yang memuliakan ilmu,
maka dia telah memuliakan Allah.”

(Imam Abu Hanifah)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca