Banyak orang keliru memahami bahwa thoriqot dan hakikat adalah jalan yang berbeda dari syariat. Padahal dalam Islam, ketiganya adalah satu kesatuan utuh: syariat adalah kulitnya, thoriqot adalah jalannya, dan hakikat adalah isinya. Syariat tanpa thoriqot bisa menjadi kaku dan kering, sedangkan thoriqot tanpa syariat bisa tersesat dan menyimpang. Hakikat tanpa keduanya hanyalah angan kosong.

Seri ini hadir untuk meluruskan kesalahpahaman yang menganggap thoriqot sebagai tambahan ajaran atau bahkan penyimpangan, padahal ia adalah jantung dari Islam yang hidup.

1. Syariat, Thoriqot, dan Hakikat dalam Definisi Para Ulama

Syariat
Adalah aturan lahiriah: hukum-hukum fiqh, tata cara ibadah, halal-haram, dan muamalah.

Thoriqot
Adalah proses batin dalam menjalankan syariat: keikhlasan, mujahadah, muraqabah, dan latihan jiwa menuju Allah.

Hakikat
Adalah buah dari perjalanan itu: tersingkapnya realitas, kedekatan dengan Allah, fana dalam kehendak-Nya.

> Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Semua jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang meneladani Rasulullah ﷺ secara lahir dan batin.”

2. Syariat Tanpa Thoriqot: Kering dan Mudah Menghakimi

Orang yang hanya menguasai syariat luar tanpa menyentuh batin:

Gampang menyalahkan orang lain.

Sulit khusyuk dalam ibadah.

Cenderung merasa benar sendiri.

Menyempitkan rahmat Allah.

Padahal Rasulullah ﷺ adalah puncak syariat dan hakikat. Ibadah beliau penuh cinta, doa-doanya penuh tangis, dan akhlaknya penuh rahmat.

> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’: 107)

3. Thoriqot Tanpa Syariat: Menyesatkan

Sebagian orang menyangka bisa langsung mencapai hakikat tanpa perlu mempelajari syariat dan menjalani aturan agama. Inilah kebodohan ruhani yang berbahaya. Ada yang berdzikir tapi meninggalkan shalat, merasa dekat dengan Allah tapi tak peduli halal-haram. Ini bukan thoriqot, tapi hawa nafsu berkedok spiritualitas.

Kaidah para ulama tasawuf:

> “Man syaghala bil-haqîqah duna al-syarî‘ah fa huwa zindîq.”
“Siapa yang hanya sibuk dengan hakikat dan meninggalkan syariat, maka ia adalah zindiq (penyimpang).”

4. Hakikat Adalah Buah dari Syariat dan Thoriqot

Orang yang menempuh syariat dengan batin yang bersih melalui thoriqot, akan sampai pada hakikat:

Merasakan kehadiran Allah dalam shalat.

Merasa cukup hanya dengan Allah.

Tidak berharap pada makhluk.

Tidak takut pada apapun kecuali Allah.

Itulah fana’ (sirna dari ego), dan baqa’ (kekal dalam kehendak Allah). Bukan berarti hilang dari dunia, tapi ruhnya lepas dari keinginan dunia.

> وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan barang siapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

5. Ilmu Tanpa Rasa: Tidak Menghidupkan

Tanpa thoriqot, ilmu agama bisa menjadi beban. Hafal ayat, tahu hukum, tapi hatinya keras dan tak bergetar saat mendengar nama Allah. Inilah bahaya ilmu tanpa ruh. Thoriqot menghidupkan ilmu dengan rasa: ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar hafalan.

6. Pentingnya Keseimbangan: Syariat + Thoriqot = Sempurna

> Syariat = pelita, Thoriqot = jalan, Hakikat = tujuan.

Tidak bisa mencapai tujuan tanpa berjalan. Tidak bisa berjalan tanpa penerangan.

Syariat menjaga kita dari kesalahan,
Thoriqot membimbing hati menuju keikhlasan,
Hakikat adalah anugerah dari Allah bagi yang bersungguh-sungguh.

Kesimpulan

Syariat, thoriqot, dan hakikat adalah satu bangunan utuh. Tidak bisa dipisahkan. Menolak salah satunya sama saja dengan membangun rumah tanpa pondasi atau tanpa atap. Thoriqot bukan tambahan, tapi adalah jembatan yang menghubungkan syariat kepada hakikat. Inilah ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, kemudian diwariskan kepada para wali dan ulama sepanjang zaman.

Siapa yang ingin mengenal Allah dengan benar, maka ia harus menyucikan jiwanya. Dan siapa yang ingin menyucikan jiwanya, maka ia membutuhkan jalan yang terjaga—itulah thoriqot.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca