Renungan Tentang Hidup yang Terlalu Sibuk, Tapi Tak Sempat Siap Pulang

Pernahkah kamu bertanya seperti ini…
saat semuanya hening,
di tengah malam,
ketika semua notifikasi berhenti
dan suara hanya datang dari dalam dirimu?

“Jika aku mati hari ini…
apa yang sudah aku bawa pulang?”

Aku bertanya itu pada diriku sendiri, pelan-pelan.
Bukan karena aku sakit.
Bukan karena aku dalam bahaya.
Tapi karena akhir-akhir ini,
hidupku terasa seperti rutinitas panjang yang tak pernah sempat kutanyakan arah dan tujuannya.

Aku hidup. Sibuk. Produktif.
Tapi… untuk siapa? Untuk apa?

Jika malaikat datang sekarang,
dan berkata: “Waktumu sudah selesai…”
apa yang bisa kujawab?

Apakah aku akan menunjukkan saldo tabungan?
Rekam jejak pekerjaanku?
Sertifikat penghargaan?
Gadget terbaru?

Lalu kutanya diriku lagi…
“Adakah dari semua itu yang bisa menemaniku dalam liang sempit dan gelap?”

Aku mulai merasa…
selama ini aku begitu sibuk menata dunia,
tapi lupa menyiapkan bekal untuk kampung akhirat.
Sibuk mengumpulkan,
tapi lupa menyucikan.
Sibuk memoles citra,
tapi lupa merawat jiwa.

Aku ingat sebuah kalimat yang pernah kudengar di majelis dzikir:

> “Hidup bukan soal seberapa lama kau tinggal di bumi,
tapi seberapa dekat jiwamu dengan langit.”

Dan aku…
aku bahkan tak tahu kapan terakhir kali aku menangis dalam sujud.
Kapan terakhir kali aku membaca Al-Qur’an bukan karena kewajiban,
tapi karena rindu.
Kapan terakhir aku bersedekah dengan ikhlas,
bukan untuk pencitraan.
Kapan terakhir kali aku merasa cukup hanya dengan Allah?

Jika aku mati hari ini,
apakah aku mati dalam keadaan yang Allah ridhai?
Ataukah aku mati dalam kesibukan dunia…
dan tak sempat berpamitan dengan jiwaku sendiri?

Hari ini aku belajar,
bahwa kematian bukan untuk ditakuti—tapi untuk disiapkan.
Bahwa hidup bukan tentang berapa banyak yang kukumpulkan,
tapi berapa dalam aku sempat menyentuh makna.

Dan jika suatu hari aku kembali tenggelam dalam dunia,
aku ingin renungan ini membisikkan:
“Jangan tunggu tua untuk pulang…
karena tak ada janji bahwa esok masih menjadi milikmu.”

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…”
(QS. Ali Imran: 185)



Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca