
Kadang aku duduk sendiri…
tanpa suara, tanpa tujuan.
Di tengah semua pencapaian yang dulu kuraih dengan gemetar bahagia,
aku justru merasa hampa.
Entah kenapa…
semakin banyak yang kupunya,
semakin sedikit yang bisa membuatku benar-benar bersyukur.
Aku punya rumah. Tapi jarang pulang ke dalam diriku.
Aku punya uang. Tapi sering cemas akan hari esok.
Aku punya banyak hal… tapi tak tahu apa yang benar-benar berarti.
Dan yang paling aneh…
aku sering merasa lelah—bukan karena sibuk,
tapi karena jiwa ini seperti tak tahu ke mana harus berpulang.
—
Pernah suatu malam, aku rebah dalam gelap dan bertanya:
“Apa benar ini hidup yang kucari?”
Kenapa hati tak kunjung tenang,
meski aku bisa membeli apapun yang ingin kumakan?
Kenapa tidur tak lagi lelap,
meski kasurku lebih empuk dari tempat tidurku semasa kecil dulu?
Ada yang hilang.
Bukan di luar. Tapi di dalam.
Dan semakin aku berusaha menutupinya dengan kesibukan,
semakin sunyi terasa bising.
—
Aku mulai sadar…
bahwa kekosongan ini bukan karena dunia tak cukup,
tapi karena aku lupa membawa Allah ke dalamnya.
Aku menumpuk pencapaian,
tapi melupakan sujud yang menangis.
Aku memeluk gelar dan angka,
tapi membiarkan hatiku kelaparan dzikir.
Kupikir, waktu akan menyembuhkan ini.
Tapi ternyata bukan waktu—melainkan kembali.
—
Kembali pada diriku yang dulu tahu rasanya bergantung penuh kepada Allah.
Kembali pada kalimat “hasbunallahu wa ni‘mal wakil”
yang dulu menenangkan lebih dari seribu strategi.
Kembali pada malam-malam sunyi yang penuh bisikan doa
dan dada yang ringan karena percaya.
—
Sekarang aku mengerti…
bahwa harta yang sesungguhnya bukan yang kubawa di dompet,
tapi yang menetap sebagai syukur dalam dada.
Aku ingin kaya…
tapi kaya yang tidak membuatku takut kehilangan.
Kaya yang tidak membutakan mataku dari akhirat.
Kaya yang lahir dari rasa cukup,
dari yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambanya yang kembali.
—
Jika suatu saat aku lupa lagi…
dan aku pasti akan lupa,
aku ingin tulisan ini menjadi pengingat:
bahwa perjalanan hidup yang sejati bukan soal sejauh apa aku berlari,
tapi seberapa dalam aku kembali.
Kembali ke Allah.
Kembali ke dzikir.
Kembali ke jiwa yang tenang.
—
“Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub.”
Hanya dengan mengingat Allah…
hanya dengan mengingat Allah…
hanya dengan mengingat Allah…
hatiku bisa tenang.
—



Tinggalkan komentar