Di tengah derasnya arus pemikiran modern, banyak Muslim merasa cukup dengan menjalankan Islam sebatas pada syariat lahiriah seperti shalat, puasa, dan zakat. Namun, Islam bukan sekadar ritual; ia adalah agama yang menyentuh seluruh aspek kehidupan—termasuk batin dan perjalanan spiritual menuju Allah. Di sinilah peran thoriqot menjadi sangat penting. Thoriqot membantu kita melampaui kulit luar agama menuju inti terdalam: ma’rifatullah (mengenal Allah secara hakiki). Dalam seri ini, kita akan membahas secara mendalam: mengapa kita perlu belajar thoriqot?

1. Islam Mewajibkan Penyucian Jiwa

Tujuan utama agama bukan hanya menciptakan masyarakat yang taat secara lahiriah, tetapi juga membersihkan batin manusia dari penyakit-penyakit hati. Thoriqot adalah sistem pendidikan rohani yang secara khusus menangani tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Dalil Al-Qur’an:

> قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Ash-Shams: 9–10)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menghindarkan Diri dari Sifat Munafik dan Riya

Banyak amal lahiriah bisa terlihat indah dari luar, namun hampa dari keikhlasan. Riya, ujub, takabbur—semua ini adalah penyakit hati yang hanya bisa ditangani melalui latihan-latihan ruhani dalam thoriqot. Thoriqot melatih seorang salik agar senantiasa memeriksa niat, membersihkan hati, dan menyandarkan amal hanya kepada Allah.

Dalil Al-Qur’an:

> وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

3. Membentuk Akhlak Mulia, Bukan Hanya Ibadah Formal

Thoriqot bukan hanya membentuk salik menjadi hamba yang taat beribadah, tetapi juga membentuk akhlak: tawadhu, sabar, kasih sayang, rendah hati, dan amanah. Tujuan utama Rasulullah ﷺ diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak, dan thoriqot berjalan pada misi ini.

Hadits:

> “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

4. Mewujudkan Ibadah Sebagai Rasa Butuh, Bukan Kewajiban Kaku

Orang yang hanya memahami Islam pada tingkat fikih cenderung melihat ibadah sebagai beban. Thoriqot mengajarkan bahwa ibadah adalah ekspresi cinta dan rasa butuh kepada Allah. Dzikir, munajat, dan khusyuk dalam ibadah menjadi kenikmatan, bukan paksaan.

> يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ
“Wahai manusia, kalian semua fakir (membutuhkan) kepada Allah.”
(QS. Fathir: 15)

5. Thoriqot adalah Warisan Para Wali dan Ulama Besar

Thoriqot bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam. Seluruh ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah dari zaman dahulu hingga kini mengikuti jalur thoriqot. Imam al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam al-Sya’rani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Imam Abu Hasan al-Syadzili—semuanya adalah ulama mursyid thoriqot.

Mereka tidak hanya menguasai syariat, tetapi juga menapaki jalan batin untuk mengenal Allah lebih dalam. Menolak thoriqot berarti menutup diri dari tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam yang paling kaya.

6. Agar Tidak Tersesat oleh Nafsu dan Setan yang Halus

Musuh utama manusia bukan hanya setan dalam bentuk luar, tetapi bisikan nafsu yang membisikkan tipu daya batin. Thoriqot melatih salik untuk mengenali tipu daya ini melalui muhasabah (introspeksi), muraqabah (kesadaran diawasi), dan mujahadah (perjuangan batin).

Dalil Al-Qur’an:

> وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya…”
(QS. An-Nazi’at: 40)

Kesimpulan

Belajar thoriqot adalah langkah penting dalam menyempurnakan keislaman kita. Ia bukan sekadar tambahan dari agama, tapi ruh dari ibadah itu sendiri. Melalui bimbingan mursyid yang benar, thoriqot membawa kita ke maqam keikhlasan, kedekatan dengan Allah, dan kehidupan yang penuh makna. Di dunia yang penuh kebisingan, thoriqot hadir sebagai jalan sunyi yang menghantarkan kita pada cahaya-Nya.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca