“Maaf, Aku Tak Selalu Bisa Jadi Seperti yang Kalian Mau”

Renungan Tentang Hidup di Bawah Tekanan Ekspektasi

Terkadang aku merasa hidup ini bukan lagi milikku.
Seolah aku hanya sedang memerankan naskah,
ditulis oleh banyak tangan…
bukan oleh jiwaku sendiri.

Orang-orang menatapku dengan mata penuh harapan…
kadang dengan cinta,
kadang dengan tuntutan,
kadang—tanpa sadar—dengan penilaian yang membuatku takut gagal.


Aku dituntut untuk jadi sukses,
padahal aku masih berjuang.
Aku dituntut untuk jadi kuat,
padahal aku sering rapuh.
Aku dituntut untuk jadi sholeh,
padahal aku masih terus belajar meninggalkan dosa.
Aku dituntut untuk jadi panutan,
padahal aku juga sedang mencari arah.

Dan yang paling menyakitkan adalah…
aku merasa tidak diberi ruang untuk menjadi lemah,
tidak diberi izin untuk gagal.


Aku tahu mereka mencintai.
Tapi kadang cinta itu terasa seperti kurungan.
Aku tahu mereka berharap.
Tapi kadang harapan itu seperti beban di pundak yang membuatku tak bisa bernapas.


Di tengah semua itu,
aku mulai kehilangan satu hal penting:
diriku sendiri.

Aku menyesuaikan diri.
Aku menahan tangis.
Aku berusaha menjadi seperti yang mereka mau…
tapi di malam hari, saat semua sunyi,
aku bertanya dengan suara yang nyaris putus:
“Kalau aku gagal menjadi seperti mereka harapkan…
masih adakah yang mencintaiku apa adanya?”


Dalam sujud yang lirih, aku temukan jawabannya.
Allah…
Dia tak menuntutku sempurna.
Dia hanya ingin aku jujur.
Jujur bahwa aku lelah.
Jujur bahwa aku ingin pulang.
Jujur bahwa aku ingin dicintai bukan karena pencapaian,
tapi karena aku tetap datang kepada-Nya meski penuh luka dan cacat.


Hari ini aku belajar…
bahwa tidak apa-apa jika aku belum jadi seperti mereka mau.
Karena yang paling penting adalah:
apakah aku sedang berusaha menjadi seperti yang Allah ridhoi?

Bukan untuk terlihat suci,
tapi agar aku pulang dalam keadaan dicintai-Nya.


Dan jika suatu hari aku kembali merasa sesak karena ekspektasi dunia,
aku ingin tulisan ini membisikkan pelan ke hatiku:
“Maaf… aku tak bisa jadi sempurna seperti yang kalian mau.
Tapi aku ingin menjadi jujur dan hancur…
di hadapan Tuhan yang menciptakan aku bukan untuk menyenangkan semua orang,
tapi untuk mencintai-Nya dengan segenap hati yang aku punya.”


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
(QS. Al-Baqarah: 286)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca