Thoriqot sebagai jalan spiritual bukan hanya teori, tetapi juga melibatkan praktik-praktik nyata yang harus dijalani oleh setiap salik (murid) dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Praktik-praktik ini meliputi amalan dzikir, shalat, puasa, dan berbagai ibadah lainnya yang dirancang untuk membersihkan hati, menguatkan iman, dan memperbaiki akhlak. Melalui bimbingan dari seorang mursyid, seorang salik akan diberikan panduan untuk menjalani praktik-praktik ini dengan cara yang benar dan mendalam.

Pada artikel ini, kita akan membahas berbagai praktik utama yang dilakukan dalam thoriqot, serta bagaimana masing-masing amalan ini berfungsi dalam proses penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah.

Praktik Dzikir dalam Thoriqot

Dzikir (mengingat Allah) adalah amalan yang paling utama dalam thoriqot. Dzikir bukan hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perasaan yang penuh kesadaran. Dzikir dalam thoriqot dilakukan dengan berbagai cara, yang bisa berupa dzikir secara individu maupun berjamaah, dengan tujuan untuk mencapai ketenangan batin, membersihkan hati, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

1. Dzikir Lisan Dzikir lisan adalah mengingat Allah dengan menyebut nama-Nya, seperti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan lain-lain. Ini adalah bentuk dzikir yang paling umum dilakukan dalam thoriqot dan memiliki manfaat besar dalam menyucikan jiwa.

2. Dzikir Hati Dzikir hati adalah dzikir yang dilakukan dengan penuh perasaan dan kesadaran dalam hati, tanpa diucapkan dengan lisan. Dzikir ini mengarahkan hati untuk tetap terhubung dengan Allah, dan dalam thoriqot, dzikir hati ini sangat ditekankan.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
(QS. Az-Zariyat: 55)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling banyak mengingat Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat dan Ibadah dalam Thoriqot

Shalat adalah ibadah utama dalam Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam thoriqot, shalat dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan kesadaran. Selain itu, ibadah lainnya seperti puasa dan zakat juga sangat ditekankan dalam thoriqot untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan memperbaiki akhlak.

1. Shalat Tahajud Shalat tahajud adalah shalat malam yang sangat dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam thoriqot, shalat tahajud menjadi salah satu amalan utama karena memberikan ketenangan batin dan kesempatan untuk berdialog lebih intim dengan Allah.

2. Puasa Puasa adalah salah satu cara untuk melatih pengendalian diri dan meningkatkan kesabaran. Dalam thoriqot, puasa tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan, tetapi juga sebagai amalan sunah untuk menyucikan jiwa dan menahan diri dari godaan dunia.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari)

Penggunaan Wirid dalam Thoriqot

Wirid adalah bacaan atau dzikir yang dilakukan secara rutin, baik secara individu maupun berjamaah, dengan tujuan untuk mengingat Allah secara terus-menerus. Wirid dalam thoriqot sering kali diajarkan oleh mursyid sebagai alat untuk membantu salik menjaga kesadaran spiritual mereka sepanjang waktu. Wirid ini bisa berupa bacaan tertentu yang berfokus pada nama-nama Allah, doa-doa tertentu, atau bacaan Al-Qur’an.

Dalil Hadits: Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Barang siapa yang mengingat Allah di dalam hatinya, maka Allah akan mengingatnya di hadapan para malaikat.”
(HR. Bukhari)

Tafakkur (Meditasi) dalam Thoriqot

Tafakkur atau meditasi adalah praktik spiritual yang melibatkan merenung dan berpikir mendalam tentang ciptaan Allah dan kehidupan. Dalam thoriqot, tafakkur dilakukan untuk membuka hati dan pikiran, memahami tanda-tanda kebesaran Allah yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, dan meningkatkan pemahaman tentang diri dan tujuan hidup.

1. Tafakkur pada Ciptaan Allah Salah satu bentuk tafakkur adalah merenungkan ciptaan Allah, seperti alam semesta, kehidupan, dan semua yang ada di sekitar kita. Hal ini membantu salik untuk menyadari kebesaran Allah dan memperkuat iman mereka.

2. Tafakkur pada Diri Sendiri Tafakkur juga melibatkan refleksi diri, untuk memahami kekurangan diri dan terus berusaha memperbaiki diri dalam menjalani jalan spiritual. Ini adalah bagian dari proses tazkiyah yang penting dalam thoriqot.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّي أُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Al-Imran: 190)

Kesimpulan

Praktik-praktik dalam thoriqot adalah amalan-amalan yang bertujuan untuk memperdalam hubungan seorang salik dengan Allah, membersihkan hati, dan memperbaiki akhlak. Dzikir, shalat, wirid, puasa, dan tafakkur adalah beberapa praktik utama yang membentuk perjalanan spiritual dalam thoriqot. Praktik-praktik ini bukan hanya dilakukan secara mekanis, tetapi harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan ikhlas, sehingga dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan spiritual seorang Muslim.

Dengan bimbingan seorang mursyid yang berpengalaman, praktik-praktik ini menjadi sarana yang efektif untuk mencapai tujuan utama dalam thoriqot, yaitu kedekatan dengan Allah. Semoga dengan melakukan praktik-praktik ini, kita dapat merasakan kedamaian batin dan mendapatkan ridha Allah.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca