Renungan Tentang Rasa Sepi yang Tak Dipahami Orang

Aku sering berada di tengah banyak orang.
Berbincang, bercanda, tertawa.
Wajahku terlihat akrab dengan tawa…
tapi hatiku akrab dengan sunyi.

Aku hadir di banyak tempat,
tapi tak pernah benar-benar ada.
Kata-kata mengalir,
tapi tak satu pun menyentuh bagian terdalam dari diriku.

Di antara sorak dan keramaian,
kadang aku merasa jadi makhluk paling asing di dunia.
Seolah semua berjalan…
tapi aku sendiri yang tak tahu sedang ke mana.


Orang-orang melihatku dan berkata,
“Kamu kuat.”
“Kamu ceria.”
“Kamu menginspirasi.”

Andai mereka tahu…
betapa sering aku ingin berkata:
“Aku capek.”
“Aku kosong.”
“Aku sepi, bahkan dari diriku sendiri.”

Tapi lidah ini terlalu takut…
takut dikira lemah.
Takut dianggap tak bersyukur.
Jadi aku diam,
dan kesepianku tumbuh pelan-pelan…
jadi luka yang tak berdarah.


Aku mulai sadar,
bahwa sepi ini bukan karena tak ada orang.
Tapi karena tak ada Allah di tengah hatiku yang ramai.

Aku sibuk mengisi waktu,
tapi lupa mengisi jiwa.
Aku mendengar suara dari luar,
tapi tak pernah benar-benar mendengar suara dari dalam.

Dan saat malam tiba,
ketika semua orang pulang ke rumahnya,
aku baru merasa
bahwa rumah sejati itu bukan bangunan—
tapi hati yang merasa dekat dengan Tuhannya.


Aku ingin pulang.
Bukan ke tempat,
tapi ke keadaan jiwa yang tenang.
Ke rasa cukup.
Ke sujud yang khusyuk.
Ke tangis yang penuh cinta,
bukan karena luka.

Aku ingin ditemani oleh-Nya,
karena hanya Dia yang tak pernah menghakimi
dan selalu mengerti sunyi ini bahkan sebelum aku mengungkapkannya.


Hari ini aku belajar,
bahwa tidak semua sepi itu buruk.
Kadang… sunyi adalah undangan dari Allah
agar aku kembali berbicara hanya kepada-Nya.
Tanpa topeng.
Tanpa pura-pura kuat.
Tanpa takut tak dipahami.


Jika aku kembali merasa sepi di tengah keramaian,
aku ingin tulisan ini menjadi bisikan halus di telingaku:
“Bukan karena kamu tak berharga,
tapi karena jiwamu sedang dipanggil kembali kepada-Nya.”


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah): Sesungguhnya Aku dekat…”

(QS. Al-Baqarah: 186)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca