“Tak Apa-Apa Pelan, Asal Tetap Berjalan dengan Syukur”

Renungan Tentang Langkah Kecil yang Tetap Menuju Allah

Dulu aku sering merasa tertinggal.
Melihat orang lain lebih cepat, lebih tinggi, lebih bersinar—
dan aku bertanya dalam hati:
“Apa aku terlalu lambat?
Apa aku kurang sungguh-sungguh?”

Aku sibuk membandingkan diriku.
Dengan mereka yang hafalannya lebih banyak,
ibadahnya lebih sempurna,
amalnya lebih luas.
Dan aku pun mulai menghakimi diriku sendiri.


Tapi waktu demi waktu,
doa demi doa,
aku mulai paham…

Allah tak pernah menilai siapa yang paling cepat.
Tapi siapa yang paling jujur,
dan paling bersyukur… dalam setiap langkahnya.


Aku memang pelan.
Kadang tertatih.
Kadang berjalan mundur.
Tapi aku belum berhenti.
Dan itu…
cukup.

Karena jalan ini bukan lomba.
Ini adalah perjalanan pulang
dan yang penting bukan siapa duluan sampai,
tapi siapa yang terus melangkah, tanpa putus asa,
dan tetap membawa cinta di dadanya.


Aku mulai belajar mencintai langkah-langkah kecilku.
Langkah yang mungkin tak terlihat orang lain.
Langkah yang tak dipuji.
Langkah yang hanya aku dan Allah yang tahu.
Langkah yang terkadang hanya berisi air mata dan istighfar.
Tapi langkah itu nyata.

Dan setiap kali aku mengingat Rasulullah ﷺ dalam langkah itu,
setiap kali aku menyebut namanya meski hanya dengan bibir yang gemetar,
aku tahu…
aku sedang mendekat.


Hari ini aku belajar,
bahwa syukur bukan hanya untuk pencapaian besar.
Syukur adalah ketika aku masih diberi kekuatan untuk melangkah,
meski hanya setapak.
Masih diberi waktu untuk memperbaiki.
Masih diberi cahaya, meski redup.
Masih diberi guru, meski aku belum banyak berubah.
Masih diberi cinta…
meski aku belum tahu bagaimana mencintai dengan benar.


Dan jika suatu hari aku kembali merasa kecil,
aku ingin tulisan ini membisikkan pelan:
“Tak apa-apa pelan, asal hatimu tetap menuju Allah.
Tak apa-apa lambat, asal langkahmu jujur.
Tak apa-apa belum sampai, asal kau tetap berjalan… dengan syukur.”


“Barang siapa berjalan menuju Allah satu jengkal,
maka Allah akan mendekatinya satu hasta…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca