“Ternyata Aku Tak Sedang Mengejar Wushul, Tapi Sedang Diajari Bersyukur”

Renungan Seorang Murid yang Sedang Belajar Mencintai Rasulullah

Dulu, aku berjalan cepat.
Langkahku penuh semangat.
Aku mengejar dzikir,
mengejar amal,
mengejar ibadah.
Setiap wirid kuhitung,
setiap laku kujaga,
karena aku pikir—jika aku tekun dan sungguh-sungguh,
aku akan segera sampai…
wushul—tersambung kepada Allah.

Aku ingin cepat sampai.
Aku ingin melihat keajaiban.
Ingin hidupku berubah seketika.
Ingin mimpiku jadi nyata.
Atau… jujur saja,
aku ingin menjadi wali,
menjadi kekasih Allah yang sakti,
yang bisa melihat hal-hal luar biasa,
yang dikagumi dan dihormati.


Tapi waktu berjalan…
dan langkahku yang awalnya berlari,
perlahan menjadi pelan.
Bukan karena aku berhenti,
tapi karena aku mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam.

Bahwa selama ini,
aku terlalu sibuk mengejar hasil,
tanpa benar-benar bersyukur atas jalan yang sedang kutapaki.

Aku lupa,
bahwa hal terindah sudah Allah beri sejak awal:
Guru.


Ya, guru.
Orang yang Allah hadirkan dalam hidupku—
bukan untuk membuatku kagum padanya,
tapi untuk mengajarku mencintai Rasulullah ﷺ.

Guru yang siang malam menjaga hatiku dengan doanya,
yang tak henti-henti menunjukkan arah walau aku sering lalai,
yang tak pernah menyerah mendorongku,
bukan agar aku menjadi besar,
tapi agar aku bisa jatuh cinta kepada Rasulullah…
dan bangga menjadi umatnya.


Kini aku tahu,
tujuan tertinggi dari semua dzikir,
bukan agar aku jadi orang hebat…
tapi agar aku diizinkan mencintai Nabi Muhammad ﷺ
dengan cinta yang jujur dan dalam.

Karena hanya dengan mencintai beliau,
jiwa ini bisa pulang kepada Allah.


Hari ini aku tak lagi mengejar wushul dengan tergesa.
Aku tak lagi memaksa diri agar menjadi wali yang sakti.
Yang aku inginkan sekarang hanyalah satu:
berada di jalan cinta.

Jalan di mana aku mengenal Rasulullah,
menyebut namanya dengan air mata,
dan merasa…
“cukuplah aku menjadi umatnya.”

Karena menjadi umat Rasulullah yang sungguh-sungguh mencintai,
itu lebih mulia dari semua hal yang dulu ingin kukejar.


Dan jika suatu hari aku kembali tergoda oleh ambisi ruhani,
aku ingin tulisan ini mengingatkanku:
“Jangan sibuk ingin sampai,
sampai lupa mensyukuri bahwa Allah sudah mengirim guru…
yang setiap hari mengajarkanmu cara pulang—
melalui cinta kepada Rasulullah ﷺ.”


“Sungguh, orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”
(HR. Tirmidzi)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca