Thoriqot bukan hanya sebuah konsep atau praktik yang terbatas pada ruang spiritual, tetapi juga seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, thoriqot mengajarkan bagaimana seorang salik (murid) bisa menjalani hidup dengan penuh kesadaran spiritual, menjadikan setiap langkah dan tindakan sebagai ibadah, dan senantiasa mengingat Allah dalam segala aspek kehidupan. Dalam seri ini, kita akan membahas bagaimana thoriqot dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari, agar setiap aktivitas yang dilakukan, baik itu pekerjaan, interaksi sosial, maupun ibadah pribadi, dapat membawa seseorang lebih dekat kepada Allah.

Thoriqot dalam Pekerjaan dan Aktivitas Sehari-Hari

Dalam thoriqot, setiap aktivitas yang dilakukan oleh seorang salik, baik itu pekerjaan, studi, atau kegiatan sehari-hari lainnya, dapat menjadi bentuk ibadah asalkan dilakukan dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan agama. Thoriqot mengajarkan bahwa niat adalah kunci utama dalam menjadikan setiap perbuatan sebagai ibadah. Dengan niat yang benar, bahkan pekerjaan yang seharusnya dianggap duniawi bisa berubah menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

1. Pekerjaan Sebagai Ibadah Thoriqot mengajarkan bahwa pekerjaan, baik itu di kantor, di rumah, maupun dalam berbisnis, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan untuk mendapatkan ridha Allah, akan menjadi ibadah. Menjaga integritas, bekerja dengan sepenuh hati, dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaan adalah bentuk ibadah dalam thoriqot. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa setiap amal yang dilakukan dengan niat yang baik akan dihitung sebagai amal ibadah.

Dalil Al-Qur’an: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَىٰ اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman.”
(QS. At-Tawbah: 105)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

2. Menjaga Akhlak dalam Interaksi Sosial Salah satu ajaran utama dalam thoriqot adalah perbaikan akhlak. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang salik diharapkan untuk selalu berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang baik, jujur, sabar, dan penuh kasih sayang. Thoriqot mengajarkan bahwa akhlak yang baik adalah cerminan dari keimanan dan kedekatan seseorang dengan Allah. Oleh karena itu, menjaga hubungan yang baik dengan keluarga, teman, dan masyarakat adalah bagian penting dari praktik thoriqot.

Dalil Al-Qur’an: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Katakanlah kepada umat manusia perkataan yang baik.”
(QS. Al-Baqarah: 83)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Bukhari)


Thoriqot dalam Ibadah Pribadi

Meskipun thoriqot sangat berkaitan dengan kehidupan sosial dan pekerjaan, namun ibadah pribadi seperti shalat, dzikir, dan doa tetap menjadi pondasi utama dalam perjalanan spiritual. Thoriqot mengajarkan agar seorang salik tidak hanya mengandalkan ibadah ritual semata, tetapi juga menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah.

1. Shalat dengan Khusyuk Dalam thoriqot, shalat bukan sekadar kewajiban yang harus dilakukan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Seorang salik diajarkan untuk melaksanakan shalat dengan khusyuk, mengingat Allah dengan sepenuh hati, dan berdoa agar dijauhkan dari segala kekurangan dan penyakit hati. Shalat menjadi waktu yang sangat berharga untuk merenung dan memperbaiki diri.

2. Dzikir Sehari-hari Dzikir merupakan amalan utama dalam thoriqot. Seorang salik dianjurkan untuk memperbanyak dzikir sepanjang hari, baik secara lisan maupun hati, untuk mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dzikir ini tidak hanya dilakukan saat beribadah, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, berinteraksi dengan orang lain, atau bahkan saat beristirahat. Ini membantu menjaga hati agar tetap bersih dan selalu terhubung dengan Allah.

Dalil Al-Qur’an: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
(QS. Az-Zariyat: 55)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, karena ingat kepada Allah dapat menenangkan hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Puasa Sebagai Latihan Pengendalian Diri Selain puasa di bulan Ramadan, thoriqot juga mendorong salik untuk berpuasa sunah, yang tidak hanya sebagai bentuk pengendalian diri terhadap nafsu, tetapi juga sebagai cara untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Puasa dalam thoriqot adalah sarana untuk mengurangi ketergantungan pada duniawi dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Dalil Al-Qur’an: Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)


Thoriqot dan Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Thoriqot mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat. Seorang salik harus bekerja keras di dunia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga harus menjaga agar tidak terlena dengan dunia. Thoriqot mengajarkan untuk selalu mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupan, baik itu dalam bekerja, belajar, maupun berinteraksi dengan orang lain.

Thoriqot membantu seseorang untuk menyadari bahwa dunia ini adalah tempat ujian, sementara akhirat adalah tujuan utama. Oleh karena itu, seorang salik berusaha untuk menjalani hidup dengan cara yang benar, selalu berorientasi pada ridha Allah, dan tidak terlena oleh kenikmatan duniawi.

Kesimpulan

Thoriqot mengajarkan bahwa setiap aspek kehidupan, baik itu pekerjaan, ibadah, maupun hubungan sosial, dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, asalkan dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh kesadaran spiritual. Thoriqot tidak hanya terbatas pada amalan ibadah formal, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dengan prinsip-prinsip Islam yang benar. Dengan mengikuti ajaran thoriqot, seorang salik dapat mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta selalu menjaga hatinya tetap bersih dan terhubung dengan Allah.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca