Cinta kepada Allah (mahabbah ilahiyyah) adalah inti dari seluruh perjalanan ruhani. Jika ma‘rifat adalah cahaya pengetahuan dalam hati, maka mahabbah adalah nyala api cintanya. Dalam thoriqot, cinta kepada Allah bukan sekadar slogan atau perasaan emosional, tetapi merupakan maqam (tingkatan) tinggi yang diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa dan raga. Bahkan, cinta ini membawa seorang salik ke maqam fana fillah—sirnanya kehendak pribadi di hadapan kehendak Ilahi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana thoriqot mendidik salik untuk sampai pada cinta ilahi, apa itu fana fillah, dan bagaimana perjalanan dari rasa menuju sirna itu adalah hakikat kehambaan tertinggi.

Makna Cinta Ilahi dalam Islam

Cinta kepada Allah adalah tujuan akhir ibadah. Ibadah tanpa cinta hanyalah rutinitas kosong. Rasulullah ﷺ adalah sosok pencinta sejati Allah. Air mata beliau dalam tahajjud, doa-doanya yang penuh kerinduan, dan hidupnya yang sepenuhnya dipersembahkan hanya untuk Allah adalah bukti bahwa cinta adalah dasar agama ini.

Dalil Al-Qur’an:

> وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang beriman, mereka lebih kuat cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)

Hadits:

> “Tiga hal yang jika ada pada seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Langkah-Langkah Cinta dalam Thoriqot

1. Mengenal Allah (Ma‘rifah)

Tak ada cinta tanpa mengenal. Thoriqot membimbing salik mengenal Allah—melalui dzikir, tafakur, pengenalan terhadap asma dan sifat-Nya—hingga cinta mulai tumbuh dari dalam hati.

2. Meneladani Rasulullah ﷺ

Cinta kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari cinta kepada Rasulullah ﷺ. Bahkan, jalan paling utama untuk mencintai Allah adalah melalui mencintai dan meneladani Nabi-Nya.

> قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah akan mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)

3. Tajarrud: Melepaskan Hati dari Dunia

Thoriqot melatih salik untuk tidak menggantungkan cinta kepada makhluk, harta, atau pujian. Cinta kepada Allah harus menjadi poros. Dunia tetap dijalani, tapi hati tak terikat padanya.

4. Syauq (Rindu) dan Uns (Kedekatan)

Ketika cinta semakin dalam, muncullah kerinduan kepada Allah. Hati selalu ingin bermunajat, berdzikir, dan menyendiri bersama-Nya. Saat inilah, dzikir menjadi kebutuhan, bukan kewajiban.

Apa Itu Fana Fillah?

Fana’ secara bahasa berarti sirna atau lenyap. Fana fillah berarti sirnanya kehendak diri dalam kehendak Allah. Bukan hilangnya identitas, tetapi hilangnya ego dan “aku” yang merasa memiliki kuasa.

Seorang salik yang mencapai fana:

Tidak lagi mengandalkan kekuatan dirinya.

Tidak sombong dengan amal ibadahnya.

Tidak takut kehilangan dunia, karena hatinya telah menyatu dengan kehendak Allah.

Kisah: Syekh Abu Yazid al-Busthami berkata:

> “Aku mengetuk semua pintu, sampai hanya satu yang tersisa: ketika aku lenyap, barulah pintu itu terbuka.”

Dalil Al-Qur’an:

> إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.”
(QS. Al-An‘am: 162)

Tanda Orang yang Mencintai Allah

1. Selalu rindu beribadah meski tidak diperintah.

2. Menangis dalam doa, karena merasa jauh.

3. Bersyukur saat diuji, karena tahu ujian itu dari Kekasih-Nya.

4. Tidak dendam, karena hatinya sibuk kepada Allah.

5. Tenang dalam kesendirian, karena merasakan kebersamaan dengan-Nya.

Kesimpulan

Cinta kepada Allah bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia adalah maqam tinggi yang dapat dicapai oleh siapa pun yang mau menempuh jalannya dengan serius. Thoriqot adalah kendaraan untuk membawa hati dari gelapnya ego menuju terang cinta ilahi. Dan ketika cinta itu mencapai puncaknya, tak ada lagi yang tertinggal dari si hamba selain kehendak Allah: itulah fana fillah.

Di zaman penuh kegaduhan ini, hanya cinta kepada Allah yang bisa menenangkan jiwa. Maka tempuhlah thoriqot dengan penuh kejujuran, agar hati kita pulang ke asalnya: cinta.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca