“Mata Lahir dan Mata Batin: Renungan dari Pesan Guru”

(Sebuah catatan perjalan sunyi penulis)

Guru saya, KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf, pernah menyampaikan kalimat yang singkat, namun terus menggetarkan batin saya sampai hari ini:

“Ada hal baik terlihat baik. Ada hal buruk terlihat buruk. Ada hal baik terlihat buruk. Dan ada hal buruk terlihat baik.”

Saya diam. Lama.
Kalimat itu menghentikan langkah saya. Bukan karena sulit dimengerti, tapi karena terlalu dalam untuk saya pahami hanya dengan logika.

Ini bukan sekadar nasihat.
Ini adalah cermin—yang menyingkap cara pandang saya selama ini, yang mungkin masih sangat dangkal.

1. Ada hal baik terlihat baik

Ada banyak kebaikan yang begitu terang, dan mudah saya terima. Senyuman yang menyejukkan. Doa yang tulus. Adab seorang anak kepada orang tua. Nasihat yang lembut.

Saya bersyukur bisa mengenali dan menyukai kebaikan yang tampak. Tapi saya juga mulai sadar, mungkin selama ini saya hanya mencintai kebaikan yang nyaman. Bagaimana dengan kebaikan yang datang dalam bentuk yang tak menyenangkan?

Allah berfirman:

﴿ وَٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ زَادَهُمْ هُدًۭى وَءَاتَىٰهُمْ تَقْوَىٰهُمْ ﴾
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan ketakwaan kepada mereka.”
(QS. Muhammad: 17)

Saya pun berdoa, semoga saya termasuk yang terus ditambah hidayah, bukan hanya senang pada kebaikan yang indah bentuknya, tapi juga pada hakikatnya.

2. Ada hal buruk terlihat buruk

Maksiat, kezaliman, dan tipu daya dunia… saya bisa mengenalinya. Tapi saya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya membencinya karena Allah, atau karena takut citra saya rusak?

Rasulullah ﷺ bersabda:

الحلالُ بيِّنٌ والحرامُ بيِّنٌ، وبينهما أمورٌ مشتبهاتٌ لا يعلمُهُنَّ كثيرٌ من الناسِ
“Yang halal itu jelas, dan yang haram pun jelas. Di antara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Saya mulai sadar bahwa musuh sejati bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersembunyi di dalam dada: riya’, ujub, sombong, dan cinta dunia yang licik menyusup.

3. Ada hal baik terlihat buruk

Inilah ujian yang berat.
Teguran seorang guru. Musibah hidup. Rasa kecewa. Sakit. Semua itu tampak buruk di permukaan, tapi bisa jadi justru itulah jalan pulang menuju Allah.

Saya teringat kisah Nabi Musa ‘alayhissalam bersama Nabi Khidir.
Ketika Khidir merusak kapal, membunuh seorang anak, dan membangun tembok tanpa upah—semua tampak buruk. Tapi di balik itu, semua adalah bentuk kasih sayang dan rahmat Allah.

Allah berfirman:

﴿ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Saya malu… betapa sering saya menolak kebaikan hanya karena bentuknya menyakitkan.

4. Ada hal buruk terlihat baik

Inilah yang paling menakutkan bagi saya.
Ketika keburukan datang dalam bentuk yang menggiurkan.
Pujian, kekuasaan, pengaruh, kedudukan—semuanya bisa tampak seperti anugerah, padahal mungkin itu adalah jebakan nafsu.

Saya teringat kisah seorang wali Allah, Ibrahim bin Adham, yang pernah menolak hadiah istana karena khawatir terjerumus ke dalam tipuan dunia. Ia berkata:

“Dunia adalah racun yang mematikan. Banyak orang meminumnya karena tertipu dengan warnanya yang indah.”

Saya pun takut… takut terjebak dalam kesenangan yang membuat hati saya mati perlahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ الدُّنيا حُلوةٌ خضِرةٌ، وإنَّ اللهَ مُستخلِفُكم فيها فينظرُ كيف تعملون
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.”
(HR. Muslim)


Ya Allah…
Betapa banyak saya tertipu oleh kulit, dan buta terhadap isi.
Betapa sering saya merasa benar hanya karena yang saya lihat terlihat “baik” di mata saya, bukan di sisi-Mu.

Saya ingin berhenti sejenak…
Menundukkan kepala, dan bertanya dalam:
Apakah yang saya anggap baik selama ini memang benar di sisi-Mu?
Dan apakah yang saya hindari selama ini memang buruk menurut-Mu?

Ini bukan tentang orang lain.
Ini tentang saya.
Tentang murid yang masih jauh dari adab dan tajamnya bashirah.
Tentang seorang hamba yang ingin jujur pada dirinya sendiri di hadapan Rabb-nya.

Ya Allah, karuniakan padaku mata hati.
Agar aku mampu melihat kebenaran meski dibungkus penderitaan,
dan mampu mengenali kebatilan meski tampil dalam keindahan.

Ya Allah, jangan biarkan aku tertipu oleh dunia.
Jadikanlah aku termasuk orang yang tidak hanya tampak baik, tapi sungguh-sungguh Engkau pandang baik di sisi-Mu.

Amin.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca