catatan renungan dari kitab agung Nashaih al-‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani

Bismillah.
Dengan niat karena Allah semata, dengan harapan meraih cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dengan rasa syukur yang tak terhingga karena Allah telah menganugerahkan kepadaku guru terbaik dalam hidup ini: Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf — aku mulai menuliskan catatan renunganku dari kitab agung Nashaih al-‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani. Semoga setiap huruf yang tertulis menjadi saksi syukurku, doaku, dan niatku untuk kembali kepada-Nya.
Teks Asli (Arab + Harakat):
قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى:
اِعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّ أَوَّلَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ تَصْحِيْحُ النِّيَّةِ، ثُمَّ طَلَبُ الْعِلْمِ،
لِأَنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَصِحُّ إِلَّا بِالنِّيَّةِ، وَلَا تَصِحُّ النِّيَّةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ اللهِ تَعَالَى، وَمَعْرِفَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Cara Baca (Transliterasi):
Qāla al-muṣannifu raḥimahullāhu ta‘ālā:I‘lam raḥimakallāh, anna awwala mā yajibu ‘ala al-mukallaf taṣḥīḥu an-niyyah, ṯumma ṭalabu al-‘ilm,li’anna al-a‘māla lā taṣiḥḥu illā bi an-niyyah, wa lā taṣiḥḥu an-niyyah illā ba‘da ma‘rifati Allāhi ta‘ālā, wa ma‘rifati Rasūlillāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Terjemahan:
“Berkata al-Muallif, semoga Allah merahmatinya: Ketahuilah — semoga Allah merahmatimu — bahwa hal pertama yang wajib atas orang yang dibebani syariat adalah membenarkan niat, kemudian menuntut ilmu. Karena amal tidak sah kecuali dengan niat, dan niat tidak akan sah kecuali setelah mengenal Allah Ta‘ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Catatan Hati Seorang Pencari
Aku membaca pasal ini bukan sebagai orang yang sudah tahu. Bukan pula sebagai orang alim. Tapi sebagai orang yang sedang mencari arti hidup, yang merasa terlalu lama berbuat tanpa arah, sibuk tanpa ruh, dan beramal tanpa tahu untuk siapa.
Dan saat mataku menatap kalimat “i’lam raḥimakallāh” — “ketahuilah, semoga Allah merahmatimu“, hatiku seperti disapa. Seakan Syekh Nawawi ingin mengajak aku duduk sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan bertanya:
“Sebelum engkau sibuk melakukan banyak hal, apakah engkau tahu untuk siapa semua ini kau tujukan?”
Aku terdiam. Karena ternyata… aku belum tahu.
Selama ini aku hanya menjalani hidup: bekerja, beribadah, menolong orang, belajar. Tapi jarang sekali aku menoleh ke dalam hatiku dan bertanya tentang niat. Tentang siapa yang sebenarnya kutuju. Dan lebih dalam lagi, apakah aku sudah benar-benar mengenal siapa Allah yang kusebut dalam setiap doa? Apakah aku betul-betul mencintai Rasulullah yang kuucap shalawatnya, tapi belum aku ikuti jejak langkahnya?
Syekh Nawawi menuliskan bahwa niat tidak sah tanpa makrifat — tanpa mengenal Allah dan Rasul-Nya. Dan saat aku baca kalimat itu, aku merasa kecil sekali. Selama ini aku ingin niatku lurus, tapi aku belum sungguh-sungguh mengenal arah.
Lalu di sinilah aku bersyukur, karena Allah tidak membiarkanku tersesat sendirian. Allah hadirkan seorang guru, yang melalui tutur katanya, kelembutannya, dan kesederhanaannya, aku mulai mengenal makna hidup ini.
Allah anugerahkan kepadaku seorang guru Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf — bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai lentera. Dan aku tahu, ini adalah salah satu nikmat terbesar yang pernah Allah berikan dalam hidupku.
Maka hari ini, aku ingin menata ulang semuanya. Aku tidak ingin hanya beramal. Aku ingin amal itu mengandung ruh. Aku tidak ingin hanya tahu hukum. Aku ingin hati ini punya arah. Dan aku tidak ingin niat ini hanya ada di mulut. Aku ingin ia menjadi kompas sejati dalam perjalanan pulangku kepada Allah.
Dan semua itu… dimulai dari pasal pertama ini.
Doa dari Hati yang Mulai Belajar Jujur
اللهم اجعل نيّتي خالصة لك، وفتّح لي أبواب معرفتك، ومحبة نبيّك، واحفظ لي شيخي أبويَا وارفع درجته واجعله نوراً لي في طريقك.
“Ya Allah, jadikan niatku murni hanya untuk-Mu. Bukakan bagiku pintu makrifat kepada-Mu dan cinta kepada Nabi-Mu. Jagalah guruku Abuya kH.Muhhamad Amin Yusuf, angkat derajatnya, dan jadikan beliau cahaya di jalanku menuju-Mu.”
Hari ini, aku bukan lagi orang yang hanya ingin melakukan banyak kebaikan. Hari ini, aku ingin menjadi hamba yang tahu kepada siapa ia berjalan. Dan semoga, dari satu pasal ini, hidupku mulai berubah. Dari dalam. Dengan niat. Dengan cinta. Dan dengan syukur.




Tinggalkan komentar