
Saya merenung kembali pesan guru saya, KH. Abuya Muhammad Amin Yusuf:
> “Seseorang tidak akan bisa mengenali orang lain, sampai dia mampu mengenali diri sendiri.”
Pesan ini menghentikan gerak lisan saya. Karena betapa mudahnya saya dulu menilai orang lain, memberi label, menafsirkan niat mereka, mengomentari amal-amal mereka—padahal saya belum benar-benar mengenal siapa diri saya sendiri.
Aku tak mengenal diriku
Saya hidup dengan jasad ini, bertahun-tahun…
Tapi apakah saya sungguh tahu siapa saya?
Apakah saya hanya tubuh dan nama?
Apakah saya hanya kumpulan pikiran dan emosi?
Saya teringat firman Allah:
> ﴿ وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴾
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 21)
Saya mulai sadar bahwa mengenal diri adalah perjalanan yang sangat panjang. Tidak cukup hanya dengan tahu sifat dan hobi. Tapi mengenal sumber gerak hati. Mengenal asal usul ruh. Mengenal titik gelap dalam batin yang tak terlihat oleh orang lain.
Bagaimana aku bisa menilai orang lain, jika aku belum tahu siapa diriku?
Saya mulai paham…
Mengapa saya sering salah menilai orang lain.
Karena saya melihat dari kaca mata yang kotor—mata yang belum dibersihkan oleh pengenalan terhadap diri sendiri.
Bagaimana bisa saya mengerti luka orang lain, jika saya tak pernah menyentuh luka saya sendiri?
Bagaimana bisa saya memahami niat orang lain, jika saya sendiri tak tahu niat saya bersih atau tercemar?
Bagaimana bisa saya mengenali wali-wali Allah, jika saya belum jujur mengenali kehinaan dalam diri saya?
Kisah Imam Junaid al-Baghdadi
Diriwayatkan, suatu hari seorang murid bertanya kepada Imam Junaid al-Baghdadi:
> “Wahai Imam, apa syarat agar seseorang dapat mencapai ma’rifat kepada Allah?”
Beliau menjawab: “Kenalilah dirimu. Jika engkau kenal dirimu, maka engkau akan tahu bagaimana bersikap di hadapan-Nya.”
Mengenali diri bukan sekadar ilmu pengetahuan, tapi perjalanan riyadhah (latihan jiwa), muhasabah, dan rintihan yang jujur di malam hari.
Hadis tentang mengenal diri
Meskipun hadis ini terkenal dan statusnya diperdebatkan, namun maknanya dalam:
> مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barang siapa mengenal dirinya, maka sungguh ia akan mengenal Tuhannya.”
Saya mengambil hikmahnya, bahwa siapa yang menyadari kelemahan dirinya, akan tunduk. Dan siapa yang tunduk, akan diberi cahaya untuk melihat hakikat dirinya—dan akhirnya mengenal siapa Penciptanya.
—
Penutup: Ini untuk diriku
Saya menulis ini bukan untuk siapa-siapa.
Ini untuk saya sendiri.
Untuk menyadarkan diri agar tidak mudah menilai, tidak tergesa menyimpulkan, dan tidak merasa paling tahu tentang orang lain.
Karena bisa jadi, saya belum tahu apa-apa tentang diri saya sendiri.
Dan bagaimana mungkin saya bisa membaca hati orang lain, jika saya belum mampu membaca hati saya sendiri?
Semoga Allah menuntun saya…
Untuk mengenal siapa saya di hadapan-Nya, agar saya bisa memperlakukan orang lain dengan penuh rahmat, bukan prasangka.
Dan semoga saya bisa benar-benar menjadi murid…
Yang memahami pesan gurunya bukan hanya di lisan, tapi mengendap dalam hati dan membentuk adab.
—



Tinggalkan komentar