Gambar hanya ilustrasi Visual

Ada kalanya cinta membuat seseorang rela berdiri lebih lama. Begitulah kira-kira makna yang ingin kami sampaikan ketika sebagian orang bertanya: “Mengapa harus membaca Surat Yasin tiga kali dalam rakaat pertama Sholat Subuh? Mengapa harus membaca Al-Waqi’ah di rakaat kedua?”

Pertanyaan itu sah untuk diajukan, dan kami pun merasa bertanggung jawab menjawabnya dengan cara yang tenang, ilmiah, dan berlandaskan cinta.

Sholat Subuh berjamaah yang kami laksanakan di pesantren ini bukan hanya ibadah wajib. Ia telah kami hidupkan sebagai ritus cinta, dzikir, dan syukur bersama. Bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi kenikmatan yang tak ingin cepat disudahi.

Tidak Ada Larangan Membaca Surat Panjang dalam Sholat Fardhu

Dalam sholat fardhu, membaca surat setelah Al-Fatihah adalah sunnah. Dan dalam banyak hadits, Rasulullah SAW justru membaca surat-surat panjang di waktu Subuh. Dari Abu Barzah al-Aslami, disebutkan bahwa Rasul membaca antara 60 hingga 100 ayat dalam Subuh:

> عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الصُّبْحَ، وَيَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْهِ، مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ. (رواه مسلم)

Bahkan dalam riwayat Abu Dzar RA, Rasulullah pernah mengulang satu ayat dalam sholat semalam penuh:

> عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِآيَةٍ يُرَدِّدُهَا حَتَّى أَصْبَحَ: {إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ}. (رواه أحمد والنسائي)

Maka, membaca surat Yasin tiga kali dalam satu rakaat tidak keluar dari koridor syariat, selama diniatkan sebagai tilawah dan bukan ritual tambahan wajib.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata:

> وَلَا يُكْرَهُ قِرَاءَةُ سُورَتَيْنِ فَأَكْثَرَ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ، بَلْ لَا بَأْسَ بِقِرَاءَةِ جَمِيعِ الْقُرْآنِ فِي رَكْعَةٍ.

Keutamaan Surat Yasin dan Al-Waqi’ah

Surat Yasin adalah hati Al-Qur’an. Membacanya berulang kali bukan bentuk pengulangan yang berlebihan, tetapi ekspresi cinta dan harapan ruhani. Hadits tentang keutamaannya:

> اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ. (رواه أبو داود وابن ماجه – حسن)

Adapun Surat Al-Waqi’ah dikenal sebagai surat pembuka pintu rezeki dan pengingat hari kiamat. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA:

> مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا. (رواه البيهقي في شعب الإيمان)

Maka membaca kedua surat ini dalam sholat Subuh adalah bentuk ekspresi rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan—rezeki, iman, dan kesadaran akan akhirat. Sebagaimana pesan guru kami, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, bahwa ibadah bukan semata sarana untuk meminta, melainkan jalan untuk mensyukuri, merasakan, dan menyatu dalam cinta kepada Sang Pemberi Nikmat.

Jamaah Ridha dan Terbiasa

Dalam fiqh Syafi’i:

> وَإِذَا طَالَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَشُقَّ عَلَى الْمَأْمُومِينَ لِتَعَوُّدِهِمْ، فَلَا كَرَاهَةَ. (المجموع)

Di pesantren, para santri terbiasa dengan bacaan panjang. Maka tidak ada kesulitan yang memberatkan dan tidak bertentangan dengan sunnah Nabi.

Ruh Ibadah: Cinta dan Syukur

Sebagaimana diajarkan oleh guru kami, bahwa sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan:

Kebutuhan terdalam ruh

Media cinta dan komunikasi jiwa dengan Sang Pencipta

Ekspresi syukur yang paling luhur

Sebagaimana firman Allah:

> إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِي. (طه: ١٤)

Maka, bacaan panjang bukanlah beban. Seperti kekasih yang tak ingin mengakhiri perbincangannya, demikian pula ruh tidak ingin segera berpisah dari mihrab cinta kepada Allah.

Pandangan Kedokteran dan Psikologi

Waktu Subuh adalah waktu paling strategis bagi tubuh dan jiwa:

Produksi hormon kortisol meningkat secara alami, membantu metabolisme dan antistres

Gerakan sholat menenangkan sistem saraf dan memperkuat sirkulasi darah

Bacaan Al-Qur’an menimbulkan efek gelombang otak alpha dan theta, yang menenangkan dan memperkuat fokus

Dalam psikologi, repetisi dalam ibadah (seperti membaca Yasin 3x) menciptakan kestabilan emosi, mirip metode mindfulness dalam terapi modern. Berjamaah menumbuhkan ketenangan kolektif dan koneksi spiritual bersama.

Sudut Pandang Energi dan Sains Getaran

Bacaan Al-Qur’an memancarkan vibrasi suara yang menyelaraskan energi tubuh. Dalam ilmu fonetik dan bioenergi, struktur ayat-ayat Al-Qur’an mengandung ritme dan resonansi yang membersihkan aura jiwa dan memperkuat ketenangan batin.

Disiarkan Langsung: Dakwah Bukan Riya’

Sebagai bagian dari dakwah digital, kegiatan sholat Subuh berjamaah ini kami siarkan secara langsung melalui platform YouTube dan TikTok resmi pesantren. Tujuannya adalah:

Untuk menghidupkan semangat Subuh berjamaah di tengah masyarakat

Menyebarkan ketenangan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an

Menjadi sarana transparansi dan inspirasi, bukan untuk pamer atau riya’

Sebagaimana firman Allah:

> وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (menceritakannya).” (الضحى: ١١)

Kesimpulan: Syariat yang Bernyawa, Ibadah yang Berdimensi

Kegiatan ini tidak keluar dari:

Fikih yang sah (dengan dalil dan qoul ulama)

Cinta dan syukur ruhani (yang menghidupkan ibadah)

Ilmu modern (yang membuktikan manfaatnya)

Kami teguh atas kebenaran yang berpijak pada ilmu, dan terbuka pada diskusi yang berpijak pada adab. Semoga Allah SWT membuka hati kita untuk saling memahami dan mencintai dalam jalan ibadah.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca