“Saat Dunia Menjeratmu Lewat Video yang Viral: Sepintas Benar, Tapi Tak Seutuhnya”

Timothy Ronald: Pantesan Lo Masih Miskin, Orang Kaya Lakuin Ini Diam-diam! — Cara Jadi Kaya di 2025

💭 “Kamu masih miskin karena mindset-mu. Kalau mau kaya, ikut zaman. Masuk crypto. Kuasai AI. Dunia nggak nunggu kamu.”
Kata-kata itu viral. Disukai, dibagikan, ditelan bulat-bulat. Seolah itu kebenaran mutlak.
Tapi… benarkah begitu caranya hidup?

🕳️ Satu Kalimat Bisa Menyesatkan Jiwa

Kita hidup di zaman di mana satu video pendek bisa mengubah keyakinan, satu influencer bisa menggeser pondasi hidup, dan satu algoritma bisa menghilangkan kepercayaan kita kepada takdir.

Ada yang bilang:

“Kaya itu soal industri. Miskin itu pola pikir. Kuliah itu scam. Kalau nggak ikut teknologi, kamu akan tertinggal dan dimakan zaman.”

Sekilas… terdengar logis.
Tapi jika hati kita masih hidup, kita akan merasa ada yang hilang. Ada sesuatu yang kering, kosong, dan dangkal dalam narasi seperti ini.


💔 Apa yang Salah?

Yang salah bukan semangatnya.
Yang salah adalah meletakkan dunia sebagai pusat dari segala hal, dan mengajarkan bahwa segala nilai hidup bisa diraih lewat strategi, bukan dengan ridha Allah.

Pernahkah kamu bayangkan…

  • Bagaimana rasanya menjadi Bilal bin Rabah, budak hitam miskin yang disiksa, tapi Nabi berkata, “Aku mendengar derap langkahmu di surga.”
  • Atau Abu Hurairah, yang rela lapar demi menuntut ilmu, tapi hadits yang dia rawat menyelamatkan jutaan jiwa.

Apakah mereka tidak “mindset-nya kaya”?
Tidak. Mereka mindset-nya akhirat.


🌙 Solusi yang Hilang dari Video Itu

Video motivasi itu menyemangati kamu untuk kaya…
Tapi tidak menjelaskan bagaimana kaya tanpa menjadi hamba dunia.

Mereka bilang:

“Kalau mau cepat kaya, masuklah ke industri crypto atau AI.”

Tapi Islam mengajarkan:

“Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang saleh.”
(HR. Ahmad)

Nabi ﷺ tak pernah mengajarkan kita jadi orang terkaya,
Tapi mengajarkan kita untuk jadi orang paling bersyukur.


📿 Tasawuf: Jalan yang Tak Terlihat Tapi Menenangkan

Jalan para sufi seperti Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) bukan anti-harta,
Tapi anti kehambaan terhadap harta.

Para mursyidnya mengajarkan:

  • Ambil teknologi — tapi jangan kehilangan dzikir.
  • Ambil rezeki — tapi jangan pernah sombong.
  • Ambil peluang dunia — tapi jangan lupakan tugas akhirat.

📌 Karena dunia bukan tujuan, hanya kendaraan.


🌤️ Jalan yang Lebih Baik: Solusi yang Menyentuh Akal dan Hati

🛤️ Kamu ingin keluar dari kemiskinan?
🌾 Islam tidak melarang. Tapi tuntunannya berbeda:

Narasi VideoSolusi Islami & TQN
Crypto cepat bikin kayaBekerja dengan halal, barokah, dan penuh adab
Miskin = salah mindsetMiskin = ladang sabar & maqam derajat di sisi Allah
Kuliah = buang waktuTuntut ilmu syar’i dan duniawi yang bermanfaat
Teknologi harus dikejarGunakan teknologi sebagai alat dakwah & taqarrub

🌺 Penutup: Jangan Kejar Dunia, Biarkan Dunia Mengejarmu

“Barangsiapa yang niat akhirat, maka dunia akan mengejarnya.
Tapi barangsiapa niat dunia, akhirat akan menjauh.”

— (HR. Tirmidzi)

Kita bukan anti modernitas. Kita hanya rindu keseimbangan.
Rindu kepada hidup yang tak hanya “berhasil”, tapi bermakna.
Tak hanya viral, tapi bernilai.

Kalau kamu merasa kosong walau sudah berusaha keras — mungkin karena hatimu lapar bukan akan uang, tapi akan makna.

Mungkin yang kamu cari bukan seminar bisnis. Tapi majelis dzikir.
Bukan NFT. Tapi nur dari Allah.


Akhirnya…

Mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang tenggelam dalam ilusi dunia.
Dan kita sendiri… jangan sampai menjadi bagian dari ilusi itu.

Kalau kamu benar-benar ingin sukses,
🌹 Maka dekatlah pada Allah. Karena itulah kunci semua rezeki, semua tenang, dan semua makna.


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca