Sahabat Ahli Badar (4): Hamzah bin Abdul Muthalib Radiyallahu ‘Anhu

Singa Allah yang Tak Gentar

Gambar Hanya Ilustrasi

Hamzah bin Abdul Muthalib رضي الله عنه adalah sosok agung yang dikenal sebagai AsadullahSinga Allah. Ia adalah paman Rasulullah ﷺ, namun juga saudara sepersusuan beliau, sekaligus salah satu sahabat terdekat dan paling dicintai. Karakternya tegas, berani, dan penuh kejujuran. Di medan perang, Hamzah adalah sosok menggentarkan yang disegani oleh kawan dan lawan.

Perannya dalam Perang Badar menjadi tonggak awal keagungan jihad fisik di jalan Allah. Dalam usia yang tidak lagi muda, Hamzah menunjukkan bahwa iman dan cinta kepada Rasulullah lebih kuat dari usia dan tenaga.


📚 Biografi Singkat: Dari Pemburu Singa Menjadi Singa Allah

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah putra dari Abdul Muthalib dan Halah binti Wuhayb. Ia tumbuh sebagai laki-laki kuat, pemberani, dan tangguh. Ia adalah ahli memanah, berburu, dan sering menjadi juara dalam pertandingan fisik. Sebelum Islam, ia disegani di kalangan Quraisy karena keberanian dan ketegasannya.

📖 Kisah Masuk Islam

Hamzah masuk Islam setelah mendengar bahwa Abu Jahl telah menghina dan menyakiti Rasulullah ﷺ. Dalam keadaan marah dan tanpa ragu, ia mendatangi Abu Jahl dan memukul kepalanya dengan busur panah hingga berdarah, lalu berkata:

*”Beranikah kau menghinanya padahal aku telah memeluk agamanya?!”

Sejak saat itu, Hamzah menjadi pelindung terang-terangan bagi Nabi dan penopang kekuatan umat Islam yang baru tumbuh.

Hikmah: Terkadang, kemarahan karena kehormatan Rasulullah menjadi pintu hidayah. Hamzah menunjukkan bahwa keberanian dan kecintaan bisa menjadi gerbang keimanan.


⚔️ Peran Besar Hamzah di Perang Badar

Hamzah adalah salah satu pendekar utama dalam Perang Badar. Ketika duel awal dimulai, ia menghadapi Utbah bin Rabi’ah, salah satu petarung paling disegani dari Quraisy. Dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa, Hamzah berhasil menebas Utbah hingga gugur.

Setelah duel itu, Hamzah terus bertempur di barisan depan. Riwayat menyebutkan bahwa belasan musuh tewas di tangannya sendiri. Tubuhnya terluka, namun ia terus bertakbir dan bertempur.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Hamzah adalah sebaik-baik syuhada dan Singa Allah serta Singa Rasul-Nya.” (HR. Al-Hakim)

Hikmah: Keberanian sejati lahir dari cinta kepada kebenaran. Hamzah tidak bertempur demi nama atau pujian, tetapi demi tegaknya agama Allah.


🌍 Kisah-Kisah Inspiratif Luar Badar

📖 Kisah 1: Pembela Pertama Rasulullah secara Terbuka

Sebelum Hamzah masuk Islam, dakwah Nabi berjalan sembunyi-sembunyi. Tapi setelah Hamzah masuk, Islam tampil lebih berani karena Hamzah berdiri di barisan depan membela beliau.

Hikmah: Keberanian satu orang bisa menguatkan langkah seribu orang. Dalam perjuangan, satu jiwa pemberani bisa menjadi penentu perubahan.

📖 Kisah 2: Zuhud Seorang Pahlawan

Meski ia dikenal sebagai pendekar dan bangsawan Quraisy, Hamzah tidak pernah terikat pada dunia. Pakaiannya sederhana. Makannya ringan. Ia tidur di tanah dan tidak pernah menuntut penghormatan.

Hikmah: Kehebatan fisik tidak membuatnya angkuh. Inilah bukti bahwa pahlawan sejati adalah yang mampu menundukkan hawa nafsunya.


🏆 Keutamaan Hamzah bin Abdul Muthalib

  • Rasulullah ﷺ bersabda:“Aku melihat para malaikat memandikan Hamzah di antara langit dan bumi.” (HR. Hakim)
  • Dalam hadits lain, beliau bersabda:“Hamzah adalah pemimpin para syuhada di sisi Allah pada hari kiamat.”
  • Saat wafatnya di Perang Uhud, Rasulullah menangis hebat dan menyebutnya:“Tidak pernah aku sedih atas seseorang seperti kesedihanku atas Hamzah.”

💎 Teladan dari Hamzah untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Keberanian karena iman, bukan karena ego.
  2. Membela Rasulullah di saat tidak ada yang berani.
  3. Mengutamakan akhirat di atas segala kekuatan dunia.
  4. Rendah hati meskipun punya nama besar.
  5. Kecintaan kepada Allah dan Rasul menjadi energi utama perjuangan.

🕯️ Penutup: Syahid, dan Tetap Hidup di Hati Umat

Hamzah bin Abdul Muthalib tidak meninggal di Badar. Namun syahidnya di Uhud menutup catatan hidupnya yang gemilang dengan tinta darah para syuhada. Namun semangatnya tetap hidup dalam setiap jiwa yang mencintai keberanian dan kejujuran.

Semoga Allah menempatkan kita bersama Hamzah di surga, dan memberikan kita hati yang siap membela kebenaran seperti hati beliau.

(Bersambung ke Sahabat Ahli Badar ke-5: Ubaidah bin Al-Harits رضي الله عنه)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca