Sahabat Ahli Badar (5): Ubaidah bin Al-Harits Radiyallahu ‘Anhu

Syahid Pertama dari Bani Hasyim

Gambar Hanya Ilustrasi Ai

Ubaidah bin Al-Harits رضي الله عنه adalah salah satu sahabat paling awal yang masuk Islam dari kalangan Bani Hasyim. Beliau adalah sepupu Rasulullah ﷺ, seorang pejuang tangguh, dan menjadi sahabat pertama dari keluarga Nabi yang gugur sebagai syahid dalam Islam.

Dalam Perang Badar, beliau menjadi simbol pengorbanan suci—meninggalkan segalanya demi agama Allah, dan mengorbankan hidupnya dalam duel pembuka perang yang menentukan arah sejarah umat Islam.


📚 Biografi Singkat: Keluarga Mulia, Hati yang Luhur

Ubaidah adalah putra dari Al-Harits bin Abdul Muthalib, paman Nabi ﷺ. Ia tumbuh dalam keluarga bangsawan Quraisy, namun tidak silau oleh dunia. Sejak awal kenabian, ia mengikuti ajaran Islam secara tersembunyi, hingga akhirnya ikut dalam hijrah ke Madinah.

Di Madinah, Ubaidah menjadi salah satu tokoh yang menguatkan barisan kaum Muhajirin. Ia dikenal sebagai orang yang tenang, penuh hikmah, dan berjiwa pemimpin.


⚔️ Peran di Perang Badar: Duel yang Menggetarkan Langit

Ketika duel tiga lawan tiga dilakukan sebagai pembuka Perang Badar, Quraisy mengutus Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Walid bin Utbah. Rasulullah ﷺ pun memanggil tiga orang dari keluarganya: Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harits.

Ubaidah menghadapi Utbah bin Rabi’ah, pendekar besar Quraisy. Keduanya bertempur hebat. Ubaidah berhasil melukai Utbah, namun juga mendapat tebasan yang parah di kaki. Hamzah dan Ali segera membantu dan menyelesaikan duel.

📖 Kisah Syahidnya Ubaidah

Setelah duel itu, Ubaidah dibawa ke belakang pasukan. Kakinya nyaris putus. Dalam kondisi sekarat, ia tetap tersenyum dan berkata kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, bukankah aku syahid? Bukankah aku telah menunaikan tugasku?”

Rasulullah ﷺ menangis dan menjawab, “Ya, engkau syahid di jalan Allah.”

Ubaidah pun wafat sebagai syuhada pertama dari kaum Muhajirin dalam perang.

Hikmah: Syahid bukan tentang seberapa lama hidup di dunia, tetapi tentang bagaimana kita menyerahkan hidup untuk yang Maha Hidup.


🌍 Kisah Lain tentang Kebesaran Jiwanya

📖 Kisah Keberangkatan ke Badar

Sebelum berangkat, Ubaidah berpamitan kepada keluarganya dengan tenang. Ia berkata:

“Jika aku kembali, aku akan tetap melayani Rasulullah. Jika tidak, maka Allah telah memilih yang terbaik untukku.”

Hikmah: Keberanian tertinggi adalah ketenangan dalam menerima ketetapan Allah.


🏆 Keutamaan dan Penghormatan dari Rasulullah

  • Rasulullah ﷺ bersabda:“Wahai para sahabatku, bersiaplah! Kita akan berperang, dan sesungguhnya aku ingin salah satu dari kalian mendapatkan kedudukan Ubaidah di sisi Allah.”
  • Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ secara khusus mendoakan Ubaidah dalam shalatnya, memuji keberaniannya di hadapan para sahabat.

💎 Pelajaran dari Ubaidah bin Al-Harits

  1. Teguh dalam pilihan iman meski berasal dari keluarga terpandang.
  2. Menjadi pelindung Islam sejak fase awal.
  3. Siap berkorban bahkan dalam duel pertama.
  4. Tenang dalam menghadapi maut, karena yakin akan tempat kembali.
  5. Kesyahidan yang disambut dengan tangis cinta Rasulullah.

🕯️ Penutup: Cahaya Pertama di Langit Para Syuhada

Ubaidah bin Al-Harits adalah lilin pertama yang menyala di jalan jihad fisik Islam. Ia menunjukkan bahwa para syuhada bukanlah orang biasa, tapi mereka yang memilih Allah di atas segalanya. Namanya mungkin tidak sepopuler Ali atau Hamzah, namun ia adalah permata awal dalam mahkota para syuhada.

Semoga Allah menjadikan kita ahli surga bersamanya.

(Bersambung ke Sahabat Ahli Badar ke-6: Abu Hudzaifah bin ‘Utbah رضي الله عنه)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca