Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.
Banyak orang mencari agama untuk mendapatkan kenyamanan, kemudahan, bahkan keselamatan dunia. Tapi dalam manaqib agung yang dibimbing oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, disingkapkan satu makna mendalam:
Agama sejatinya adalah jalan pulang — bukan tujuan dunia, tapi jalan kembali ke asal ruhani kita.

🛤️ Agama: Bukan Sekadar Sistem, Tapi Proses
Agama (dīn) bukan sekadar kumpulan aturan. Ia adalah metode Ilahi untuk menyadarkan manusia: siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali.
Dalam TQN, agama bukan teori. Ia adalah proses ruhani yang aktif:
- Membersihkan hati,
- Menyadarkan kesadaran,
- Mengarahkan perjalanan,
- Mengantarkan ruh kembali ke Cahaya Awal — Nur Muhammad ﷺ.
“Agama itu dibawa oleh Rasulullah ﷺ untuk memproses kita agar sadar dan kembali.”
📖 Al-Qur’an: Peta untuk Membuka Diri
Abuya menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk membedah diri.
Surah pertama: Al-Fatihah — pembuka jalan.
Surah terakhir: An-Nas — penutup yang membimbing kita kembali ke Tuhan manusia, Ilāhin-Nās.
“Kalau digabung: Fatihatun-Nas. Al-Qur’an adalah proses membuka manusia.”
TQN mengajarkan bahwa setiap ayat bukan hanya lafadz, tapi kunci ruhani untuk memahami siapa diri kita di sisi Allah.
🌌 Hidup Bukan Tujuan — Tapi Jembatan
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan.
Harta, jabatan, pujian, bahkan amal sekalipun — semua itu bisa jadi rintangan kalau tidak diproses dengan benar.
Sebab, sebagaimana yang disampaikan Abuya:
“Kalau kita belum sembuh dari diri kita sendiri, belum berdamai dengan batin kita, maka dunia akan makin memberatkan.”
Agama hadir bukan untuk melarang hidup, tapi mengarahkan agar hidup menjadi kendaraan pulang. Hidup dunia tidak salah, tapi jangan tertukar antara jembatan dan tujuan.
✨ Renungan Ruhani
Setiap salik yang benar-benar menapaki jalan agama akan merasakan bahwa inti dari semua ibadah adalah rindu untuk pulang.
Shalat bukan beban, tapi perjumpaan.
Zakat bukan sekadar kewajiban, tapi latihan melepas dunia.
Puasa bukan penderitaan, tapi pembersihan.
Agama adalah cahaya yang menunjukkan arah. Jika dipahami dengan hati, agama akan membawa seseorang kepada Allah, melalui Rasulullah, dengan ruh yang telah dibersihkan oleh cinta.
“Agama bukan beban. Tapi rahmat untuk kembali. Jalan pulang yang dibentangkan oleh Rasulullah ﷺ, untuk setiap jiwa yang mau sadar.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)



Tinggalkan komentar