Api Cinta yang Membakar Sukma

Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.

Ada satu api yang tidak membakar dengan kemarahan, tapi membakar dengan kerinduan.
Itulah api cintanarul mahabah.
Dan bagi para salik thariqah, cinta bukan sekadar rasa. Cinta adalah senjata pembersih ruh, penyaring nafsu, sekaligus jembatan menuju Allah.


🔥 Cinta yang Membakar — Bukan Menenangkan

Dalam manaqib yang disampaikan Abuya, cinta digambarkan bukan sebagai kelembutan semata, tetapi sebagai api yang membakar sukma.
Api ini membakar semua selain Allah, hingga tersisa satu: kehendak untuk pulang.

“Sukma itu harus dibakar oleh cinta. Bukan cinta biasa, tapi cinta karena Allah. Maka ruh akan keluar murni, jernih, tanpa tercampur dunia.”

Cinta semacam ini membuat seseorang tahan dalam ibadah, istiqamah dalam dzikir, kuat menghadapi cobaan, dan sabar dalam kehilangan.


💞 Mahabbah dalam Sudut Pandang TQN

Dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, cinta (mahabbah) bukan sekadar hubungan satu arah.
Cinta yang hakiki adalah saling mencintai antara hamba dengan Allah, bukan hanya mengenal (makrifat), tapi saling mengenalta’aruf ruhani antara sang hamba dengan Kekasih Sejatinya.

“Makrifat itu bukan mengenal, tapi saling mengenal. Mahabbah itu bukan mencintai, tapi saling mencintai.”

Dan tempatnya hanya satu: ruh. Karena jasad hanya tempat sementara. Sedangkan ruh adalah tempat hakikat cinta itu tinggal.


✨ Renungan Ruhani

Kita hidup dalam zaman yang penuh ketergesaan. Cinta jadi barang cepat saji, diperdagangkan dalam syair dan layar. Tapi cinta yang sejati — cinta kepada Allah — adalah api. Ia membakar perlahan, menghanguskan ambisi, membakar kesenangan palsu, dan meninggalkan ruh yang utuh.

Cinta bukan menghiasi hidup dengan keindahan lahiriah, tapi membakar hidup agar yang tersisa hanyalah Dia.
Itulah cinta dalam thariqah.
Dan siapa yang terbakar olehnya, akan menemukan dirinya kembali sebagai makhluk ruhani yang siap pulang ke asal.


“Yang tertinggi dalam agama adalah mahabah. Dan mahabah yang sejati hanya bisa dirasakan oleh ruh yang telah dibakar.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca