Bahagia Itu Ketika Ruh yang Memimpin Hidup

Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.

Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan adalah ketika dunia berada dalam genggaman: harta cukup, keluarga utuh, jabatan terhormat, nama dikenal.
Namun dalam manaqib agung, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf menyampaikan hakikat yang sangat dalam:
“Bahagia itu bukan saat jasad berkuasa, tapi saat ruh yang memimpin.”


🧭 Ruh Memimpin, Dunia Jadi Ringan

Jasad selalu menuntut: ingin dihormati, ingin nyaman, ingin diakui. Tapi ruh sejati hanya menginginkan satu: pulang kepada Allah.
Ketika ruh memimpin, maka dunia bukan lagi beban.
Jabatan bukan tekanan.
Kekayaan bukan kelekatan.
Popularitas bukan tujuan.

“Kalau ruh yang memimpin, hidup jadi ringan. Dunia tidak lagi membebani. Karena tidak ada lagi yang dikejar selain Allah.”


🏔️ Beban Dunia adalah Ujian, Bukan Tempat Berdiam

Abuya menjelaskan dengan perumpamaan yang tajam:
Membawa barang berat ke puncak gunung tentu menyulitkan. Bahkan membawa diri sendiri saja sudah berat.
Begitu pula dalam perjalanan ruhani:

  • Semakin banyak ambisi, semakin berat hidup.
  • Semakin banyak ego, semakin jauh dari kebahagiaan.
  • Semakin banyak “aku”, semakin sulit pulang.

🛤️ Ruh yang Terhubung: Menjadi Khalifah Sejati

Ketika ruh seseorang telah sadar dan terhubung kepada asalnya — yaitu Nur Muhammad ﷺ — maka seluruh kehidupannya akan dipenuhi hikmah, ketenangan, dan kebijaksanaan.
Ia akan menjadi khalifah sejati, bukan karena pangkat, tapi karena ruhnya memancar cahaya.

“Jadi kepala rumah tangga, kepala kantor, bahkan pemimpin umat… semua itu akan indah, jika ruh yang memimpin, bukan jasad.”


✨ Renungan Ruhani

Kebahagiaan yang sejati bukanlah tidak memiliki masalah, tetapi tidak dikuasai oleh masalah.
Dan itu hanya bisa terjadi jika ruh telah bangkit dan mengambil alih kepemimpinan hidup.

Dalam TQN, kebahagiaan bukan dicari — tapi disadari.
Ia muncul saat seseorang:

  • Telah mengenal dirinya,
  • Telah berdamai dengan jiwanya,
  • Dan telah menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah dengan penuh cinta.

Hidup yang dikuasai jasad akan terus gelisah, penuh ketakutan, dan tidak pernah cukup. Tapi hidup yang dipimpin ruh, akan menemukan rasa cukup bahkan dalam keadaan kurang.


“Kita tidak sedang mengejar dunia. Kita sedang menjemput kepulangan. Dan hanya ruh yang bisa menunjukkan jalan itu.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca