Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.
Di tengah pembacaan manaqib, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf memberikan perumpamaan yang sangat dalam: ruh manusia seperti buah kelapa.
Bukan sekadar buah, tapi simbol dari perjalanan spiritual kita menuju kesempurnaan.

🥥 Kelapa: Simbol Diri Manusia
Kelapa tidak langsung menunjukkan isinya. Ia dibungkus dengan serat, dilindungi tempurung, kemudian ada daging putih, dan baru setelah itu terdapat santan.
Namun, santan itu pun bukan akhir — setelah dipanaskan, dimasak, dibakar, muncullah minyak kelapa — itulah esensi paling murni.
“Manusia pun begitu. Ruh itu seperti santan. Dan minyak itulah hakikat ruh sejati yang telah dibakar oleh cinta.”
🔨 Kupas, Parut, Peras — Proses Mujahadah
Seseorang tak akan menemukan jati dirinya sebelum melalui tahapan-tahapan berat:
- Dikupas: Tanggalkan identitas luar.
- Diparut: Hancurkan ego dalam dzikir dan ibadah.
- Diperas: Tahan rasa sakitnya ujian dan mujahadah.
Dari sinilah muncul sukma — ruh yang hidup, ruh yang bangkit dari dalam jasad yang fana.
🔥 Dimasak oleh Cinta Ilahi
Setelah menjadi santan, belum selesai. Santan pun harus dimasak, dipanaskan terus-menerus oleh api. Api itu adalah mahabah — cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dibakar dengan syariat, dibakar dengan tarekat, dibakar dengan zikir yang tidak putus, dibakar dengan ridha terhadap qadha dan qadar.
“Kalau dibakar terus oleh cinta, maka akan keluar itu… minyak. Dan minyak itu tidak akan pernah menyatu dengan dunia lagi. Tidak tercampur. Tidak terkontaminasi.”
✨ Renungan Ruhani
Inilah jalan orang-orang thariqah: jalan pembakaran.
Siapa yang ingin kembali, harus rela dikupas, diparut, diperas, lalu dibakar. Tidak semua kuat. Tapi siapa yang bertahan, akan menemukan dirinya telah menjadi minyak murni — ruh sejati yang tidak akan lagi tercampur dunia.
Minyak itu tetap tenang meski dicampur dengan air, sirup, atau kopi. Begitu pula ruh yang telah disucikan. Ia tidak akan lagi larut dalam kebisingan dunia.
Ruh yang telah dibakar oleh cinta, tidak akan goyah oleh pujian atau cacian. Tidak terangkat oleh jabatan. Tidak jatuh karena kemiskinan. Ia hanya ingin pulang.
“Kalau ruhmu sudah jadi minyak, pergaulan dunia tak akan mencemarinya. Ia tetap jernih. Tetap murni.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)



Tinggalkan komentar