Kembali ke Rasulullah ﷺ adalah Kembali ke Asal Ciptaan

Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.

Dalam manaqib Tuan Syekh Abdul Qodir Jaelani yang disampaikan dengan penuh keheningan dan kekuatan ruhani, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf menyampaikan satu kalimat agung yang mengguncang kesadaran:

“Kita semua berasal dari Sir-nya Rasulullah ﷺ. Maka, pulang kepada Allah adalah pulang kepada Rasulullah.”

Pernyataan ini bukan metafora. Ini adalah landasan ruhani dalam TQN. Sebuah pemahaman mendalam bahwa hakikat ruh manusia berasal dari Nur Muhammad ﷺ — cahaya pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum segala sesuatu.


🌌 Sir Rasulullah: Awal Segala Penciptaan

Dalam berbagai riwayat dan pandangan para sufi, Rasulullah ﷺ adalah makhluk pertama yang diciptakan dari cahaya (nur) oleh Allah. Cahaya ini disebut Nur Muhammad — dan dari nur inilah seluruh makhluk diciptakan, termasuk ruh kita.

Maka ketika seorang salik ingin pulang, ia bukan hanya kembali ke Allah secara transendental, tetapi melewati pintu Nur Muhammad, yang menjadi wasilah (perantara) setiap perjalanan ruhani.

“Mana asal kita? Sir Rasulullah. Mana far’un kita? Kita semua cabang dari cahaya beliau.”


🕋 Pulang Bukan Hanya Mati — Tapi Sadar dan Tersambung

Pulang dalam TQN bukan sekadar meninggal dunia, tapi pulang dengan kesadaran utuh — ruh yang kembali kepada asalnya dengan cinta dan pengenalan.

Seorang salik yang telah menyadari asal penciptaannya, akan menjalani hidup dengan ruh yang terhubung, bukan jasad yang terlunta-lunta.

Ia menyadari bahwa setiap langkah, setiap detak hati, setiap helaan napas — adalah bagian dari perjalanan pulang kepada Rasulullah ﷺ.


✨ Renungan Ruhani

Mereka yang belum sadar asalnya, akan hidup dengan orientasi jasad: mencari kenyamanan, mengejar pujian, memburu dunia. Tapi mereka yang telah mengenal sir Rasulullah ﷺ sebagai sumber penciptaannya, akan hidup dalam kedekatan yang membahagiakan.

Inilah puncak kesadaran ruhani dalam TQN: menyadari bahwa seluruh kehidupan ini hanyalah perjalanan kembali kepada sang Kekasih Allah.

Hidup yang menyatu dengan sir Rasulullah ﷺ bukan berarti meninggalkan dunia, tapi menghadirkan kesadaran ruh dalam seluruh amal duniawi.


“Pulang ke Allah berarti pulang ke Rasulullah. Karena kita diciptakan dari beliau — dan hanya dengan cinta kepada beliau, kita akan diterima kembali.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca