Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.
Dalam kajian manaqib agung ini, Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf memandu para salik memahami perjalanan ruhani melalui simbol-simbol dasar: huruf-huruf hijaiyah. Namun di balik kesederhanaannya, inilah isyarat langit yang menjadi peta perjalanan pulang kepada Allah — sebagaimana diwariskan oleh para wali dalam Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).

1. Alif (ا) – Kesadaran Tauhid dan Fitrah Murni
Alif berdiri lurus, menunjuk ke satu arah. Inilah simbol tauhid — keesaan Allah yang menjadi dasar semua perjalanan ruhani. Bagi salik, Alif juga melambangkan silsilah ruhani yang lurus, dari Rasulullah ﷺ hingga mursyid zaman ini.
Alif adalah awal, sumber, dan arah. Maka siapa yang ingin pulang, harus kembali kepada titik awal: mengenal asal dirinya dan menyambung hubungan kepada mursyid pembimbingnya.
2. Kasrah (ِ) – Pecahkan Ego, Rendahkan Diri
Kasrah adalah tanda baca yang memiring ke bawah — simbol kerendahan, kehancuran ego, dan kepasrahan mutlak. Inilah tahap mujahadah, perjuangan melawan diri sendiri agar terbuka pintu waridat (karunia ruhani).
Seorang salik mesti belajar menghilangkan rasa mampu, merasa pintar, merasa tahu. Karena selama “aku” masih hidup dalam dada, maka cahaya Ilahi belum bisa masuk.
3. Dommah (ُ) – Kebersamaan Ruhani, Jamaah Kekasih Allah
Dommah adalah isyarat berkumpul. Dalam jalan TQN, ini berarti seorang salik tak berjalan sendirian. Ia selalu dalam barisan dzikir, dalam ikatan sanad, bersama para pecinta, bersama para wali, bersama mursyid sejati yang membimbingnya.
Jamaah bukan sekadar fisik yang berkumpul, tapi ruh yang menyatu dalam cinta yang sama — cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
4. Sukun (ْ) – Berhenti dari Segala Hasrat, Menyatu dengan Kehendak Allah
Sukun berarti diam. Tenang. Hening.
Ini adalah maqam tertinggi: fana’ — musnahnya kehendak diri dan hanya tersisa kehendak Allah dalam diri seorang salik. Di sini, tidak ada lagi ambisi. Tidak ada lagi hasrat. Tidak ada lagi keinginan duniawi yang membebani hati.
Yang tinggal hanya Dia. Dan kerinduan abadi untuk kembali kepada-Nya.
🕊️ Renungan Ruhani
Perjalanan ruhani bukanlah tentang menambah banyak ilmu atau memperbanyak amal semata, melainkan tentang mengenali siapa diri ini sebenarnya. Mengenali bahwa kita datang dari Allah, berjalan dalam pengawasan-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.
Setiap huruf yang disebutkan adalah cermin dari proses penyadaran: bahwa kita harus lurus seperti Alif, hancur seperti Kasrah, menyatu seperti Dommah, dan tenang seperti Sukun.
Inilah jalan yang telah ditempuh para wali, dan yang diwariskan oleh Syekh Abdul Qodir al-Jaelani dalam bimbingan para mursyid thariqah.
Jalan yang tidak ramai, tapi terang. Jalan yang tidak mudah, tapi damai. Jalan untuk pulang.
“Tanpa proses ini, tak mungkin pulang kepada Allah.”
— Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf



Tinggalkan komentar