Syariat dan Tarekat – Jalan Cinta Menuju Allah

Disampaikan oleh Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf, Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda (TQN), Tangerang — dalam Majelis Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani, 24 Juni 2025.

Dalam TQN, syariat dan tarekat bukanlah dua jalan yang bertentangan. Syariat adalah fondasi, tarekat adalah pengolahan, dan cinta adalah bahan bakarnya.
Ibadah bukan lagi sekadar kewajiban, tapi menjadi jalan pulang yang dijalani dengan penuh cinta dan kerendahan hati.


🕌 Syariat: Wadah Fisik untuk Menjaga Ketaatan

Syariat adalah bentuk. Ia mengatur tata cara ibadah lahiriah: wudhu, shalat, puasa, zakat. Syariat menjaga agar tubuh tetap sujud, lisan tetap berdzikir, dan waktu tak dihabiskan sia-sia.

Namun, syariat tanpa cinta adalah kulit tanpa isi.
Ia akan terasa kaku, berat, bahkan menjadi beban — jika ruh tidak mengisinya.

“Syariat adalah jalan, tapi harus dijalani dengan cinta. Tanpa cinta, syariat jadi ritual kosong.”


🛤️ Tarekat: Jalan Ruhani yang Membakar dari Dalam

Tarekat bukan mengganti syariat, melainkan menghidupkan batin di dalamnya.
Melalui tarekat, seorang murid belajar menyalakan api cinta itu — hingga setiap sujudnya menjadi tangis rindu, setiap dzikirnya menjadi getaran ruh.

“Tarekat itu syariat yang dibakar oleh cinta. Maka hidup, maka menyala, maka terangkat ke langit.”

Dalam TQN, tarekat bukan aliran baru. Ia adalah jalan ruhani Rasulullah ﷺ yang diwariskan melalui para wali, hingga sampai kepada mursyid yang membimbing kita hari ini.


❤️ Ibadah dengan Cinta, Bukan Kewajiban

Saat ibadah dilakukan karena cinta, bukan sekadar perintah, maka ibadah itu akan mengubah ruh, bukan sekadar menggerakkan jasad.

Tak ada lagi hitung-hitungan pahala. Tak ada lagi rasa berat. Tak ada lagi pertanyaan “kenapa harus ini” — karena ruh sudah mencintainya.

“Jalankan syariat dan tarekat dengan cinta. Bukan karena takut neraka, tapi karena rindu ingin pulang.”


✨ Renungan Ruhani

Banyak orang belajar ilmu syariat, bahkan sampai menguasainya. Tapi belum tentu ia merasakan manisnya ibadah. Sebaliknya, ada yang tak banyak bicara, namun zikirnya membakar, sujudnya menangis, dan hidupnya penuh keheningan rindu.

Inilah keajaiban cinta dalam ibadah.

Syariat adalah wadah. Tarekat adalah pemanas. Cinta adalah apinya. Dan ruh adalah minyak yang akan keluar bila cinta itu menyala.

Dalam TQN, semua ilmu — syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat — tidak akan hidup jika tidak dibakar cinta.


“Ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu hakikat, ilmu makrifat — itu semua baru ilmu. Belum jadi cahaya sebelum dibakar cinta.”
(Abuya KH. Muhammad Amin Yusuf)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca