Sahabat Ahli Badar (10): Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu ‘Anhu

Sang Pemanah Islam Pertama

Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, seorang ahli strategi, pemimpin militer, dan pemanah pertama dalam sejarah Islam. Beliau adalah sahabat yang dijuluki oleh Rasulullah ﷺ sebagai “orang yang paling taat kepada ibunya, namun paling teguh dalam agamanya.”

Ia termasuk dari generasi awal yang masuk Islam, bahkan dalam sepuluh orang pertama yang memeluk Islam melalui ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq.


📚 Biografi Singkat: Darah Quraisy, Hati Langit

Nama lengkap beliau adalah Sa’ad bin Malik bin Uhaib bin Abd Manaf dari Bani Zuhrah, salah satu kabilah Quraisy. Ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah ﷺ melalui ibunda beliau, Aminah binti Wahb.

Sa’ad masuk Islam pada usia muda dan segera menghadapi penentangan keras dari ibunya, Hamnah binti Abi Sufyan. Namun ia tetap teguh, menjawab:

“Wahai Ibu, jika engkau memiliki seratus jiwa dan semuanya keluar satu per satu agar aku meninggalkan Islam, maka aku tidak akan meninggalkannya.”

Hikmah: Sa’ad mengajarkan bahwa ketaatan kepada orang tua tidak boleh melampaui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.


⚔️ Peran di Perang Badar: Pemanah di Barisan Langit

Dalam Perang Badar, Sa’ad membawa keahliannya memanah ke garis depan. Ia termasuk tiga sahabat pertama yang melepaskan anak panah dalam Islam, menjadikan panah sebagai senjata strategis yang menakutkan bagi musuh.

Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

“Panahlah, wahai Sa’ad! Demi ayah dan ibuku, aku korbankan keduanya untukmu.” (HR. Bukhari)

Ini adalah satu-satunya sahabat yang mendapatkan ucapan seperti itu langsung dari lisan Nabi ﷺ.

📖 Kisah: Doa Mustajab Sang Mujahid

Sa’ad dikenal sebagai sahabat yang doanya mustajab. Suatu ketika, seorang munafik mencela dirinya. Sa’ad berkata, “Ya Allah, jika ia berdusta, butakan matanya dan panjangkan umurnya.” Bertahun-tahun kemudian, orang itu menjadi buta dan hidup lama dalam kehinaan.

Hikmah: Keberanian Sa’ad bukan hanya dalam medan perang, tapi juga dalam menjaga kehormatan iman dengan doanya yang tulus.


🌍 Kiprah Besar: Panglima di Qadisiyah

Sa’ad bukan hanya pahlawan Badar, ia juga menjadi panglima besar Islam dalam Perang Qadisiyah, saat Islam melawan Persia. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Islam berhasil mengalahkan Kekaisaran Persia dan membuka jalan bagi Islam di Irak.

Meskipun sakit saat itu, Sa’ad memimpin dengan strategi dan spiritualitas yang tinggi, dan pasukan Islam meraih kemenangan besar.

Hikmah: Kepemimpinan bukan soal fisik, tapi kekuatan iman, visi, dan keberanian.


🏆 Keutamaan Sa’ad bin Abi Waqqash

  • Termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga
  • Pemanah pertama Islam
  • Doanya mustajab
  • Rasulullah ﷺ bersabda:“Ini adalah pamanku, tunjukkan padaku siapa paman kalian.” (HR. Tirmidzi)
  • Panglima besar penaklukan Qadisiyah dan pendiri kota Kufah

💎 Teladan dari Sa’ad bin Abi Waqqash

  1. Ketekunan dalam keimanan meskipun menghadapi tekanan keluarga.
  2. Keahlian dalam seni perang yang dilandasi iman.
  3. Doa yang mustajab karena kebersihan hati dan ketulusan.
  4. Kepemimpinan dalam jihad yang membebaskan bangsa-bangsa.
  5. Kesederhanaan meski punya kuasa besar.

🕯️ Panah yang Melesat Menuju Surga

Sa’ad bin Abi Waqqash bukan hanya sahabat Ahli Badar, tapi panutan dalam kesungguhan iman, doa yang jujur, dan keberanian yang lembut. Panahnya menembus bukan hanya dada musuh, tapi juga langit—hingga Rasulullah ﷺ bersaksi atasnya.

Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya dan para sahabat yang dijanjikan surga.

(Bersambung ke Sahabat Ahli Badar ke-11: Mus’ab bin Umair رضي الله عنه)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca