Sahabat Ahli Badar (8): Abdullah bin Rawahah Radiyallahu ‘Anhu

Sang Penyair, Sang Mujahid

Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه adalah salah satu sosok luar biasa di kalangan sahabat Rasulullah ﷺ. Ia adalah penyair, komandan perang, penghafal Qur’an, dan pejuang Ahli Badar. Kepribadiannya menyatukan kelembutan sastra dengan ketegasan jihad, menjadikannya simbol keindahan iman dalam tindakan nyata.

Ia adalah salah satu dari tiga komandan utama dalam Perang Mu’tah, dan merupakan salah satu dari sedikit sahabat yang menggabungkan keindahan lisan dengan kekuatan tangan.


📚 Biografi Singkat: Anshar yang Mulia

Abdullah bin Rawahah berasal dari suku Khazraj, salah satu suku utama di Madinah. Ia termasuk sahabat Anshar yang masuk Islam sebelum hijrah dan ikut dalam Bai’atul Aqabah, yang menandai awal komitmen kaum Madinah dalam mendukung Nabi ﷺ.

Ia dikenal sebagai sahabat yang senantiasa memotivasi dirinya dan orang lain dengan syair-syair yang menggugah jiwa. Rasulullah ﷺ sendiri mencintai puisinya dan mengakuinya sebagai pembela agama Allah dengan lisannya.


⚔️ Peran di Perang Badar: Jiwa yang Menyala dengan Iman

Sebagai sahabat yang berilmu dan berani, Abdullah bin Rawahah ikut dalam Perang Badar bersama 313 pejuang Islam. Ia bertempur dengan semangat membara, sambil terus mengucapkan bait-bait syair yang mengingatkan para sahabat bahwa surga telah menanti.

📖 Kisah: Syair Menjelang Pertempuran

Disebutkan dalam riwayat, sebelum perang dimulai, Abdullah bin Rawahah berdoa dan berkata:

“Ya Allah, jika esok aku terbunuh, maka terimalah diriku sebagai syuhada dan jadikan darahku sebagai penebus atas segala dosaku.”

Kemudian ia membacakan syair:

“Wahai jiwa, turunlah engkau dalam ridha atau terpaksa, Jika manusia telah keluar dan maju, Mengapa engkau justru memilih duduk lemah?”

Hikmah: Abdullah mengajarkan bahwa bicara iman harus dibuktikan dengan tindakan. Bahkan syair pun berubah menjadi senjata spiritual dalam perang.


🌍 Kiprah Luar Badar: Jihad Lisan dan Fisik

📖 Kisah di Perang Mu’tah

Dalam Perang Mu’tah, Rasulullah ﷺ menunjuk Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah sebagai komandan berturut-turut. Ketika dua komandan sebelumnya gugur, Abdullah mengambil panji dengan tangannya yang gemetar.

Ia berkata kepada dirinya sendiri:

“Wahai jiwa, turunlah atau engkau akan aku paksa!”

Lalu ia maju dan bertempur hingga syahid.

Hikmah: Abdullah adalah simbol dari perjuangan melawan keraguan diri. Ia berbicara kepada jiwanya, menundukkannya dengan keyakinan akan janji Allah.

📖 Menulis dan Menghidupkan Semangat Umat

Di luar medan perang, Abdullah bin Rawahah sering ditugaskan Rasulullah untuk menyampaikan khutbah, menyusun syair, dan mendidik masyarakat Madinah dengan kebijaksanaan. Ia juga dikenal sebagai penulis wahyu.


🏆 Keutamaan Abdullah bin Rawahah

  • Termasuk dalam daftar 70 sahabat yang paling utama dari kalangan Anshar
  • Rasulullah ﷺ bersabda:“Puisi yang ditulis oleh Ibnu Rawahah lebih tajam daripada panah musuh.”
  • Termasuk Ahli Badar yang dijanjikan surga
  • Syahid dalam Perang Mu’tah sebagai pemimpin pasukan

💎 Teladan dari Abdullah bin Rawahah

  1. Gabungkan seni dan iman untuk menegakkan kebenaran
  2. Jangan biarkan keraguan diri menghalangi pengabdian kepada Allah
  3. Bicara yang indah harus ditegaskan dengan tindakan nyata
  4. Pemimpin sejati bukan yang bebas dari rasa takut, tetapi yang menundukkan ketakutan dengan iman
  5. Jiwa yang disemangati dengan syair Qur’ani akan jadi pelita umat

🕯️ Suara Syair di Langit Para Syuhada

Abdullah bin Rawahah bukan hanya sahabat Nabi, tapi juga suara ruhani di antara para sahabat, yang mengajarkan bahwa iman bisa hidup dalam kata, lalu menyala dalam tindakan.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang mampu berbicara dan bertindak seperti beliau: penuh semangat, ikhlas, dan selalu memotivasi diri menuju Allah.

(Bersambung ke Sahabat Ahli Badar ke-9: Abu Dujanah Simak bin Kharasyah


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca