Sahabat Ahli Badar (9): Abu Dujanah Simak bin Kharasyah Radiyallahu ‘Anhu

Sang Pemilik Ikat Kepala Merah

Abu Dujanah Simak bin Kharasyah رضي الله عنه adalah sahabat yang dikenal karena keberaniannya yang luar biasa dan penampilan khasnya di medan perang: ikat kepala merah. Bila ia mengenakannya, itu tandanya ia siap untuk bertempur tanpa rasa takut, hingga titik darah penghabisan.

Ia adalah pejuang tangguh dari kalangan Anshar, dan termasuk dalam barisan 313 sahabat Ahli Badar yang dipilih Allah untuk menjadi benteng pertama Islam di medan jihad besar pertama dalam sejarah.


📚 Biografi Singkat: Anshar Pemberani dari Suku Aus

Nama lengkap beliau adalah Simak bin Kharasyah bin Lu’ay al-Ansari al-Ausi. Ia berasal dari suku Aus di Madinah dan masuk Islam sebelum Perang Badar. Keislamannya disertai kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah ﷺ dan keberanian yang mencengangkan kawan maupun lawan.

Abu Dujanah bukan hanya petarung. Ia adalah pejuang yang membawa kehormatan dan disiplin ke dalam barisan kaum Muslimin.


⚔️ Peran di Perang Badar: Keberanian yang Tidak Tertandingi

Dalam Perang Badar, Abu Dujanah hadir sebagai salah satu pejuang yang paling menonjol. Dengan mengenakan ikat kepala merahnya yang terkenal, ia maju ke medan laga dan tidak pernah mundur selangkah pun.

📖 Kisah: Ketika Abu Dujanah Memakai Ikat Kepala Merah

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika Abu Dujanah mengikat kepalanya dengan sorban merah, para sahabat berkata, “Abu Dujanah telah mengenakan ikat kematian.” Artinya, ia telah bersiap untuk berjuang tanpa mundur, sampai menang atau syahid.

Dalam duel dan serangan jarak dekat, Abu Dujanah selalu berada di barisan depan. Ia tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki strategi dan keberanian tinggi.

Hikmah: Abu Dujanah mengajarkan bahwa keberanian adalah kesiapan total untuk menyerahkan segalanya di jalan Allah, termasuk nyawa, tanpa banyak bicara—cukup dengan tindakan.


🌍 Kisah Lain: Ujian Akhlak di Perang Uhud

Dalam Perang Uhud, Rasulullah ﷺ memberikan pedang miliknya sendiri kepada Abu Dujanah. Tapi sebelum itu, Rasulullah bertanya:

“Siapa yang akan mengambil pedang ini dengan haknya?”

Banyak sahabat yang mengangkat tangan, tapi Rasulullah terus menahan. Hingga Abu Dujanah bangkit dan berkata:

“Aku akan ambil pedang ini dan menebaskannya ke wajah musuh hingga ia bengkok, atau aku sendiri yang gugur.”

Rasulullah pun menyerahkan pedangnya.

Saat pertempuran berlangsung, Abu Dujanah melihat seorang wanita Quraisy bernama Hind binti ‘Utbah yang sedang menyemangati kaum musyrikin. Ia hendak menebasnya, tapi ia mundur. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab:

“Aku tidak mau mengotori pedang Rasulullah dengan darah seorang wanita.”

Hikmah: Keberanian sejati selalu dibarengi akhlak mulia. Abu Dujanah tahu kapan harus menebas dan kapan harus menahan.


🏆 Keutamaan dan Pengakuan Rasulullah ﷺ

  • Rasulullah ﷺ memberi pedang pribadi kepada Abu Dujanah sebagai tanda kepercayaan
  • Dikenal oleh para sahabat sebagai simbol keberanian dan kecepatan di medan perang
  • Diberi gelar oleh para sahabat: “Orang yang tak pernah takut pada kematian.”
  • Termasuk Ahli Badar dan dijanjikan ampunan oleh Allah

💎 Pelajaran dari Abu Dujanah bin Kharasyah

  1. Keberanian adalah kesiapan untuk mati, bukan untuk membunuh.
  2. Ikat kepala merah adalah simbol pengabdian total, bukan kesombongan.
  3. Mengendalikan kekuatan lebih mulia daripada memamerkannya.
  4. Akhlak harus tetap dijaga bahkan di tengah panasnya medan perang.
  5. Berani tanpa iman adalah liar. Berani karena iman adalah kemuliaan.

🕯️Ikat Kepala Merah yang Abadi

Abu Dujanah bukan sekadar pendekar. Ia adalah lambang pengorbanan sejati—orang yang mengubah keberanian menjadi ladang pahala, dan menjadikan setiap langkahnya di medan jihad sebagai amal menuju surga.

Semoga Allah mengumpulkan kita bersamanya dan para Ahli Badar di taman-taman surga-Nya.

(Bersambung ke Sahabat Ahli Badar ke-10: Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه)


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca