Menyambut 1 Muharram 1447 H: Tahun Baru Ruhani, Dengan Tauhid dan Dzikir

Malam ini, kami memulai tahun baru Hijriah bukan dengan pesta atau hura-hura…
Tapi dengan tunduk, diam, dan dzikir.

Kami membaca Ayat Kursi 360 kali, karena di dalamnya terhimpun cahaya tauhid yang memagari jiwa.
360 — bukan angka sembarangan — ia melambangkan seluruh sendi diri, seluruh arah kehidupan, seluruh hari yang akan kami lalui di tahun ini.
Dan kami ingin,
agar setiap sendi itu dilindungi oleh kalam Allah,
agar setiap langkah kami berada dalam penjagaan-Nya.

Setelahnya kami berzikir:
“Lā ilāha illā Allāh”
Kami ulangi…
Bukan sekadar lisan, tapi dari dalam dada, dari nafas yang mengalir, dari jiwa yang ingin kembali.
Kami ingin mengingat bahwa selain Allah, semuanya fana.
Jabatan, rencana, harta, dan bahkan umur…
Tak ada artinya tanpa Allah.

Di akhir, kami menengadahkan tangan…
Bukan untuk meminta dunia,
Tapi agar Allah membimbing langkah kami di tahun yang baru ini.

Wahai Allah,
Bukan tahun baru yang kami cari,
Tapi hati yang baru
Hati yang lebih lembut, lebih sadar, lebih dekat kepada-Mu.
Jadikan kami hamba yang terjaga, bukan hanya dari gangguan luar,
tapi juga dari kelalaian dalam.

Wahai Allah,
Berikan kami tahun yang penuh cahaya,
Bersama guru kami,
Bersama orang-orang yang mencintai-Mu,
Bersama dzikir yang terus hidup,
Sampai ruh ini Engkau panggil dengan kalimat
“Lā ilāha illā Allāh”


Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya adalah seorang jamaah dari Abuya KH. Amin Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kampung Kandang. Di bawah bimbingan beliau, saya belajar menapaki jalan Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)—sebuah jalan ruhani yang menuntun hati untuk selalu hadir bersama Allah dalam setiap detik kehidupan.

Perjalanan ini bukan sekadar belajar ilmu, tetapi juga mendidik hati, membentuk adab, dan menyelami makna kehidupan sejati. Di pesantren, Abuya mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya dihafal, tapi harus dihayati dan diamalkan. Dengan pendekatan thariqah yang halus namun dalam, saya belajar untuk memperbaiki diri, mengenal Tuhan, dan mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta.

Melalui website ini, saya ingin mendokumentasikan perjalanan spiritual saya—bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi. Barangkali ada secercah hikmah yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang sedang mencari jalan menuju-Nya.

Let’s connect

Eksplorasi konten lain dari Langkah Sunyi di Jalan Pulang

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca