Sholawat Qubro adalah untaian kemuliaan yang tak hanya terdiri dari lafaz-lafaz indah, tetapi memuat gelombang cinta, penyaksian ruhani, dan limpahan cahaya bagi siapa yang membacanya dengan hadir rasa. Di antara lafaz yang paling sering diulang dalam sholawat ini adalah kalimat “أَلْفُ أَلْفِ صَلاَةٍ وَأَلْفُ أَلْفِ سَلاَمٍ” – sejuta sholawat dan sejuta salam atas junjungan Nabi Muhammad ﷺ.
Kalimat ini tidak bisa dipahami hanya sebagai angka. Ia adalah simbol dari keluasan cinta, pengagungan tak terhingga, dan kerinduan ruhani yang tak mengenal ujung. Kalimat ini seperti gelombang yang terus-menerus menggulung ke hadrah Rasulullah ﷺ, menyampaikan rasa yang tak bisa cukup diwakili oleh satu salam atau satu pujian saja.
Secara bahasa, “أَلْفُ أَلْفِ” berarti seribu ribu, yang berarti satu juta. Maka, lafaz lengkapnya adalah:
“Sejuta sholawat dan sejuta salam atasmu, wahai Sayyid al-Mursalin…”
Namun makna sejati dari jumlah ini bukan dalam angka literalnya, melainkan pada kedalaman niat dan keluasan rasa di baliknya. Satu juta di sini adalah simbol dari kesempurnaan cinta yang terus dilipatgandakan. Bagi pencinta sejati Rasulullah ﷺ, satu pujian saja belum cukup. Ia ingin mengulanginya lagi, dan lagi, dan lagi, hingga nafas terakhirnya hanya berisi sholawat.
Dalam rasa, lafaz ini adalah bentuk dzikir yang berlapis. Sholawat adalah pancaran rahmat Allah, dan salam adalah limpahan penjagaan dan keamanan. Ketika seorang salik membacakan lafaz ini dengan hadir rasa, maka sejatinya ia sedang membuka pintu-pintu tajalli: cahaya yang turun ke dalam hatinya lewat jalur mahabbah. Setiap “ألف” pertama mewakili dzikir lisan, “ألف” kedua dzikir qalb, dan jika terus diulang dalam kesadaran, ia menjadi dzikir sirr – dzikir rahasia hati yang tak terdengar oleh telinga.
Bagi ahlul rasa, setiap lafaz “أَلْفُ أَلْفِ” adalah lompatan maqam. Seolah ia berkata:
Ya Rasulullah, aku tidak puas hanya memujimu dalam satu maqam. Aku ingin mengirim sholawat dari maqam syari’at, maqam thariqat, maqam hakikat, hingga maqam makrifat. Dari nafasku yang kasar, hingga ke lubuk ruhku yang paling halus, aku ingin semuanya bersholawat padamu.
Lafaz ini juga membentuk pola irama spiritual. Ia berfungsi seperti gelombang ruhani yang menghantarkan hati dari alam mulk menuju alam malakut dan sidrah. Dan pengulangan lafaz ini dalam Sholawat Qubro bukanlah pengulangan kosong, tapi setiap lafaznya adalah lontaran cinta, seruan rindu, dan isyarat syuhud (penyaksian). Ia menjadi kendaraan rasa yang membawa kita menuju Hadrah Muhammadiyah.
Bagi mereka yang telah memasuki maqam cinta yang dalam, membaca kalimat ini tak ubahnya meneguk mata air surga: sejuk, manis, dan menenangkan. Bahkan kadang hanya dengan mengucapkan satu kali “أَلْفُ أَلْفِ صَلاَةٍ وَأَلْفُ أَلْفِ سَلاَمٍ”, ruh telah merasa kenyang oleh cahaya. Tapi salik tak ingin berhenti. Ia ingin terus mengucapnya. Karena dalam setiap ucapannya, hatinya bersujud.
Sebagaimana para wali menyebutkan, bahwa sholawat bukan sekadar amal, tapi perjalanan. Dan dalam perjalanan menuju Rasulullah ﷺ, lafaz ini adalah untaian doa sekaligus kendaraan. Karena ketika kita mengucapkannya, sejatinya kita sedang mengetuk pintu hadrah beliau ﷺ – bukan hanya dari lisan, tetapi dari qalb, sirr, dan ruh.
Akhirnya, lafaz “أَلْفُ أَلْفِ صَلاَةٍ وَأَلْفُ أَلْفِ سَلاَمٍ” dalam Sholawat Qubro adalah pengakuan: bahwa cinta kami terlalu besar untuk diungkap hanya satu kali. Bahwa rindu kami terlalu dalam untuk dijelaskan dalam satu salam. Maka kami ulangi sejuta kali. Sejuta kali sholawat, sejuta kali salam – agar kelak, ketika ruh kami bertemu ruhmu, wahai Rasulullah, kami telah cukup membawa bekal: cinta yang tak habis-habis.




Tinggalkan komentar